ZH Archery

ZH Archery Kami menguruskan lapang sasar percuma untuk aktiviti memanah buat semua umat baginda Nabi Muhammad SAW ��.

Yuran nya adalah anda perlu bersolawat sahaja ke atas baginda.

# anda boleh bawa Busur dan peralatan memanah anda sendiri.

https://www.facebook.com/share/1AaeBDVPi8/?mibextid=wwXIfr
18/04/2026

https://www.facebook.com/share/1AaeBDVPi8/?mibextid=wwXIfr

Setiap orang, pada akhirnya, pernah kalah oleh pikirannya sendiri. Bukan karena dunia terlalu keras, atau orang lain terlalu kejam, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya terus berbicara tanpa henti. Pikiran itu seperti ruang yang tidak pernah benar-benar sepi. Ia mengulang kejadian, memperbesar luka, dan diam-diam membentuk cerita yang belum tentu nyata.

Ada hari-hari ketika satu hal kecil berubah menjadi sesuatu yang terasa begitu besar. Sebuah kata yang terucap sepintas, sebuah sikap yang tidak sepenuhnya dipahami, perlahan tumbuh menjadi beban yang memenuhi dada. Pikiran mulai merangkai kemungkinan, menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan, hingga akhirnya menciptakan kesedihan yang terasa begitu nyata, seolah-olah semua itu benar-benar terjadi.

Padahal, tidak semua yang ada di dalam kepala adalah kenyataan. Sebagian hanyalah bayangan yang diberi ruang terlalu luas. Namun anehnya, manusia sering kali lebih percaya pada apa yang ia pikirkan daripada apa yang benar-benar ada. Ia tenggelam dalam narasinya sendiri, menghidupkan kembali luka yang seharusnya sudah mulai sembuh, hanya karena ia tidak pernah benar-benar berhenti memikirkannya.

Di situlah kekalahan itu terjadi. Bukan pada peristiwa, tetapi pada cara kita terus memeliharanya di dalam pikiran. Kesedihan menjadi panjang bukan karena ia tidak bisa selesai, tetapi karena ia terus diberi tempat untuk tinggal. Dan tanpa disadari, hati menjadi lelah oleh sesuatu yang sebagian besar diciptakannya sendiri.

Mungkin manusia tidak pernah benar-benar bisa menghentikan pikirannya. Tapi ia bisa belajar untuk tidak selalu mempercayainya. Ada jarak yang bisa diciptakan, sekecil apa pun, untuk melihat bahwa tidak semua yang terasa berat harus diikuti. Dan dari jarak itulah, perlahan, ia mulai menang.

https://www.facebook.com/share/1BuimZbbLQ/?mibextid=wwXIfr
02/04/2026

https://www.facebook.com/share/1BuimZbbLQ/?mibextid=wwXIfr

Tiga Kekuatan Dalam Menghadapi Ujian

Abu Darda r.a. pernah berpesan:

Ada tiga perkara yang menjadi kekuatan bagi seorang insan dalam menghadapi perjalanan hidupnya.

"Jangan engkau mengeluhkan musibah yang menimpa.

Jangan engkau menceritakan kesakitan yang engkau rasai.

Dan jangan engkau menyucikan dirimu dengan lidahmu sendiri."

~

Hakikatnya, semua kekuatan itu berpunca dari satu sumber iaitu makrifat kepada Allah.

Apabila seorang hamba mengenal Allah, dia akan memahami bahawa tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya.
Segala yang berlaku di alam ini, pada hakikatnya datang dari Tuhan Yang Satu.

Maka, apabila seseorang mengeluh atas musibah, atau terlalu meluahkan kesakitannya kepada makhluk, seakan-akan dia sedang mempersoalkan aturan Tuhan yang Maha Sempurna.

Padahal, Dialah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.

~

Maka para auliya’ memberi peringatan tentang hal ini dengan penuh kesungguhan.

Al Quthb Al Ghauts Syeikh Abdul Qadir al-Jilani rahimahullah berpesan,

Takutlah kepada Allah.
Dan teruslah takut kepada-Nya.

Ingatlah Allah.
Dan jangan pernah berpaling daripada-Nya.

Berwaspadalah…
Kerana kebanyakan bala yang menimpa manusia, berpunca daripada keluhan mereka terhadap Tuhan sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang mengeluh, sedangkan yang mentadbir hidupnya adalah Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Adil, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya?

~

Maka jagalah hatimu dari mengeluh.

Walau seberat mana ujian yang datang, walau sesakit mana yang dirasakan, tahanlah lidah dari mengadu kepada selain Allah.

Kerana di situlah letaknya adab seorang hamba.
Dan di situlah terbukanya pintu makrifat.

Fahamilah akan perkara ini.

https://www.facebook.com/share/17mRfLxXxE/?mibextid=wwXIfr
11/03/2026

https://www.facebook.com/share/17mRfLxXxE/?mibextid=wwXIfr

Dalam perjalanan hidup manusia, banyak orang membayangkan bahwa kemuliaan hanya dapat dicapai melalui amal yang sangat besar atau ilmu yang sangat luas. Kita sering melihat orang yang dihormati karena kecerdasannya, atau dipuji karena banyaknya ibadah yang ia lakukan. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, karena ilmu dan amal memang merupakan jalan penting dalam kehidupan spiritual. Namun ada dimensi lain yang sering tidak terlalu disadari, yaitu kualitas hati yang menghidupkan semua perbuatan manusia.

Dalam banyak kisah kehidupan, justru orang orang yang hatinya lembut sering memiliki pengaruh yang sangat besar bagi orang di sekitarnya. Mereka mungkin tidak dikenal sebagai orang yang paling pandai, atau yang paling banyak berbicara tentang agama. Tetapi kehadiran mereka membawa ketenangan, memberi harapan, dan membuat orang lain merasa dihargai. Dari sini manusia mulai memahami bahwa kedudukan seseorang tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal atau luasnya pengetahuan, tetapi juga oleh kejernihan hati yang tercermin dalam sikap hidup sehari hari.

1. Kemurahan Hati Membuka Pintu Keberkahan

Kemurahan hati adalah kemampuan untuk memberi tanpa dihantui rasa kehilangan. Orang yang pemurah memahami bahwa apa yang ia miliki tidak sepenuhnya miliknya. Ia melihat harta sebagai amanah yang dapat mengalir kepada orang lain yang membutuhkan. Secara psikologis, kemurahan hati juga membebaskan seseorang dari ketakutan terhadap kekurangan. Ketika seseorang terbiasa memberi, ia merasakan kelegaan batin yang membuat hidupnya terasa lebih luas dan penuh makna.

2. Kerendahan Hati Membebaskan Manusia Dari Kesombongan

Kerendahan hati adalah sikap batin yang membuat seseorang tidak merasa lebih tinggi dari orang lain. Ia menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing. Dalam kehidupan sosial, kerendahan hati membuat seseorang mudah diterima oleh siapa pun. Ia tidak menciptakan jarak dengan orang lain melalui kesombongan, tetapi membangun kedekatan melalui kesederhanaan sikapnya. Dari sinilah muncul hubungan yang lebih tulus dan hangat dalam kehidupan manusia.

3. Kedermawanan Menghidupkan Rasa Kepedulian Sosial

Ketika seseorang memiliki kebiasaan bersedekah, ia sebenarnya sedang melatih dirinya untuk tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Kedermawanan membuka mata seseorang terhadap realitas sosial di sekitarnya. Ia mulai melihat bahwa ada banyak orang yang membutuhkan bantuan, perhatian, dan dukungan. Dalam masyarakat yang penuh persaingan, kedermawanan menjadi cahaya yang mengingatkan manusia bahwa hidup tidak hanya tentang mengumpulkan, tetapi juga tentang berbagi.

4. Keluhuran Akhlak Menjadi Cahaya Bagi Lingkungan

Akhlak yang baik memiliki kekuatan yang sering tidak disadari oleh banyak orang. Seseorang yang berbicara dengan lembut, bersikap adil, dan memperlakukan orang lain dengan hormat dapat menciptakan suasana yang lebih damai di sekitarnya. Dalam kehidupan sosial, keluhuran akhlak sering menjadi inspirasi yang menggerakkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tanpa banyak kata, sikap yang baik dapat mengajarkan nilai nilai kemanusiaan yang lebih kuat daripada nasihat panjang.

5. Kedudukan Tinggi Lahir Dari Hati Yang Bersih

Ketika kemurahan hati, kerendahan hati, kedermawanan, dan keluhuran akhlak tumbuh dalam diri seseorang, ia perlahan membangun kedudukan yang sangat mulia dalam kehidupan. Kedudukan ini tidak selalu terlihat dalam bentuk penghargaan duniawi, tetapi terasa dalam cara orang lain memandangnya dengan penuh hormat dan kehangatan. Ia menjadi sosok yang kehadirannya membawa kebaikan, meskipun amal yang terlihat tidak selalu besar. Dalam keadaan seperti ini, manusia mulai memahami bahwa hati yang bersih sering menjadi jalan yang lebih cepat menuju kemuliaan daripada sekadar kebanggaan pada amal dan ilmu.

Sekarang renungkan satu pertanyaan yang mungkin akan membuat kita memandang diri sendiri dengan lebih jujur

Jika kedudukan tertinggi di hadapan Tuhan ternyata lebih dekat kepada orang yang hatinya lembut daripada kepada orang yang hanya mengandalkan banyaknya amal dan ilmu, apakah selama ini kita lebih sibuk memperindah amal kita atau justru memperindah hati kita?

https://www.facebook.com/share/p/1CUMRGM5zU/?mibextid=wwXIfr
28/02/2026

https://www.facebook.com/share/p/1CUMRGM5zU/?mibextid=wwXIfr

Ada jiwa-jiwa yang berjalan di dunia dengan luka yang tak pernah benar-benar terlihat. Mereka memikul beban sunyi yang tak terucap, namun tetap menata langkah seolah tak ada yang retak di dalamnya. Bukan karena mereka tidak merasakan sakit, melainkan karena mereka telah berdamai dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu memberi kelegaan yang diharapkan.

Bagi jiwa semacam itu, penderitaan bukan alasan untuk berhenti mencintai kehidupan. Justru dari luka, mereka belajar tentang kedalaman makna; dari kehilangan, mereka mengerti arti kehadiran. Ada ketabahan yang lahir bukan dari ketiadaan duka, tetapi dari kesediaan untuk tetap hidup bersama duka itu tanpa menyerah pada keputusasaan.

Mereka mengerti bahwa kebahagiaan bukanlah kondisi tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk tetap menyalakan cahaya di tengah gelap. Senyum yang terukir di wajah mereka bukan topeng, melainkan bentuk keberanian yang paling halus: keberanian untuk tetap berharap ketika alasan untuk putus asa terasa lebih banyak.

Dalam keheningan batin, mereka menemukan kekuatan yang tidak riuh. Mereka menyadari bahwa hidup bukan tentang menghindari luka, tetapi tentang bagaimana menjadikan luka sebagai jalan p**ang menuju kebijaksanaan. Dan dari sanalah, keindahan jiwa perlahan tumbuh tenang, dalam, dan tak mudah goyah.

https://www.facebook.com/share/183BLayPQt/?mibextid=wwXIfr
27/02/2026

https://www.facebook.com/share/183BLayPQt/?mibextid=wwXIfr

Ada doa-doa yang pernah kita panjatkan dengan air mata. Ada permintaan yang kita ulang dalam sunyi malam, ketika tidak ada siapa pun yang mendengar selain Tuhan. Kita memohon dengan sungguh-sungguh, dengan keyakinan penuh, dengan harapan yang membumbung tinggi. Namun waktu berjalan. Hari berganti minggu, minggu berganti tahun. Hidup membawa kita pada kesibukan baru, pada luka baru, pada impian lain yang perlahan menutupi doa lama itu. Kita lupa pernah memintanya.

Tetapi melupakan adalah sifat manusia, bukan sifat Tuhan. Secara psikologis, manusia mudah berpindah fokus karena realitas terus berubah. Kita menyesuaikan diri, mengganti harapan, bahkan merevisi cita-cita. Namun dalam dimensi spiritual, ada keyakinan yang menenangkan bahwa tidak satu pun bisikan hati terlewat dari pendengaran Ilahi. Ketika sesuatu yang pernah kita pinta tiba-tiba hadir dalam hidup, sering kali kita tertegun. Seolah semesta sedang membuka lembaran lama yang pernah kita tulis dengan harap dan tangis.

1. Doa Adalah Jejak Batin

Setiap doa meninggalkan jejak dalam diri. Ia membentuk cara kita melihat hidup, mempengaruhi pilihan, dan menuntun langkah secara halus. Walaupun kita merasa doa itu tidak terkabul, sebenarnya ia sedang bekerja dalam proses yang tidak selalu terlihat. Secara filosofis, doa bukan hanya tentang meminta hasil, tetapi tentang membangun hubungan dan ketergantungan yang sadar kepada Tuhan. Jejak itu mungkin tersembunyi, namun ia menuntun kita pada pertemuan yang telah disiapkan sejak lama.

2. Waktu Tuhan Tidak Sama dengan Waktu Kita

Sering kali kita kecewa karena merasa doa tidak segera dijawab. Kita ingin hasil cepat, tanda yang jelas, kepastian yang instan. Padahal waktu manusia bergerak dalam hitungan terbatas, sementara ketetapan Tuhan melampaui itu. Apa yang kita anggap terlambat, bisa jadi adalah waktu yang paling tepat. Secara psikologis, penundaan melatih kesabaran dan memperdalam kedewasaan. Ketika akhirnya sesuatu yang pernah kita minta itu datang, kita sudah menjadi pribadi yang lebih siap menerimanya.

3. Lupa yang Penuh Hikmah

Ada doa yang kita lupakan karena hidup memaksa kita beradaptasi. Kita mungkin pernah meminta pasangan yang baik, pekerjaan yang layak, kesempatan belajar, atau ketenangan jiwa. Lalu kita sibuk mengejar hal lain. Namun lupa bukan berarti doa itu hilang. Kadang justru karena kita berhenti terobsesi, hati menjadi lebih lapang. Dan dalam kelapangan itu, Tuhan menghadirkan apa yang pernah kita pinta dengan cara yang tidak kita duga. Seolah Ia ingin menunjukkan bahwa Dia tidak pernah lalai terhadap harapan hamba-Nya.

4. Pertemuan yang Menggetarkan

Ada momen dalam hidup ketika kita berdiri di suatu titik dan tiba-tiba sadar bahwa ini adalah jawaban dari doa lama. Hati bergetar, bukan hanya karena bahagia, tetapi karena merasa diperhatikan. Secara emosional, momen ini menguatkan iman dan kepercayaan diri. Kita merasa tidak berjalan sendirian. Ada rencana yang bekerja di balik layar kehidupan. Kesadaran ini menghadirkan ketenangan mendalam, bahwa bahkan saat kita merasa doa menguap di langit, sebenarnya ia sedang menunggu waktu untuk turun.

5. Percaya dalam Ketidakpastian

Hidup dipenuhi ketidakpastian, dan itulah yang sering membuat kita cemas. Namun keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan doa memberi kita jangkar batin. Kita mungkin lupa detail permintaan kita, tetapi Dia tidak lupa makna di baliknya. Dalam keyakinan itu, kita belajar untuk tetap berharap tanpa putus asa, tetap berusaha tanpa kehilangan arah. Percaya bukan berarti pasif, tetapi menjalani hidup dengan kesadaran bahwa ada kasih yang lebih besar dari rencana kita sendiri.

Jika suatu hari nanti engkau dipertemukan dengan sesuatu yang pernah engkau minta dalam tangis panjang yang sudah lama kau lupakan, apakah engkau akan menyadari bahwa sejak awal engkau tidak pernah benar-benar berjalan sendirian?

https://www.facebook.com/share/1P1fqJqfZz/?mibextid=wwXIfr
27/02/2026

https://www.facebook.com/share/1P1fqJqfZz/?mibextid=wwXIfr

Ada hal-hal yang pada awalnya terasa indah, hangat, dan menghidupkan, tetapi ketika hadir tanpa jeda justru berubah menjadi ancaman yang sunyi. Matahari adalah simbol kehidupan. Ia memberi cahaya, menumbuhkan pepohonan, mengeringkan luka, dan menghangatkan tubuh yang menggigil. Namun ketika sinarnya terus menerus menyentuh tanah tanpa henti, tanpa hujan, tanpa malam yang meneduhkan, yang lahir bukan taman hijau melainkan padang pasir yang gersang. Dari kejauhan mungkin tampak memukau, tetapi di dalamnya kehidupan berjuang dengan getir.

Begitulah hidup manusia. Tidak semua yang baik akan tetap baik jika berlebihan. Secara psikologis, jiwa membutuhkan ritme. Ia memerlukan terang dan gelap, aktif dan jeda, semangat dan hening. Secara sosial, kita sering diajarkan untuk mengejar hal-hal positif tanpa henti, produktif setiap waktu, optimis sepanjang hari. Namun kita jarang diajarkan bahwa ketidakseimbangan, bahkan dalam kebaikan, dapat mengeringkan makna. Sinar matahari sepanjang waktu menciptakan padang pasir. Dan mungkin tanpa sadar, sebagian dari kita sedang hidup di dalamnya.

1. Terang tanpa jeda menghilangkan makna cahaya

Cahaya hanya terasa indah karena kita pernah mengenal gelap. Jika hidup kita dipenuhi sorotan tanpa ruang untuk beristirahat, kita kehilangan kemampuan untuk mensyukuri terang itu sendiri. Dalam psikologi, manusia memaknai sesuatu melalui kontras. Tanpa kontras, semua menjadi datar. Ketika kita memaksa diri untuk selalu kuat, selalu positif, selalu tersenyum, kita sedang menolak sisi gelap yang justru membuat kita utuh. Padang pasir lahir bukan karena matahari jahat, tetapi karena tidak ada malam yang memberi keseimbangan.

2. Produktivitas tanpa henti mengeringkan jiwa

Budaya modern memuja kesibukan. Orang yang selalu sibuk dianggap bernilai, sementara yang berhenti sejenak sering dicurigai sebagai malas. Padahal jiwa bukan mesin. Ia tidak dirancang untuk menyala tanpa istirahat. Ketika seseorang terus bekerja, terus mengejar target, terus membuktikan diri tanpa memberi ruang bagi refleksi, yang terjadi perlahan adalah kekeringan batin. Ia mungkin terlihat berhasil di mata sosial, tetapi di dalam dirinya tumbuh kehampaan yang sulit dijelaskan. Seperti tanah yang terus disinari tanpa air, ia retak tanpa suara.

3. Kebahagiaan yang dipaksakan menutup pintu kedewasaan

Ada tekanan sosial untuk selalu tampak bahagia. Media sosial memperkuat ilusi bahwa hidup harus penuh tawa, pencapaian, dan perjalanan indah. Namun emosi negatif bukan musuh. Kesedihan, kecewa, bahkan rasa gagal adalah hujan yang menyuburkan kedalaman diri. Tanpa itu, kita tidak belajar empati. Tanpa itu, kita tidak memahami makna kehilangan dan syukur. Jika kita menolak hujan dalam hidup, kita mungkin terlihat cerah, tetapi hati kita perlahan berubah menjadi hamparan luas yang kosong.

4. Kelebihan validasi menciptakan ketergantungan

Pujian dan pengakuan adalah sinar yang menghangatkan harga diri. Namun jika hidup kita terus menerus disinari oleh validasi eksternal, kita bisa kehilangan akar. Kita menjadi tergantung pada sorotan, pada tepuk tangan, pada pengakuan orang lain. Tanpa sadar, identitas kita dibentuk oleh cahaya luar, bukan oleh kedalaman dalam. Ketika suatu hari sorotan itu redup, kita merasa hilang. Padang pasir batin terbentuk ketika kita lupa bagaimana caranya menyirami diri dengan makna yang lahir dari kesadaran, bukan dari penilaian sosial.

5. Keseimbangan adalah rahasia kehidupan yang lestari

Alam mengajarkan bahwa keberlanjutan lahir dari keseimbangan. Ada siang dan malam, ada panas dan hujan, ada musim gugur dan musim semi. Dalam hidup manusia pun demikian. Kita perlu bekerja dan beristirahat, berbicara dan mendengar, mengejar dan melepaskan. Ketika kita memahami bahwa tidak semua terang harus terus menerus hadir, kita mulai memberi ruang bagi pertumbuhan yang sehat. Padang pasir bisa berubah menjadi taman ketika hujan diberi kesempatan untuk turun. Dan jiwa yang kering pun bisa kembali hidup ketika kita berani menerima ritme kehidupan secara utuh.

Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri dengan jujur, apakah selama ini kamu sedang menikmati cahaya yang menumbuhkan, atau tanpa sadar sedang berdiri di tengah padang pasir yang kamu ciptakan sendiri karena takut memberi ruang bagi hujan?

25/11/2023
17/11/2023

We are now living in a time where when we do basic things as a muslim, we are called too religious

17/03/2022

SAUDARA YANG PALING SETIA

Nabi SAW bersabda, "seorang lelaki mempunyai tiga saudara. Lelaki ini dalam keadaan nazak lalu memanggil saudaranya seorang demi seorang. Saudaranya yang pertama datang mendekatinya, lalu dia bertanya kepadanya. "Kamu telah melihat keadaanku begini, maka sekarang apakah yang akan engkau lakukan sesuatu yang akan memberi faedah kepada diriku?" Maka saudaranya berkata, "Apabila engkau meninggalkan dunia, aku akan uruskan segala kos perbelanjaan pengebumianmu, selepas itu aku akan pergi kepada orang lain."

Kemudian lelaki ini memanggil saudaranya yang kedua lalu berkata kepadanya, "Apakah yang kamu akan lakukan kepadaku setelah engkau melihat akan keadaan aku yang akan meninggalkan dunia ini?" Maka ia berkata, "Aku akan sedaya upaya mengubati kamu, menemanimu, bersamamu ketika masih hidup. Jika ditakdirkan maut telah datang menjemputmu, maka aku akan menemani jenazahmu sampai ke kuburmu, aku akan menghantar kamu ke kubur, mengebumikanmu, berdoa untukmu, dan menangis sedih kerana kehilanganmu. Kemudia apabila selesai semuanya, aku akan p**ang ke rumah meninggalkanmu."

Kemudian dia memanggil p**a saudaranya yang ketiga lalu berkata kepadanya, "Apakah yang kamu akan lakukan untukku setelah engkau melihat keadaanku ini?" Maka ia menjawab, "Sebagaimana aku bersamamu ketika di dunia ini, maka aku akan sentiasa bersamamu juga di mana juga kamu pergi, aku akan menemanimu di KUBUR, aku akan bersamamu di Padang Mahsyar, bersamamu ketika amalanmu diTimbang, dan akan bersamamu sehinggalah aku memasukkan kamu ke dalam Syurga."

Kemudian Baginda SAW bertanya kepada para sahabat sahabatnya, "Beritahulah kepadaku! Di antara ketiga tiga saudaranya itu, yang manakah yang paling SETIA dan paling BERGUNA untuknya?" Sahabat sahabat menjawab, "Saudaranya yang ketiga." Kemudian Baginda SAW bersabda lagi, "Saudaranya yang pertama ialah HARTA KEKAYAANnya, yang kedua ialah AHLI KELUARGAnya dan yang ketiga ialah AMALnya."

17/03/2022

Assalammualaikum wbt. Apa khabar saudara2 ku sekalian? InshaAllah mari sama sama kita perbanyakkan selawat ke atas junjungan besar kita Rasululllah SAW usaha kecil kita untuk mengharungi akhir zaman yang penuh ujian. InshaAllah

AllahummasollialasaiyidinaMuhammad🌹

GOLONGAN AKHIR ZAMAN*Seorang Murid telah bertanya kepada SYEH SUFI tentangnya segolongan manusia yang ada di Akhir Zaman...
23/02/2022

GOLONGAN AKHIR ZAMAN*

Seorang Murid telah bertanya kepada SYEH SUFI tentangnya segolongan manusia yang ada di Akhir Zaman harini.

Murid bertanya :

Ya Syeh... !

Kenapa ada sesetengah golongan umat, apabila dia pergi berjumpa dengan seorang Ulama yang HAQ (Orang cerdik dan pandai yang berjalan di Landasan Kebenaran) untuk sebarang permasalahan,

Lalu dipertikaikan p**a setelah jawapannya diberikan ?

SYEH SUFI :

Persoalannya kamu itu menunjukkan sepertinya seseorang yang sedang Sakit, lalu dia pun pergi berjumpa dengan seorang Tabib.

Setelah Tabib itu memberikan Penawarnya, malah dia mempertikai Penawar itu, dan dia mahu mencari ubat dihospital p**a.

Jawapannya adalah;

Lebih baik daripada awal dia sendiri yang menjadi seorang Tabib ataupun dia tidak perlu pergi berjumpa atau bertanya langsung.

Kerana, Tabiat umat manusia harini memang s**ar menerima pendapat yang baik dan s**a membantah-bantah...

"Orang akan Takut kepada Allah SWT sesuai dengan kadar Ilmunya, dan orang akan Ujub dengan Ilmunya sesuai dengan kadar Kebodohannya..." - Syeh Haqtullah

KEJAHILAN DAN KEBODOHAN TELAH BERMAHARAJALELA DIAKHIR ZAMAN...

Firman Allah SWT;

بَلْ كَذَّبُوْا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْ فَهُمْ فِيْٓ اَمْرٍ مَّرِيْجٍ

"Bahkan mereka telah mendustakan kebenaran ketika (kebenaran itu) datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau."
(QS. Qaaf : 5)

Firman Allah SWT;

وَلَقَد صَرَّفنا في هٰذَا القُرءآنِ لِلنّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكانَ الإِنسٰنُ أَكثَرَ شَيءٍ جَدَلًا

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
(QS. Al-Kahfi : 54)

Firman Allah SWT yang bermaksud;

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
(QS. Al-A’raf : 179)

Address

Hulu Langat
43100

Opening Hours

08:30 - 11:00

Telephone

+60173254220

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ZH Archery posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to ZH Archery:

Share

Category