29/10/2018
Bagai mana caranya untuk mengenal diri kita ?….. ,
Untuk mengenali diri kita, bisa ditelusuri dari asal usul. Wujud diri manusia, wujud manusia terdiri dari 4 (empat) unsur yaitu :
Unsur Tanah
Unsur Air
Unsur Angin
Unsur Api
Dari empat unsur tersebut diatas yaitu yang merupakan wujud FISIK manusia, sudah banyak di pahami oleh umat manusia. Disamping itu masih ada 2 (dua) unsur penentu atas langkah manusia di dunia yang belum banyak di ketahui dan dipahami oleh sebagian besar ummat manusia. Unsur tersebut adalah merupakan penentu keselamatan di dunia dan di akhirat. Ketika manusia mampu mengenal asal usul kedua unsur tersebut maka bersyukurlah karena itu adalah salah satu modal dasar untuk menuju kepada kesempurnaan yang hakiki. Adapun sebagian kecil manusia baru mampu mengenal salah satu saja dari dua unsur tersebut. Adapun unsur-unsur tersebut adalah :
– Unsur Pertama
Fungsinya langsung berhubungan dengan hal yang “NYATA”, ke-dunia-an atau bisa disebut juga Hablumminanas, dimana unsur ini letaknya mulai dari bagian “Tenggorokan keatas”.
– Unsur Kedua
Fungsinya langsung berhubungan dengan PENCIPTANYA yaitu ALLOH SWT, atau bisa disebut juga Hablumminalloh, dimana letaknya tersembunyi didalam rongga dada.
Dalam hal perjalanan kehidupan manusia di dunia banyak diantaranya yang mengedepankan unsur Pertama, sedangkan unsur yang Kedua belum secara mutlak dilaksanakan, padahal ditempat itulah sifat-sifat jujur, adil, lembah manah serta tulus ikhlas dalam bertindak bersemayam, sedangkan tempat bersemayamnya sifat-sifat ambisi, emosi, ego diri dan lain terkait ke-dunia-an berada pada kepala/otaknya. Manakala manusia dapat menyelaraskan kedua unsur tersebut, maka akan teraihlah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Untuk mengenali kedua unsur tersebut sesungguhnya kita bisa amati dari prilaku manusia di dunia, adapun unsur yang pertama dari dua unsur tersebut adalah seperti yang telah disebutkan/diuraikan dalam alinea diatas, ALLOH SWT telah memberikan kelebihan didalam diri manusia yaitu suatu sarana/fasilitas untuk kehidupan di dunia, dengan sarana/fasilitas itu manusia mampu mengarungi kehidupan, manusia mampu melihat, mendengar, membedakan beraneka ragam rasa dan mengenal bentuk-bentuk ciptaan ALLOH SWT di alam dunia ini. Ketika manusia “mengagungkan” sarana ini maka manusia akan terjebak kedalam satu sisi saja yaitu akan menimbulkan sifat-sifat ambisi, emosi, ego diri bahkan ke-dunia-an, yang kemudian bilamana dirinya tidak dapat mengendalikannya untuk tujuan baik maka akan membawa dirinya hanya untuk mengejar kebahagiaan/kesenangan/kenikmatan di alam dunia saja (ke-dunia-an / Hablumminanas). Seharunya umat manusia bisa menganalisa dan menyadari tentang hal ini, karena dari fasilitas ini sesungguhnya ALLOH SWT menurunkan suatu ujian dan cobaan di alam dunia ini, kenapa demikian ?…., karena sesungguhnya asal usul unsur fasilitas itu adalah tempat dimana bersemayamnya hal-hal yang kurang baik/buruk bilamana manusia tidak dapat mengendalikannya. Sesungguhnya ummat manusia sudah banyak mengetahui tentang mahluk ciptaan ALLOH SWT yang paling buruk, yang telah berikrar untuk mengganggu ummat manusia agar menjadi golongan mereka untuk masuk kedalam api neraka. Mahluk Apakah itu ?…., (jawabannya anda analisa sendiri) “MAHLUK” itulah yang atas kehendak-Nya diciptakan untuk melengkapi pada diri manusia sebagai unsur ke-dunia-an /Hablumminanas atau unsur Pertama. Sebelum mahluk ini dijadikan salah satu unsur didalam diri manusia, untuk mengurangi unsur buruknya maka oleh ALLOH SWT mahluk ini dibakar dalam Api Neraka yang paling dasar, dimana proses pembakarannya memakan waktu teramat sangat lama.
Fungsi unsur yang kedua, kita bisa mengamati dari kehidupan kita, contohnya demi mengejar “ambisi” kadang-kadang manusia secara pribadi, kelompok atau golongan atau secara berjamaah sering mengucapkan kebohongan, dan yang mengucapkan kebohongan adalah “mulut” dan mulut tempatnya berbohong. Namun salah satu unsur “penyelaras” yang ada pada diri manusia yaitu unsur yang kedua akan membisikan yang sebenarnya, yaitu bahwa bohong adalah hal yang tidak dibenarkan/salah. Namun karena manusianya tidak dapat mengendalikan emosi, ambisi dan ego diri-nya, maka unsur pertama yang penuh dengan “hawa iblis” mengalahkan unsur kedua yang berbicara apa adanya, yang akhirnya terjadilah hal-hal yang tidak mendapatkan ridho dari sisi ALLOH SWT.