01/04/2015
Kurniawan: Pemain Harus Bersatu dan Tidak Takut, Rezeki Diatur Tuhan
Penyerang legendaris Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto sudah sangat gregetan dengan sepakbola Indonesia yang tak kunjung berubah. Kepada pemain ia meminta berpikir lebih ke depan. Berikut ini petikan wawancara detiksport dengan pemain yang akrab dipanggil 'Si Kurus' itu di kota Malang baru-baru ini: Sekarang ada momentum lagi untuk mengubah sepakbola Indonesia ke arah yang lebih baik.
Apa yang Anda harapkan? Saya aktif di APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia). Selama ini kita selalu fokus kepada yang berurusan dengan liga ini. Memang ada kendala di tahun sebelumnya, ketika BOPI memberi toleransi soal keterlambatan gaji pemain. Tapi ternyata begini terus. Jadi menurut saya ini saat yang tepat untuk mengubah semuanya. Sekarang ada BOPI, Menpora, dan semua pihak terkait. Mari kita konsentrasi untuk ngebenerin sepakbola kita. Saya memang sudah tidak main, tapi saya juga ingin mantan-mantan pemain untuk bersuara. Pemain harus bersatu, harus berpikir panjang. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Karena buat saya, tidak ada toleransi lagi. Kabarnya pemain takut bersuara karena mendapat tekanan- tekanan dari (pengurus) klub. Yang Anda tahu? Jujur, tekanan pasti ada. Selama ini saya memang gak pernah diancam. Tapi saya denger dari teman-teman, misalnya pemain macam-macam gaji mereka gak dibayar, nama mereka di-black list dan disebar supaya klub- klub lain tidak ngambil dia, supaya dia gak dapat klub. Lalu saya bilang, kenapa harus takut sih? 'Kan punya value, karena kita yang main. Klub kalo gak punya pemain, bisa apa? Kalau punya kualitas, pasti dicari kok. Bahkan, sebadung-badungnya pemain, kalau berkualitas pasti dicari kok. Apa sih yang kira-kira bisa menumbuhkan keberanian pemain? Harus percaya bahwa kita punya tuhan, rezeki sudah ada yang atur. Coba bayangin, 'elu takut (ngomong) tapi hidup elu yang capek, yang keringetan, tapi gaji gak dibayar.'
Saya menyayangkan juga sih, ada beberapa pemain senior yang justru seharusnya jadi panutan, jadi orang terdepan, karena pernah mengalami ini semua, tapi tidak mau membantu adik-adiknya. Maksudnya, kalau kita pensiun, alangkah baiknya bisa meninggalkan sesuatu yang benar. Saya bingung dengan respons mereka. Kadang kalau diajak ngomong, mereka selalu bilang "oke, oke.. kita fight, fight". Tapi kalau sudah di belakang dan berhadapan dengan mereka (pengurus), kok lain. Ya kita tidak pernah tahu sih mereka ngomong gimana. Tapi itu kesannya jadi kita yang mau jadi pahlawan, dibentur-benturin. Padahal kita kalau mau gak peduli ya bisa aja. Sudah pensiun, mau ngapain lagi sih. Tapi ada tanggung jawab moral. Sepakbola yang sebenarnya sudah dijadikan cita-cita anak-anak muda kita, jangan sampai hilang lagi. Tentang APPI yang juga kerap mendapat kritikan? Kita pastinya akan tetap komit, independen, tidak punya kepentingan apapun. Kami akan tetap menyuarakan (kepentingan) pemain. Yang jadi kendala -- bukan bermaksud membela APPI -- kadang- kadang apa pemain yang mau kita bela, tapi mereka takut-takut. 'Jangan sebut nama ya, Bang'. Kesannya kita yang harus melawan pengurus mereka. Soal gaji ini, pemain-pemain mikir deh. Ini hak kalian. Kalian sudah kerja, bukan mengemis, tidak ngutang. Kita bela di jalur yang benar. Lalu, kenapa harus takut? Bayangkan kalau pemain bisa satu suara. APPI akan bantu semaksimal mungkin. Ambil contoh Bambang (Pamungkas). Waktu di Persija dia fight, karena merasa benar. Akhirnya dibayar juga 'kan. Dulu saya di Magelang juga begitu. Pernah ditawar, telat 5 bulan, klub maunya bayar 2 bulan aja. Saya fight, akhirnya dibayar juga. Satu hal yang penting memang, pemain perlu terus diedukasi. Kontrak misalnya, pemain kadang- kadang gak pernah pegang copy-nya. Jadi memang kompleks sekali. Tentang PSSI, mengingat tak lama akan ada pemilihan pengurus baru? Bukan rahasia umum lagi kalau orang menganggap pengurus PSSI sekarang itu bagaimana. Saya gak benci PSSI, gak benci pengurusnya. Tapi tolong, saya gak tahu lagi bagaimana lagi ngebenerinnya. Jujur sajalah pada diri sendiri, pakai hati nurani: urus bola ini untuk apa sih? Atau punya kepentingan lain? Saya mendukung apapun langkah untuk perubahan bersihnya sepakbola Indonesia. Kalau harus di- banned tapi menjadi lebih baik, saya setuju. Saya tidak mengecilkan pengurus yang sekarang, tapi, apa memang sudah yakin ini langkah yang benar? Jujur saja lah sama diri sendiri, tanya hati nurani, sudah yakin bener gak sih? Apa sudah saatnya pemain mulai mengambil peran langsung di federasi? Saya ngobrol sama beberapa pemain juga. Ke Bima (Sakti), salah satunya. Saya bilang, kita perlu juga mencalonkan diri jadi ketua/wakil ketua PSSI. Kalah sih sudah pasti, tapi paling tidak ada gebrakan, bahwa kita anak-anak muda mau kok. Artinya, semangat kita bukan soal main saja, tapi intinya supaya bola lebih baik. Juga biar masyarakat tahu, kalau mantan-mantan pemain juga peduli dengan sepakbola kita. Saya juga tidak menjamin, tapi paling tidak, ayolah, sepakbola dikelola secara profesional. Maka orang-orangnya harus profesional. Pemain harus selalu mikir ke depan. Mungkin akan banyak yang dirugikan. Misal, kalau liga tidak jalan, berarti tidak ada penghasilan, dan lain-lain. Pertanyaannya, kalau dipaksakan, apa ada jaminan buat mereka untuk hidup juga? Harapan pada pemerintah dalam hal ini Menpora? Saya cuma berharap Menpora konsiten. Sekali menarik kebijakan, misalnya toleransi, buat saya selesai.