12/07/2016
ETIKA DALAM KOMUNITI PERKERISAN
Sebagaimana halnya dengan cabang budaya lainnya, dunia perkerisan pun mempunyai beberapa kebiasaan, aturan, norma, tata kesopanan, dan etika yang berkaitan dengan adat istiadat setempat.
Bila ingin suatu ketika kita bersama dengan komuniti perkerisan, pembelajaran etika ini dapat menjadi bekal yang berharga, selain masalah eksoteri dan isoterinya (kasat dan tidak kasat mata)
1. Melihat bilah keris
Dalam suatu pertemuan yang dihadiri lebih dari dua orang penggemar keris, melihat bilah keris yang bukan miliknya juga ada aturannya.
Aturan Pertama adalah minta izin dari pemilik keris itu. Jika Anda terus mengambilnya, mengeluarkan bilah keris itu dari sarungnya (warangkanya) dan mengamati bilahnya, besar kemungkinan akan menyinggung perasaan sang pemilik. Seolah-olah Anda telah mengabaikan si pemilik yang hadir disitu.
Bila telah mendapat izin dari pemiliknya, maka Aturan Kedua adalah melolos / melepasksn pusaka bukan menghunus pusaka. Caranya pegang bagian pangkal batang sarung dengan tangan kiri, posisi tangan menghadap keatas, gunakan tangan kanan untuk memegang handle atau hulu keris. Tekankan ibujari tangan kanan pada sampir sarung, sambil perlahan2 menggerakkan tangan kiri keatas sehingga sarung itu bergerak naik, sementara tangan kanan tetap tidak bergerak. Proses ini dinamakan melolos / melepaskan pusaka. Sebaliknya bila kita mencabut keris itu dari sarung, itu dinamakan menghunus pusaka.
Setelah keris terlepas dari sarungnya, maka Aturan Ketiga adalah meletakkan sarung pada tempat yang selamat. Sedangkan bilah keris di tangan kanan di angkat setinggi p**i kanan atau kening atau telinga kanan sebagai cara penghormatan kepada mpu / pandai pembuat keris itu sekaligus penghormatan kepada pemilik keris itu.
Sesudah gerak penghormatan sudah dilakukan, maka Aturan Keempat dalam mengagumi dan mengamati bilah, ujung bilah diusahakan agar tetap menghadap keatas. Jagalah jangan sampai ujung bilah itu menghadap pada seseorang yang hadir disitu.
Untuk melihat pamornya, maka keris lebih sesuai jika diletakkan secara serong, agar ujung keris tidak menuju ke arah orang lain, maka Aturan Kelima yaitu ujung bilah dapat ditempatkan pada ujung kuku ibujari tangan kiri.
Dalam memperhatikan pamor pada bilah, maka sebagai Aturan Keenam adalah jangan menyentuh atau mengelap dengan jari tangan kiri pada bilah itu, apalagi me-ninting (menjentik dengan jari) untuk mengetahui bunyinya.
2. Menyarungkan keris
Bila dalam meloloskan stau mrlepaskab keris ada aturannya, maka dalam hal menyarungkan kembali pun ada aturannya.
Aturan Pertama, bila Anda sebagai orang yang melolos pusaka itu, maka Anda jugalah yang wajib menyarungkan kembali. Prosesnya mirip dengan melolos pusaka, hanya saja dalam hal ini dibalik yaitu tangan kiri memegang sarung dan tangan kanan memegang bilah. Perlahan2 masukan bilah ke mulut sarung kira-kira 2 cm, lalu gerakan sarung ke bawah dengan tangan kiri untuk menyarungi keris itu.
Dalam Aturan Kedua ini, tangan kanan yang memegang bilah harus tetap tidak bergerak.
3. Menyerahkan keris
Aturan Pertama, selalu gunakan tangan kanan sebagai tangan yang aktif dalam menyerahkan atau menerima keris itu. Bila keris itu diketahui bersama sebagai keris yang istimewa, maka lebih baik jika serah terima menggunakan kedua belah tangan (kanan dan kiri aktif).
Usahakan saat serah terima keris dalam keadaan dalam warangkanya. Secara terperinci proses serah terima adalah sebagai berikut:
Jika Anda hendak memberikan kepada orang yang lebih tua atau dihormati. Peganglah sarung keris diujung batangnya, sehingga beliau akan menerima di tengah atau di pangkal batang sarung.
Jika Anda hendak memberikan kepada orang yang lebih muda Peganglah sarung keris di pangkal batangnya, sehingga yang menerima akan memegang ujung batangnya.
Jika Anda hendak menerima dari orang yang lebih tua atau dihormati. Terima sarung keris itu pada ujung sarungnya, karena beliau menyerahkannya dengan memegang pangkal batangnya.
Jika Anda hendak menerima dari orang yang lebih muda, terimalah sarung keris itu di pangkal batangnya, karena dia akan memegang ujung batang sarung tersebut.
Jika Anda hendak menyerahkan/menerima dari teman sebaya, bolreh lebih fleksibel sesuai dengan karakteristik teman Anda
Jika serah terima keris dalam keadaan tanpa sarung (telanjang), maka yang dipergunakan adalah telunjuk dan ibu jari tangan kanan dengan cara memicit erat-erat di dekat pendokoknya. Yang akan menerima nanti akan memegang hulu atau handle-nya yang dibagian bawah. Khusus yang ini tidak ada aturan tua dan muda alias semua sama.
4. Pantangan
Meskipun Anda merasa sebagai seorang ahli, tetapi dalam komuniti keris dilarang untuk memberikan penilaian buruk pada keris yang bukan milik Anda. Bagi orang Jawa, tingkat ketersinggungannya akan tinggi apabila ada orang lain men-cacat (menjelek-jelekan) keris miliknya.
Pusaka keris bukanlah barang dagangan, sehingga untuk memilikinya agar diperhalus dengan kata meminang atau memahar dengan mas kawin senilai tertentu. Bagi orang Jawa, keris memiliki jodohnya masing-masing, sehingga apabila tidak cocok dapat dikembalikan kepada orang yang telah menerima pinangan itu.
COPY PASTED