22/06/2019
Bicara mengenai minimnya gol Persebaya musim ini sehingga Green Force sulit meraih kemenangan, sebenarnya hal ini tidak hanya dialami Persebaya musim ini.
Pada season 1997/98, atau setelah tampil gemilang semusim sebelumnya dan meraih gelar Liga Indonesia, Persebaya kehilangan pilar penting, yaitu Carlos De Melo Macedo. Hilangnya pemain ini berimbas pada anjloknya produktivitas tim. Seperti kita ketahui, gol-gol Persebaya, terutama oleh Papi Jacko, berasal dari asupan umpan ranum dari Carlos. Hilang Carlos, hilang p**a ketajaman pemain Persebaya.
Pada musim 1996/97, Persebaya mampu membuat 82 gol dari 25 pertandingan atau rata-rata bikin 3,2 gol per laga. Sedangkan di musim 1997/98 (pada saat kompetisi distop karena kerusuhan nasional), Persebaya hanya membuat 17 gol dari 14 pertandingan atau rata-rata 1,2 gol per laga. Penurunan rata-rata 2 gol ini dampaknya luar biasa. Bonek yang di musim sebelumnya hampir pasti disuguhi hujan gol di Tambaksari menjadi harus menunggu lama untuk menyaksikan Green Force membuat 1 gol saja.
Namun apa yang membuat Persebaya tetap menangan saat itu? Menurut pengamatan saya, walau tanpa Carlos lini tengah Persebaya tetaplah sangat solid dan kuat dalam hal ball possesion. Pemain-pemain lokal seperti Uston Nawawi, Marzuki Badriawan, Putut Wijanarko, Eri Irianto, adalah pemain berkualitas yang mampu membuat Persebaya tangguh meskipun Luciano Lacerda tak mampu menggantikan peran Carlos.
Hanya itu? Tidak. Kualitas para punggawa lini belakang Bajul Ijo saat itu juga cukup mentereng. Bejo, Da Costa (Ferreira Cavalo), Pace, Mursyid, dilapis p**a dua bek sayap modern dalam diri Anang dan Aji serta jaminan keamanan di bawah mistar oleh Hendro Kartiko membuat lawan-lawan Persebaya serasa menendang bola ke tembok kala menghadapi Green Force. Pada musim 1997/98, Persebaya hanya kebobolan 8 gol dari 14 pertandingan atau hanya bobol 0,5 gol per laga.
Persebaya memang tak lagi menang dengan skor besar musim itu. Tapi mereka secara teratur menang tipis 1-0 atau 2-1 sehingga di klasemen akhir Bajul Ijo masih bisa memuncaki klasemen dengan 8 kali kemenangan, 4 kali seri, dan hanya 2 kalah dari 14 laga.
Kembali ke masa kini, dimana Persebaya sampau saat ini hanya bisa membuat rata-rata 1 gol di beberapa laga awal musim 2019 ini, kami para Bonek hanya bisa berharap semoga lini belakang Persebaya mampu tampil solid sehingga walau hanya menang 1-0 atau 2-1 aja di setiap laga, itu sudah bisa mengantarkan Persebaya ke papan atas.
Saya melihat kelemahan Persebaya masih sama saja dengan musim lalu, yaitu mudah dibobol lawan dalam skema thru pass (umpan terobosan) dan serangan balik lewat sisi sayap. Tentunya kita tidak bisa hanya menyalahkan lini belakang Persebaya atas keadaan ini, namun keamanan lini belakang tetaplah menjadi tanggungjawab semua pemain.
Semoga Persebaya lekas keluar dari masa sulit ini. Percayalah, Bonek akan selalu mendampingimu.
Bonek hanya meminta satu hal, jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama untuk sebuah kemenangan seperti menunggu salju turun di Gurun Sahara.