20/05/2022
Kami pun bangkit, pos 3 mulai kami tinggalkan mulai masuk ke hutan dan tanjakan yang sangat curam,memang track dingding ari ini sangat lah curam lutut aja samapi bisa ketemu dagu, kalu orang yang pernah naik gunung ci kurai pasti akan membandingkannya, ketinggian nya boleh aja kalah samai gunung ci kurai tapi tidak dengan track nya, ada yang bilang juga tida, tapi itu hanyalah pendapat semua orang memiliki pendapat masing-masing kalu mau berpendapat silahkan coba dulu aja mendaki ke sana.
Saat kami berjalan tiba-tiba HT yang saya bawa berbunyi mungkin ituh abh toteng
"Cek giman di atas sana aman" ucap abah melalui HT
"Din ini lo yang jawab" ucap ku sembari memberikan HT nya
"Alhamdulilah bah, aman baru samapi pos 3 menuju pos 4" ucapnya
"Sip bagus kalau aman mah, di atas sana gak hujan?" Tanya abah
"Siap bah, alhamdulilah enggak" ucap nurdin
Tidak ada jawaban lagi dari abah toteng, kamipun melanjutkan perjalanan baru beberapa langkah langsung turun hujan.
"Hujan din, pakai ponco" ucapku sebari mengeluarkan ponco di dalam saku ceril
"Gue gak bawa" ucap nya
"Aduh terus gimana, itu baju lo nanti basah"
"Gak papa kan ada jaket" ucapnya
"Atau kita cari pohon yang rimbun, kita berteduh dulu" ucapku sambil melihat lihat di sekeliling sekitar mencari pohon yang cocok untuk di pakai berteduh
"Gak usah kita lanjut aja, keburu sore"
Aku pun teringat saya bawa trasbag yang cukup besar bisa di jadikan ponco keadaan darurat hehe.
"Bentar" ucap ku sembari mengelurkan trsabag tersebut lalu aku lubangi pakai ggigi, di bikin lubang bagian leher dan kedua tangan nya, dan jadilah ponco darurat wkwkwkk.
"Nih pakai" ucapku
Dia langsung mengambilnya dan memakai nya, dan benar pas, lumayan lah biar gak terlalu basah.
Kamipun melanjutkan perjalanan posisinya saya di depan dan nurdin di belakang, kami berjalan dengan agak lambat karna jalanan cukup licin dan sepatu basah.
Tak lama pun hujan berhenti, kami sangat bersukur sekali sebentar sekali mungkin udah mau sampai pos 4 tapi tiba-tiba jarak pandang sangat lah suram, dimana awan tebal menghampiri kami.
"Din kabut" ucap ku sembari berhenti
"Iyah pelan-pelan aja, hati-hati salah jalan" ucapnya
Benar benar sangat tebal sekali kabutnya jarak pandang pun sekitar 2 meteran, sehingga kami harus berhati-hati dalam melangkah jangan sampai salah jalan apalgi di tanjakan yang sangat curam.
"Din kita berhenti aja dulu, nunggu kabutnya hilang" ucapku sebari menoleh ke arah nya
"Boleh" ucapnya
"Ngerokok dulu" ucap ku sembari ngelurin roko dan mencari tempat duduk
Kamipun merokok sambil berharap kabutnya hilaang, benar benar sangat nikmat dalam keadaan cape di tamabh dingin di tambah merokok beh mantap bangett pokonya.
Rokok baru setengahnya melihat di sekitar kabut udah perlahan mulai menghilang
"Mau lanjut sekarang gak nih" ucap ku
"Bentar ngehabisin dulu roko"
"Ok deh"
"Itu di leher lo apaan?" Sembari melihat leherku
Akupun langsung merabanya dan sangat geli sekali ternyata itu
"Pacetttt" ucap ku sembari berusaha melepaskan nya sangat susah
"Awas gue bantuin" sembari mengambil pacet itu menggunakan kaos tangan nya dan dapat langsung iya injak.
"Same pacet aja takut" ucap nya sebari ketawa
"Buakan takut, cuma geli aja,nanti darah gue habis di ambil pacet" ucap ku
Kamipun langsung nge cek ke tumbuh bagian lain takutnya ada lagi, dan bener saja ada beberapa pacet yang menempel di bagian kaki.
Takut ke malaman kami melanjutkan perjalanan melihat jam tangan sudah menunjukan jam setengah empatan, kami terus melangkah tanjakan demi tanjakan kami lalu, dan akhirnya samapi di pos 4 tapi kami tidak beristirahat kami terus tancap gas supaya gak kemagriban di jalan.
Saat menaiki tanjakan tiba-tiba nurdin langsung mendahului saya berlali
"Jen lariii" ucapnya sembari mendahului saya
"Ada apa" ucap ku panik
"Lihat di atas" ucap nya sembari lari
Pas lihat ke atas bener saja di atas ada 2 monyet sangat hitam, dan tumbuhnya sangat besar, akupun lamgsung berlari memgikuti nurdin
"Din larinya jangan samapi arah jalan"ucap ku sembari lari di tanjakan
"Iyah hayu, dari tadi monyet itu ngikutin kita mulu" ucapnya
"Dari kapan?" Ucap ku terheran karna merasa tadi gak melihat di ikutin monyet itu
"Dari tadii,lo gak sadar sih" ucapnya sembari terus berlari
Melihat keatas pepohanan monyet itu terus loncat dari pohon ke pohon mengejar kami, saya sangat benar benar takut dan lari di tanjakan bukan lah hal yang sangat mudah sesekali terjatuh karana jalan licin.
"Din berhenti aja cape" ucap ku
"Iyah sama gue juga" sambil lamgsung berhenti menjongkokan badan nya
Kami berhenti dengan terengah-engah karna kecapean melihat monyet itu sudah dekat dengan kami
"Gima din, lari agi gak nih"
"Cape anjir" ucapnya sebari melihat monyet itu
Monyet itu udah dekat tapi tidak menghampiri kami dia hanya berpindah dari pohon ke pohon sambil memerhatikan kami, teringat pesan orang tua "kalu berpergian ke hutan kita hanyalah tamu, jadi harus meminta ijin dulu ke pemiliknya" begitu lah kira kira dan tanpa basa basi akupun langsung berteriak
"Ma'af jika ke ganggu, kami ke sini hanya ingin menenangkan diri saja gak bermaksud mengganggu kalian semua"ucapku teriak agak keras
"Ayo din kita jalan lagi" ucapku sebari mendahuluinya
Kamipun berjalan baru beberapa langkah nurdin langsung bilang
"Anjir menghilang"
"Apa yang menghilang?" Ucapku sembari menoleh ke arahnya
"Itu yang ngejar kita tadi"
"Alhamdulilah sukur deh" ucapku dengan sangat bahagia
Terus berjalan sebari mengingat kejadian tadi alhamdulilah kami samapi di pos 5 atu biasa di sebut dengan pos air, karna cuma di sini lah tempat mata air tidak ada gubuk, di pos ini cuma ada tempat mendirikan tenda yang cukup sekitar 5 tenda di sekitarnya di tumbuhi pepohonan yang sangat besar besar dan rimbun.
"Kita langsung pasang tenda din biar bisa istirahat" ucap ku
"Ayo"
Kamipun langsung mendirikan tenda dan langsung membereskan barang barang ke dalam
"Kit solat dulu" ucap nurdin
"Ayo tapi kita ngambil air hudu dulu, sama kita isi kompan" ucapku sebari mengambil kompan di dalam tenda
Kami menuju tempat mata air yang jaraknya lumayan jauh, dan harus melewati dulu tebing yang cukup curam dan licin, tapi seketika bulu punduku berdiri persaan mulai gak enak merasa ada yang memerhatikan di balik pepohonan.
Aku hanya terdiam dan gak tau apa temenku juga sama merasakannya,kamipun perlahan menuruni tebing dan sampai ke tempat air yang sangat jerni dan menglir, akupun langsung meminum nya sangat segar sekali, buka sepatu dan langsung berwudu sangat segar sekali.
"Din ini isiin kompan nya" ucapku sebari memberikan kompannya
Aku lagi pakai sepatu, dan nurdin lagi nunggu kompan penuh benar benar merasa ada yang menperhtikan aku liht di sekeliling sekitr benar saja ada seperti bayangan sangat hitam yang bersembunyi di balik dedaunan, akupun langsung ketakutan dan beristigapar
"Din ayo cepet" ucap ku
"Kenapa" uapnya sebari menolh ku
"Ayo cepet aja keburu gelap"
"Yaudah ayo" sebari langsung memaki sepatu tanpa mengisi kompan nya samapi penuh mungkin dia juga merasakan apa yang aku rasakan.
Kamipun langsung pergi dari tempat air itu melewati tebing yang di turunin tadi,tiba tiba setelah berhasil naik tebing nurdin berteriak lagi sambil sambil berlari menuju tenda
"Babiiiiiii"
Bantu sukai halamannya, biar gak ketinggalan ceritanya