31/08/2026
Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kalimantan Tengah yang menolak kebijakan meliburkan sekolah di tengah kondisi kabut asap pekat menuai kritik keras dari masyarakat. Alasan yang disampaikan, seperti kekhawatiran terhentinya operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kantin sekolah, serta dugaan bahwa siswa justru akan menghabiskan waktu di kafe apabila sekolah diliburkan, dinilai menunjukkan kekeliruan dalam menentukan skala prioritas kebijakan sekaligus mengandung kelemahan logika.
Pernyataan tersebut dapat dipandang sebagai bentuk pengalihan isu (red herring) karena perhatian justru diarahkan pada persoalan operasional dan aktivitas siswa, sementara ancaman kesehatan akibat paparan kabut asap, termasuk risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan terhadap paru-paru anak, menjadi kurang diperhatikan. Ironisnya, program MBG sendiri bertujuan mendukung peningkatan kesehatan dan kesejahteraan siswa. Karena itu, mempertahankan kegiatan sekolah dengan mengorbankan kesehatan peserta didik demi memastikan distribusi makanan tetap berjalan merupakan sebuah paradoks yang bertentangan dengan tujuan program tersebut.
Selain itu, argumentasi tersebut juga memperlihatkan adanya dilema palsu (false dilemma), seolah-olah pemerintah hanya memiliki dua pilihan: mempertahankan kegiatan belajar tatap muka atau menghentikan operasional dapur MBG. Padahal, terdapat berbagai alternatif kebijakan yang memungkinkan perlindungan kesehatan siswa sekaligus menjaga keberlangsungan program pemenuhan gizi.
Pemerintah daerah semestinya menerapkan kebijakan yang lebih fleksibel dan adaptif dengan menempatkan keselamatan warga sekolah sebagai prioritas utama.
Source: voxarea