29/04/2013
Nelayan Pantura Minta Jaminan Ketersediaan BBM
Ribuan nelayan di pantura, Jawa Tengah meminta jaminan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, karena rencana penerapan dua harga BBM bersubsidi dikhawatirkan akan berdampak langsung kepada nelayan yang mengandalkan pembelian dengan jeriken di SPBU.
Pemantauan Media Indonesia di pantura Senin (29/4) ribuan nelayan di pantura Brebes - Rembang, Jawa Tengah mulai bergairah melaut, setelah cuaca di Laut Jawa kembali bersahabat dengan gelombang laut tidak lebih dari 1 meter, meskipun hasil tangkapan belum dapat menggembirakan.
Sejak dinihari, ribuan kapal berbagai jenis telah mulai meninggalkan berbagai dermaga pelabuhan perikanan seperti Kramat (Tegal), Waru Condong, Taman (Pemalang), Wonokerto dan Pelabuhan Nusantara (Pekalongan), Klidang Lor dan Gringsing (Batang), Tawang Sewu dan bandengan (Kendal), Tambak Lorok (Semarang), Moro dan Wedung (Demak), Bandengan (Jepara), Juwana (Pati), Gisik Agung dan Sarang (Rembang).
Namun, sebagian besar nelayan masih keluhkan keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) karena ketersediaan di stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) terbatas hanya untuk kapal besar, sedangkan perahu kecil lebih banyak mencari BBM di SPBU dengan jeriken.
"Kami sering ditolak jika membeli di SPBU. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan solar kami mencari di beberapa SPBU di pantura," kata Sunuri, 49, nelayan di Wonokerto, Pekalongan.
Hal senada diungkapkan oleh Kuryadi, 43, nelayan di Moro, Demak. "Kalau membeli eceran bisa mencapai Rp6.000 per liter, jauh dibanding di SPBU Rp4.500 per liter," katanya.
Menyangkut rencana pemberlakuan dua harga BBM bersubsidi, nelayan meminta jaminan ketersediaan BBM untuk nelayan karena pemberlakuan dua harga dikhawatirkan akan semakin mempersulit nelayan memperoleh BBM.
Ketua HNSI Pekalongan Rasdjo Wibowo mengatakan, rencana pemerintah memberlakukan dua harga BBM bersubsidi diharapkan tidak akan memengaruhi ketersediaan BBM bersubsidi untuk neleyan, terutama nelayan kecil yang mengandalkan pembelian dengan jeriken di SPBU.
"Jangan sampai dengan berlakunya dua harga nelayan malah dipersulit seperti pengawasan yang terlalu ketat sehingga nelayan dicurigai menimbun," kata Rasdjo.
Sekretaris Forum Nelayan (Fornel) Jepara Solikul mengatakan jaminan ketersediaan BBM bersubsidi untuk nelayan oleh pemerintah sangat diperlukan, karena saat ini penghasilan para nelayan cenderung turun. Jika ketersediaan solar tidak menentu, nasib nelayan akan semakin terpuruk.
Untuk menghindari penyelewengan, menurut dia, cukup pengendalian dengan kartu nelayan karena jumlah nelayan yang sudah mendapatkan kartu pengenal tersebut mencapai 50% dari sekitar 13.000 nelayan.