06/09/2026
Alwi Farhan Bedah Persaingan Tunggal Putra: Tak Harus Sering Juara untuk Jadi Nomor 1 Dunia
BOLABULU NEWS - Persaingan tunggal putra dunia semakin sulit ditebak.
Gelar juara tidak lagi menjadi monopoli satu atau dua nama. Pemain papan atas hingga penghuni ranking di bawahnya sama-sama punya peluang menciptakan kejutan.
Situasi itu turut menjadi perhatian tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, yang akan tampil pada Asian Games 2026.
Alwi menjadi tunggal putra kedua Indonesia setelah Jonatan Christie.
Menariknya, Alwi kini berada di ranking 11 dunia. Jaraknya dengan peringkat 10, Li Shi Feng, bahkan hanya 64 poin.
Sementara dengan Jonatan yang menghuni ranking 1 dunia, Alwi terpaut sekitar 15 ribu poin.
Namun, ada satu hal menarik dari persaingan tersebut.
Jonatan bisa berada di puncak ranking dunia meski tidak dikenal sebagai pemain yang paling sering mengoleksi gelar juara.
Lantas, bagaimana Alwi melihat fenomena tersebut?
Menurut Alwi, kondisi itu justru menunjukkan betapa ketat dan meratanya persaingan tunggal putra saat ini.
Tidak ada lagi pemain yang benar-benar mendominasi seperti Viktor Axelsen pada masa kejayaannya.
"Di sektor ini semuanya bisa memberikan kejutan, baik yang di atas maupun di bawah," kata Alwi.
Artinya, menjadi ranking 1 dunia tidak selalu harus berarti menjadi pemain yang paling sering mengangkat trofi.
Konsistensi, perolehan poin, dan kemampuan menjaga performa sepanjang musim menjadi bagian penting dalam perebutan posisi teratas.
Alwi melihat siapa pun bisa menjadi juara jika mampu tampil matang ketika kesempatan datang.
"Jadi tidak menutup kemungkinan siapa pun bisa meraih gelar juara kalau dari dirinya sendiri memang siap dan matang dari segi mental," ujarnya.
Pernyataan Alwi seolah menggambarkan wajah baru tunggal putra dunia.
Ranking boleh berbeda jauh, tetapi ketika memasuki lapangan, peluang bisa kembali terbuka.
Termasuk dirinya.
Dua gelar sudah dikantongi Alwi sepanjang perjalanan menuju Asian Games 2026 setelah menjuarai Indonesia Masters dan Australia Open 2026.
Kini, tantangannya jauh lebih besar.
Di Asian Games, Alwi berpotensi berhadapan dengan sejumlah nama besar seperti Kunlavut Vitidsarn, Chou Tien Chen, Shi Yu Qi hingga Kodai Naraoka.
Namun Alwi tidak ingin sekadar menjadi pelengkap.
"Selagi masih ada waktu, saya berdoa dan berusaha untuk bisa mendapatkan hasil terbaik," ucapnya.
Dan di tengah persaingan yang semakin merata, satu pertanyaan besar pun muncul:
Jika Jojo bisa menjadi ranking 1 dunia dengan konsistensi dan poin yang kuat, bisakah Alwi mengikuti jejak tersebut—lalu mengubah status sebagai penantang menjadi penguasa tunggal putra Indonesia berikutnya?