27/10/2019
Siapa yang tak mengenal nama Stadion Gelora 10 November Surabaya. Stadion yang telah dibuka sejak 1951 ini memang tak bisa lepas dari nama tim asal Kota Pahlawan, Persebaya.
Namun, semenjak kebijakan baru yang diterapkan oleh Wali Kota Surabaya setelah ada salah satu Bonek meninggal dalam peristiwa kerusuhan 3 Juni 2012, Persebaya dilarang menggunakan stadion yang pernah digunakan untuk pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 1969 ini.
Saat terakhir berlaga di Stadion Gelora 10 November tersebut, Persebaya menjamu Persija dengan skor akhir 3-3 dalam kompetisi IPL.
Di stadion itu, Persebaya memiliki nilai historis yang sangat tinggi, karena tim kebanggaan Bonek ini mampu meraih juara Liga Indonesia terakhir pada tahun 2004. Secara kebetulan dalam pertandingan terakhir 23 Desember 2004, Persebaya menjadi tim pertama yang berhasil menjadi juara Liga Indonesia dua kali.
Jika kita membuka kembali sejarah, stadion yang memiliki kapasitas 35.000 orang itu selalu menjadi "momok" yang menakutkan bagi setiap lawan yang menjalani pertandingan tandang menghadapi Persebaya di Gelora 10 November.
Menurut pakar sejarah Kota Surabaya, Adrian Perkasa mengatakan banyak sebab yang membuat markas Persebaya di Gelora 10 November begitu angker ketika dikunjungi tamunya. Yakni salah satunya adalah kegigihan Bonek dalam mendukung tim kebanggaannya.
Bukan hanya itu, keangkeran Stadion 10 November pun juga karena prestasi yang pernah diukir Persebaya di lapangan tersebut. Sehingga membuat lawan ketakutan sebelum menghadapi Bajol Ijo.
"Sebetulnya yang membuat Stadion 10 November adalah prestasi Persebaya di masa itu, sehingga membuat Bonek begitu bangga mendukung timya di stadion itu. Apalagi waktu dulu nama Bonek begitu terkenal militan, sehingga selain lawan melihat prestasi Persebaya juga melihat Bonek yang selalu bisa menggetarkan nyali lawan main Persebaya,
menurut kalian apa sebenarnya yang hilang dari persebaya kita?stadionnya?manajemennya?pemainnya?suporternya?atau federasinya?