16/05/2014
DI BALIK KEMENANGAN SURABAYA MUDA
TIAP kali bertanding di Stadion Loka Jaya, Tuban, Laskar Surabaya Muda beserta ofisial selalu naik bus dari Surabaya ke Tuban, pergi-pulang pada hari itu juga. Jadi, arek-arek tidak menginap di suatu hotel di Tuban selama putaran I Grup H Kompetisi Divisi Satu PSSI, 29 April – 14 Mei 2014.
Tiap hari pertandingan, ofisial dan para pemain berkumpul di Gelora 10 Nopember. Bus pariwisata Ardiansyah (langganan) sudah parkir di depan Gelora 10 Nopember pukul 06.30 WIB. Seperti pada Selasa 6 Mei 2014 lalu. Berangkat pukul 07.00 lewat tol Pasar Turi, kemudian keluar di Tol Bunder, Gresik. Bus menempuh jalur Lamongan – Babat –Tuban. (Tidak lewat Pantura). Tiba di tempat transit di Tuban pukul 09.45.
Rumah transit tersebut berupa rumah panggung antik di kawasan by pass wilayah barat Kota Tuban. Rumah panggung full kayu jati yang los tanpa kamar. Pelatih kepala Hartono, dua asisten pelatih M. Fachrudin dan Basuni Alwi, asisten manajer S. Efendi, masseur Toha, perlengkapan “Ambon” Mardianus, dan para pemain istirahat bersama dan tidur berbaur di satu ruangan itu. Tanpa kasur, tanpa bantal.
“Gelethakan bareng ndek kono.” Jam 12.00 datanglah mobil yang membawa nasi kotak. Kemudian mereka makan bersama. Tidak ada kemewahan, yang ada hanyalah kebersamaan. Padahal sebagian pemain Surabaya Muda adalah mantan bintang Persebaya era 1990-an dan dekade awal 2000-an. Antara lain Anang Ma’ruf, Rachel Tuassalamony, Andri “Gepeng” Budianto, Jefry Prasetyo, Wawan Hariono.
Para senior yang sarat pengalaman ini menyatu dengan pemain-pemain muda seperti Agie Renata, Fahrizal Amiruddin, Wahyu Nugroho, Riko Heru. Saling mendukung, saling menghargai.
Salut luar biasa perlu diberikan kepada para senior Persebaya yang rela bergabung dalam satu tim dengan pemain-pemain junior di klub Divisi Satu Surabaya Muda.
Mat Halil, Uston Nawawi, dan Bejo Sugiantoro masih bergabung dengan Persida Sidoarjo, klub Divisi Utama (klub profesional). Sedangkan Anang Ma’ruf, Rachel Tuassalamony dan kawan-kawan bergabung dengan klub amatir! Terima kasih Anang dan kawan-kawan!
Mereka bergabung semata-mata karena faktor loyalitas pada sepakbola Surabaya. Honor yang kecil dan bonus kemenangan yang relatif kecil (dibanding ketika mereka memperkuat Persebaya) tidak menjadi halangan.
Tak sekadar bergabung, Anang dan Rachel misalnya tak segan-segan menularkan ilmunya kepada para pemain junior. Lewat diskusi usai pertandingan di rumah transit. Misalnya kepada Ilham Dirgantara yang kena kartu merah saat menghadapi Persekabpas Pasuruan. “Sebaiknya sampean jangan membalas saat dikrawuk wajah sampean oleh pemain Persekabpas. Pasti kena kartu merah,” tutur Anang.
“Itu reflex Cak Anang. Begitu dikrawuk saya langsung mukul (sembari tangan kanannya diperagakan memukul),” jawab Ilham Dirgantara.
“Ya harus bisa sabar menahan diri. Kan rugi sampean kena kartu merah. Tim juga kehilangan seorang pemain. Ada cara membalas yang lebih baik,” kata Anang. Anang lantas menguraikan bagaimana membalas tindakan kasar lawan dengan cara yang baik.
“Ya Cak. Saya akan melakukan apa yang sampean sarankan,” sahut Ilham Dirgantara.
*****
Suasana kebatinan yang guyup seperti inilah yang terbangun dalam tim Surabaya Muda. Pukul 20.00 mereka semua kembali berada dalam bus pariwisata Ardiansyah (yang disewa Rp 2,5 juta per hari jarak Surabaya-Tuban). Pasukan tiba di Gelora 10 Nopember pukul 22.20.
Berangkat dari rumah masing-masing pukul 06.00 dan tiba kembali di rumah masing-masing sekitar pukul 23.00. Sekitar 15 jam mereka kumpul bersama dalam bus, rumah transit, dan di lapangan pertandingan. Situasi seperti ini disadari atau tidak mempercepat proses kebersamaan dan perpaduan.
Tim Surabaya Muda 2014 dibentuk dengan masa persiapan yang sangat mepet. Tiga minggu menjelang hari H! Beban tim pelatih yang dikomandani coach Hartono tentu berat. Tidak ada waktu yang cukup untuk membangun fisik pemain, terutama bagi para pemain senior. Dalam pertandingan Surabaya Muda versus Persekabpas Kabupaten Pasuruan pun terlihat, mobilitas pemain senior belum tinggi. Lari jauh sedikit terlihat napas mereka mulai tersengal. Namun, spirit tempur mereka terlihat menyala-nyala.
Di awal pertandingan gelandang muda asal Putra Indomaret, Wahyu Eko Syuhadak terlihat demam panggung. Hampir semua passing-nya salah. Penampilannya tak seperti ketika bertanding di kompetisi internal Liga Springhill Askot PSSI Surabaya 2013-2014. Pelatih Hartono pun langsung menggantinya dengan Rachel Tuassalomony. Keseimbangan lapangan tengah pun tercipta.
Pertandingan berjalan alot, keras dan menjurus kasar. Andai Surabaya Muda tak dipandu pemain-pemain senior mungkin hasilnya akan beda. Arek-arek Surabaya Muda bermain dengan sabar. Alhasil mereka menang 2-0 atas Persekabpas. Satu kemenangan yang sangat penting.
Semoga Anang Ma’ruf dan kawan-kawan berhasil mempersembahkan yang terbaik dalam laga-laga selanjutnya.