14/08/2026
Tradisi atau Kesenjangan?
Lain Peringatan 17 Agustus
Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan dengan penuh semangat. Upacara, perlombaan, pengibaran bendera, hingga berbagai kegiatan kebersamaan menjadi bagian dari tradisi yang terus dilakukan dari tahun ke tahun.
Namun, di balik kemeriahan itu, ada pemandangan yang terkadang membuat kita bertanya: **apakah ini sekadar tradisi, atau justru memperlihatkan sebuah kesenjangan?**
Di satu sisi, rakyat berdiri dan duduk di bawah terik matahari. Mereka rela berpanas-panasan demi mengikuti upacara dan memberikan penghormatan pada momen bersejarah bagi bangsa.
Di sisi lain, para pejabat dan tamu kehormatan berada di bawah tenda yang teduh, duduk nyaman di kursi yang empuk, terlindung dari panas matahari.
Tentu, keberadaan tenda dan tempat duduk bagi pejabat bukanlah sesuatu yang salah. Mereka juga memiliki tugas dan tanggung jawab dalam acara tersebut. Tetapi, pemandangan ini tetap layak menjadi bahan renungan.
**Kemerdekaan seharusnya bukan hanya tentang seremoni, tetapi juga tentang rasa keadilan dan kebersamaan.**
Bukankah semangat kemerdekaan mengajarkan bahwa semua rakyat memiliki kedudukan yang sama sebagai bagian dari bangsa?
Mungkin sudah saatnya kita melihat peringatan 17 Agustus bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk bercermin.
Ketika rakyat berpanas-panasan sementara sebagian pejabat menikmati kenyamanan di bawah tenda, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang lebih nyaman.
Pertanyaannya adalah:
**Apakah ini memang tradisi yang sudah biasa, atau sebuah gambaran kecil tentang kesenjangan yang masih ada di sekitar kita?**
Karena kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan.
**Kemerdekaan juga tentang bagaimana rakyat merasa dihargai, diperlakukan adil, dan benar-benar menjadi bagian penting dari perayaan bangsanya sendiri.**
— **Sisi lain peringatan 17 Agustus**