Wisata Bahari PPNP

Wisata Bahari PPNP PPNP (Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan) follow twitter Fasilitas hiburan lain
masih dalam proses pembanganan dan terus dikembangkan.

Kawasan rekreasi ini dipersiapkan menjadi one stop recreation dengan fasilitas hiburan yang beraneka
ragam. Saat ini obyek yang dapat dinikmati antara lain : Akuarium (Sea World) yang menampilkan koleksi
berbagai jenis ikan laut dan ikan tawar serta biotanya. Taman bermain anak, pemandangan pantai dan
muara pelabuhan dengan lalu lintas keluar masuk kapal dari dan ke pelabuhan. Taman rekreasi ini terletak di sebelah
pelabuhan Pekalongan 4 km ke utara dari pusat kota

27/08/2013

PPN Pekalongan, 26 Agustus 2013

Pada hari jum’at, tanggal 23 Agustus 2013, PPN Pekalongan menggelar Senam Pagi Sehat Pantai di Lokasi Wisata Bahari. Kegiatan tersebut diikuti oleh Bpk. Mansur, kepala PPN Pekalongan, beserta ibu, karyawan/ti PPN Pekalongan, Dharmawanita Persatuan PPN Pekalongan dan instansi di sekitar lingkungan PPN Pekalongan, serta pengunjung lokasi wisata sebagai peserta. Setelah senam usai para peserta senam dapat menikmati semangkuk sup ikan secara cuma-cuma yang disajikan dalam keadaan hangat. Hal ini bertujuan agar masyarakat terbiasa dan gemar mengkonsumsi ikan.

Pada hari yang sama PPN Pekalongan juga kedatangan satu tim tamu yang berasal dari Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Pekalongan yang mengadakan kegiatan kegiatan Donor Darah secara Sukarela di Ruang Pertemuan PPN Pekalongan. Kegiatan ini dimulai setelah senam pagi usai dilaksanakan. Para peserta senam juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah ini, tidak ketinggalan Ibu Sri Rejeki Rahayu (Ketua Dharmawanita Persatuan PPN Pekalongan) juga mendonorkan darah dalam kegiatan ini. Terkumpul sekitar ± 30 kantong darah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan darah di UDD PMI Kota Pekalongan.

TPI Pekalongan Libur Seminggu, Pasokan Ikan Terancam LangkaPasokan ikan baik di TPI maupun di pasar tradisional yang ada...
05/08/2013

TPI Pekalongan Libur Seminggu, Pasokan Ikan Terancam Langka

Pasokan ikan baik di TPI maupun di pasar tradisional yang ada di Pekalongan dan sekitarnya terancam akan mengalami kelangkaan pada Lebaran mendatang mengingat seluruh aktifitas jual beli dan lelang di TPI akan diliburkan selama satu minggu penuh mulai hari Selasa, 6 Agustus mendatang.

Kepada Radio Kota Batik, Pengurus U.D Tata Tintas Mandiri, Sopan Sofianto mengatakan, memasuki H+2 baru kelangkaan pasokan ikan akan mulai dirasakan baik oleh para pengusaha maupun pedagang di pasar tradisional. Selain itu, harga ikan juga akan ikut naik sebanyak 50 persen dari harga normal.

Sopan Sofianto menjelaskan, saat ini harga ikan masih dalam kondisi normal, terpantau harga ikan banyar dan ikan tongkol sejak beberapa hari terakhir masih berada di kisaran 20 ribu rupiah per kilogram, namun angka tersebut akan melambung hingga 50 persen saat H+2 Lebaran mendatang, harga dua jenis ikan tersebut bisa mencapai 27 ribu bahkan bisa mencapai diatas 30 ribu per kilogram.

Sementara itu, Kepala TPI setempat, Kasim justru mengaku optimis kebutuhan ikan dapat terpenuhi karena selama Ramadan lalu produksi ikan di TPI cukup besar sehingga dapat dimanfaatkan para pedagang untuk menyimpan ikan yang tidak termasuk dalam kebutuhan pasar.

Kasim menambahkan TPI memang dinonaktifkan dari seluruh aktifitas karena tidak adanya kapal yang masuk.

Nelayan sebagian besar masih berada di darat guna melewati Lebaran bersama keluarga sementara untuk nelayan yang berangkat melaut baru akan pulang pada jangka waktu 3 bulan kedepan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Safari Ramadan ke PekalonganMenteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, melaku...
18/07/2013

Menteri Kelautan dan Perikanan Safari Ramadan ke Pekalongan

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, melakukan Safari Ramadan ke Kota Pekalongan, Rabu (17/7/2013).

Ia mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara Kota Pekalongan dan mengunjungi pasar murah yang di selenggarakan oleh pemerintah Kota Pekalongan di kawasan Pelabuhan.

Selain itu, ia juga akan melakukan sosialiasai terkait program Kementrian Kelautan dan Perikanan kepada nelayan setempat terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Menteri Kelautan dan Perikanan didampingi langsung oleh Wali Kota Pekalongan, Basyir Ahmad.

16/06/2013

Harga Ikan Melesat Akibat Anomali Cuaca

Harga ikan di Tempat Pelelangan Ikan Kota Pekalongan, Jawa Tengah, selama sepekan terakhir cenderung naik, karena pasokan ikan turun akibat banyak nelayan yang tidak melaut.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah TPI Kota Pekalongan, Kasim Sumadi di Pekalongan, Minggu, mengatakan kondisi terang bulan dan anomali cuaca berpengaruh besar terhadap turunnya hasil tangkapan ikan.

"Jika pada kondisi normal hasil tangkapan ikan mampu mencapai 100 ton lebih tetapi kini hanya delapan ton saja. Kondisi itu mengakibatkan harga ikan cenderung naik," katanya.

Harga ikan layang semula hanya mencapai Rp9.000 per kilogram kini naik menjadi Rp11.000/kg, tongkol Rp18.000/ kg kini naik sekitar Rp20.500/kg, lemuru semula Rp38 ribu/kg naik Rp40.500/kg, dan bawal semula Rp27 ribu/kg naik menjadi Rp30 ribu/ kg.

Nelayan Pantura Minta Jaminan Ketersediaan BBMRibuan nelayan di pantura, Jawa Tengah meminta jaminan ketersediaan bahan ...
29/04/2013

Nelayan Pantura Minta Jaminan Ketersediaan BBM

Ribuan nelayan di pantura, Jawa Tengah meminta jaminan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, karena rencana penerapan dua harga BBM bersubsidi dikhawatirkan akan berdampak langsung kepada nelayan yang mengandalkan pembelian dengan jeriken di SPBU.

Pemantauan Media Indonesia di pantura Senin (29/4) ribuan nelayan di pantura Brebes - Rembang, Jawa Tengah mulai bergairah melaut, setelah cuaca di Laut Jawa kembali bersahabat dengan gelombang laut tidak lebih dari 1 meter, meskipun hasil tangkapan belum dapat menggembirakan.

Sejak dinihari, ribuan kapal berbagai jenis telah mulai meninggalkan berbagai dermaga pelabuhan perikanan seperti Kramat (Tegal), Waru Condong, Taman (Pemalang), Wonokerto dan Pelabuhan Nusantara (Pekalongan), Klidang Lor dan Gringsing (Batang), Tawang Sewu dan bandengan (Kendal), Tambak Lorok (Semarang), Moro dan Wedung (Demak), Bandengan (Jepara), Juwana (Pati), Gisik Agung dan Sarang (Rembang).

Namun, sebagian besar nelayan masih keluhkan keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) karena ketersediaan di stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) terbatas hanya untuk kapal besar, sedangkan perahu kecil lebih banyak mencari BBM di SPBU dengan jeriken.

"Kami sering ditolak jika membeli di SPBU. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan solar kami mencari di beberapa SPBU di pantura," kata Sunuri, 49, nelayan di Wonokerto, Pekalongan.

Hal senada diungkapkan oleh Kuryadi, 43, nelayan di Moro, Demak. "Kalau membeli eceran bisa mencapai Rp6.000 per liter, jauh dibanding di SPBU Rp4.500 per liter," katanya.

Menyangkut rencana pemberlakuan dua harga BBM bersubsidi, nelayan meminta jaminan ketersediaan BBM untuk nelayan karena pemberlakuan dua harga dikhawatirkan akan semakin mempersulit nelayan memperoleh BBM.

Ketua HNSI Pekalongan Rasdjo Wibowo mengatakan, rencana pemerintah memberlakukan dua harga BBM bersubsidi diharapkan tidak akan memengaruhi ketersediaan BBM bersubsidi untuk neleyan, terutama nelayan kecil yang mengandalkan pembelian dengan jeriken di SPBU.

"Jangan sampai dengan berlakunya dua harga nelayan malah dipersulit seperti pengawasan yang terlalu ketat sehingga nelayan dicurigai menimbun," kata Rasdjo.

Sekretaris Forum Nelayan (Fornel) Jepara Solikul mengatakan jaminan ketersediaan BBM bersubsidi untuk nelayan oleh pemerintah sangat diperlukan, karena saat ini penghasilan para nelayan cenderung turun. Jika ketersediaan solar tidak menentu, nasib nelayan akan semakin terpuruk.

Untuk menghindari penyelewengan, menurut dia, cukup pengendalian dengan kartu nelayan karena jumlah nelayan yang sudah mendapatkan kartu pengenal tersebut mencapai 50% dari sekitar 13.000 nelayan.

06/04/2013

Pelabuhan Perikanan Perlukan Perbaikan Fasilitas

DIALOG - Perwakilan dari Masyarakat Nelayan Pantura Jawa yang meliputi wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan serta Kabupaten Batang, berkumpul untuk menghadiri dialog bersama dengan Dirjen Perikanan Tangkap.

PANJANG WETAN - Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan menganggap hasil tangkapan ikan berkisar 50 ton perhari dinilai terlalu kecil, agar meningkat maka memerlukan perbaikan berbagai fasilitas. Karena dulu, produksi perikanan Pekalongan pernah mecapai 200 ton perhari dan menjadi salah satu lumbung ikan terbesar di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Kepala PPN Pekalongan, Ir Jainur Manurung MM dalam sambutannya pada acara Dialog Dirjen Perikanan Tangkap dengan Masyarakat Nelayan Pantura Jawa, dalam menyikapi penurunan produksi perikanan, di aula kantor setempat, Kamis (28/3).

Selama ini sarana-prasarana yang ada kurang terawat, sedangkan perbaikan berbagai fasilitas tidak bisa dikerjakan karena PPN Pekalongan tidak memiliki kemampuan merehab atau membangun di atas aset PERUM. Ini didasarkan PP No 6 tahun 2009 tentang pengelolaan Barang Milik Negara atau Daerah. "Kita terkendala dengan peraturan yang ada sehingga tidak bisa melakukan perbaikan fasilitas. Akibatnya, banyak sarana dan prasarana yang kurang terawat," ujarnya.

Hal lain yang menjadi penyebab penurunan produksi ikan yaitu karena terjadi penjualan ikan di laut yang mencapai lebih dari 70 persen hasil tangkapan ikan, harga BBM tinggi dan Fishing Ground yang semakin jauh serta adanya pembangunan Pelabuhan Perikanan baru di daerah lain. "Bahkan, tingkat pendangkalan atau sedimentasi dari kolam pelabuhan yang memprihatinkan serta kualitas air kolam pelabuhan yang kotor, juga turut menjadi penyebab," jelasnya.

Namun, beberapa langkah-langkah telah diambil dalam mengembalikan kejayaan perikanan Pekalongan seperti melakukan konsolidasi internal dan penyamaan persepsi, mengadakan dialog dengan pemilik kapal, curhat untuk kebutuhan pelayanan dan fasilitas yang dibutuhkan. Mendayagunakan Wisata Bahari dengan tiga agenda yaitu senam pagi sehat pantai, gemar ikan, bazar ikan segar dan berkualitas "Kami juga mencatat perlu adanya tambahan kapal pengangkut ikan. Selain itu, usaha revitalisasi atau meneruskan Master Plan yang ada bisa dilaksanakan sebagai alternatif lain," bebernya.

Dalam acara tersebut, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), Dr Ir Gellwynn Daniel Hamzah Jusuf MSc didampingi oleh jajarannya seperti Direktorat Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan M Zaenuri Hanafi serta Direktur Pelabuhan Perikanan Ir Tyas Budiman MM.

Pada kesempatan tersebut, Dr Ir Gellwynn Daniel Hamzah Jusuf MSc menerangkan kedatangan dirinya beserta jajaran dengan maksud untuk menjelaskan aturan-aturan yang ada sehingga bisa diterima dan diserap oleh masyarakat, khususnya nelayan Pantura Jawa. "Kami ingin, agar nelayan dan pengusaha perikanan yang kecil maupun menengah bisa berjalan dengan baik tanpa harus berbenturan satu sama lainnya. Sehingga diharapkan produksi perikanan tangkap bisa terus mengalami peningkatan," terangnya.

Ribuan nelayan di pantura Jawa Tengah berhenti melaut karena mereka kesulitan mendapatkan solar sebagai bahan bakar kapa...
03/04/2013

Ribuan nelayan di pantura Jawa Tengah berhenti melaut karena mereka kesulitan mendapatkan solar sebagai bahan bakar kapal. Bahan bakar itu sulit diperoleh karena sebagian besar SPBN kehabisan persediaan.

Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, Rabu (3/4), ribuan kapal nelayan terpaksa disandarkan di sejumlah pelabuhan perikanan sepanjang pantura mulai dari Brebes hingga Rembang.

Kondisi itu juga memaksa ribuan nelayan menganggur, meskipun cuaca di Laut Jawa dalam kondisi baik. Mereka berharap kuota solar bersubsidi ditambah guna mencukupi kebutuhan nelayan, karena solar yang tersedia di stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) hanya cukup untuk beberapa kapal.

"Setiap hari SPBN kehabisan stok, sedangkan antrean kapal panjang. Untuk membeli ke SPBU takut ditangkap meskipun telah mengantongi izin," kata Ketua Paguyuban Nelayan Kabupaten Batang Ahmad Roni.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kuswandi, 46, nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan. Terbatasnya stok solar di SPBN membuat para nelayan mengentikan aktivitas seminggu terakhir.

Solar di SPBN Terbatas, Nelayan Pantura Berhenti Melaut

13/01/2013

KKP Siapkan Renstra Ekspor Hasil Perikanan

Pekalongan, (Analisa). Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah menyiapkan rencana strategis (renstra) mengawal kinerja ekspor produk hasil perikanan Indonesia yang kian menunjukkan tren positif.
"Rencana strategis tersebut akan ditempuh melalui upaya diversifikasi pasar ekspor, negosiasi hambatan tarif, penanganan hambatan pasar, serta upaya pemenuhan ketersediaan bahan baku kegiatan ekspor." Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo dalam keterangan tertulis diterima ANTARA Pekalongan, Minggu.

Menurut dia, sejalan dengan meningkatnya tren positif itu, KKP mendorong industri pengolahan hasil kelautan dan perikanan untuk terus meningkatkan produktivitas dan nilai tambah (value added) produk perikanan.

"Meningkatnya nilai tambah dan daya saing produk perikanan dapat berdampak pada meningkatnya kinerja ekspor produk perikanan Indonesia pada tahun ini," katanya.

Ia mengatakan bahwa capaian nilai ekspor hasil perikanan Indonesia 2012 lalu yaitu sebesar 3,9 miliar Dollar AS dengan volume sebesar 1,27 juta ton atau naik sebesar 8,3 persen jika dibandingkan dengan target ekspor dalam rencana strategi (renstra) KKP 2010-2014 yang ditetapkan sebesar 3,6 miliar dollar AS.

Kinerja ekspor hasil perikanan ini, katanya, telah mengarah pada produk bernilai tambah dengan pertumbuhan neraca perdagangan perikanan sebesar 11,49 persen. "Dari jumlah tersebut, neraca perdagangan produk perikanan pada 2012 surplus sebesar 76,47 persen," katanya.

02/01/2013

HSNI siapkan beras paceklik untuk nelayan pekalongan

24/12/2012

Perikanan Optimistis Target Ekspor US$4,2 Miliar Akan Tercapai

Pekalongan – Kementerian Kelautan dan Perikanan terus menggiatkan penetrasi produk perikanan ke sejumlah pasar ekspor nontradisional, seperti Timur Tengah dan Afrika.

“Saat ini ekspor produk perikanan ke beberapa negara nontradisional ke Timur Tengah dan Afrika semakin tumbuh signifikan. Permintaan dari kedua kawasan negara akan produk olahan ikan cukup tinggi,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo pada siaran pers yang dikirim ke Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (24/12).

Menurut dia, langkah diversifikasi pasar ekspor tersebut merupakan salah satu upaya untuk menjaga surplus neraca perdagangan komoditas perikanan dan pasar tradisional, seperti Amerika, Jepang, dan Uni Eropa.

Sejumlah produk perikanan berasal dari Indonesia yang menarik perhatian konsumen pada beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah, seperti udang, tuna kaleng, sarden, mackerel kaleng, dan ikan kering.

Berdasarkan data KKP menunjukkan pada 2010 volume ekspor produk perikanan ke Afrika sebesar 24 ribu ton dengan nilai US$58 juta dan pada 2011 meningkat sebesar 29 ribu ton dengan nilai US$81 juta.

“Hingga Agustus 2012 tercatat volume 23 ribu ton dengan nilai US$56 juta,” katanya.

Untuk volume ekspor produk perikanan ke kawasan Timur Tengah pada 2010 mencapai 14 ribu ton dengan nilai US$29 juta, pada 2011 sebesar 13 ribu ton dengan nilai US$30 juta, dan ekspor pada Agustus 2012 meningkat mencapai 14 ribu ton senilai US$40 juta.

“Tren pertumbuhan ekspor pada 2012 menunjukkan bahwa perluasan pasar ke dua kawasan ini cukup bagus dengan ditandai laju ekspor meningkat sekitar 25 persen,” katanya.

Menurut dia, secara keseluruhan neraca perdagangan komoditas perikanan di Indonesia pada 2012 surplus hampir sekitar 78 persen.

“Karena itu, kami optimistis target ekspor sebesar US$4,2 miliar akan tercapai. Tercapainya target ekspor itu juga karena disokong dengan program revitalisasi tambak udang di pantai utara Jawa Barat yang telah berjalan sejak Oktober 2012,” katanya.

15/12/2012

Pemkot Reklamasi Pantai

mengatasi rob yang selalu menggenangi kawasan Pekalongan Utara, Pemkot merencanakan untuk mereklamasi pantainya sepanjang 4 kilometer. “Jika Singapura mampu melakukan hal ini (mengatasi rob-red). Tentu saja pekalongan juga bisa,” ucap Walikota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad saat menghadiri acara presentasi laporan akhir penyusunan master plan kawasan pesisir (Mitigasi dan Adaptasi) yang dilakukan oleh PT Dann Bintang Gelarrancana di ruang Sunan Kalijaga (12/12). Untuk langkah awal, Pemkot akan melakukan pengurugan di sekitar pantai Pasir Kencana sejauh dua kilometer dari bibir pantai, yang akan menghasilkan lahan sekitar 400 hektar. Usaha melakukan reklamasi dengan pembangunan The Waterfront of World's Batik City didasarkan perkiraan para pakar yang menjelaskan jika 100 tahun mendatang air rob akan menggenangi sebagian besar wilayah Kota Pekalongan.

“Untuk dibendung akan menelan banyak biaya, dan tingkat kesulitannya sangat tinggi, sehingga kami menempuh langkah dengan reklamasi dengan pembangunan The Waterfront of World's Batik City,” bebernya. Rencananya proyek besar ini akan dimulai pada 2015 mendatang dan selesai pada 2019. Meski biayanya terbilang relatif tinggi yakni mencapai Rp 8 triluyun, namun diyakini jika hal itu akan bisa tercapai dengan mengikutsertakan peran serta pihak swasta dan masyarakat. “Direncanakan nantinya akan ada perumahan-perumahan dan pusat bisnis. Namun hasil reklamasi tanahnya adalah milik negara jadi sebagian besar peruntukkan adalah untuk publik area. Diharapkan nantinya bisa memberikan manfaat bagi daerah-daerah di sekitarnya,” tandasnya.

Rencananya di lahan reklamasi itu juga akan dibangun Jalan Lingkar Utara (Jalingkur) untuk memperudah akses bagi para pengunjung yang hendak datang ke Kota Pekalongan. “Jika harus membebaskan lahan yang ada, biayanya akan jauh lebih mahal, dan seringkali harus berhadapan dengan hukum seperti yang dialami sejumlah daerah. Namun melalui reklamasi dengan pembangunan The Waterfront of World's Batik City diharapkan lebih baik, karena juga menjadi pusat bisnis dan perdagangan. “Kami berharap visi Kota Pekalongan menjadi Kota Jasa yang madani bisa terwujud layaknya Kota Madinah di jaman Rasulullah,” pungkas Walkot.

12/12/2012

Sedimentasi atau pedangkalan di muara sungai Pekalongan sangat parah. Sebab menghambat masuknya kapal ke pelabuhan. Oleh karena itu, pembangunan Pelabuhan Onshore, sebagai salah satu kawasan penunjang kawasan Minapolitan, diharapkan cepat rampung. Demikian permintaan Kepala DPPK, Candra Herawati, yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi pembangunan Kawasan Ekonomi Strategis Berbasis Minapolitan di Komisi A DPRD. “Terjadi sedimentasi karena pelabuhan kita saat ini adalah pelabuhan muara sungai, sehingga terjadi sedimentasi yang luar biasa di pelabuhan,” ucapnya.

Akibat sedimentasi tersebut membuat pedangkalan di pelabuhan muara sungai. Sehingga kapal tidak bisa masuk ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Pekalongan dan menjual hasil tangkapan di tengah laut. “Dulu, setiap hari ada 75 kapal hingga 100 kapal masuk ke TPI Kota Pekalongan. Namun saat ini, kapal yang masuk ke TPI Kota Pekalongan hanya 15 kapal perhari,” ungkapnya.

Dengan kendala tersebut, banyak nelayan yang akhirnya memilih menjual ikan di laut yang mengakibatkan produksi ikan di Kota pekalongan turun sebanyak 70 persen dari sebelumnya. “Padahal berbagai upaya sudah kami lakukan, termasuk salah satunya pengerukan di muara. Namun hal itu belum berpengaruh besar,” imbuhnya lagi. Dibeberkan Candra, pada tahun 2001, produksi perikanan tangkap Kota Pekalongan mencapai 71.500 ton. Sedangkan tahun 2011, produksi perikanan hanya 18.689 ton. Dengan raman rata-rata Rp 126 Miliar pertahun, dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 3,8 Miliar.

Karena itu, Candra sangat berharap pelabuhan onshore segera terwujud agar produksi perikanan Kota pekalongan kembali berjaya seperti tahun-tahun sebelumnya. “Kami minta pembangunan pelabuhan onshore dipercepat karena pelabuhan onshore merupakan solusi agar kapal-kapal besar bisa masuk ke TPI Kota pekalongan. Harapan kami, 2015 pelabuhan onshore bisa beroperasi,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP) Jainur Manurung menjelaskan, pelabuhan onshore akan selesai dibangun pada 2014. pembangunan pelabuhan onshore menyerap anggaran mencapai Rp 244,996 miliar. Sementara pengembangan zona inti minapolitan yang di dalamnya mencakup pembangunan pelabuhan onshore telah dimulai sejak 2011.

Diantaranya pembebasan lahan seluas 47.400 meter persegi senilai Rp 1,462 Miliar dan pematangan lahan senilai Rp 3,262 Miliar. Sedangkan pada 2012 rehabilitasi break water sisi timur senilai Rp 3,736 Miliar. Untuk tahun 2013, kegiatan yang direncanakan untuk pengembangan zona inti menapolitan antara lain pembangunan TPI senilai Rp 6,536 Miliar dan pembangunan break water I senilai Rp 49 Miliar.

KOTA – Sedimentasi atau pedangkalan di muara sungai Pekalongan sangat parah. Sebab menghambat masuknya kapal ke pelabuhan. Oleh karena itu, pembangunan Pelabuhan Onshore, sebagai salah satu kawasan penunjang kawasan Minapolitan, diharapkan cepat rampung. Demikian permintaan Kepala DPPK, Candra Heraw...

Address

Jalan WR. Supratman
Pekalongan
51141

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wisata Bahari PPNP posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Wisata Bahari PPNP:

Share