06/05/2015
Copas news....
Pendapat menarik dari seorang talent scout dan coach usia dini Eropa, Dean Wheatley. Fyi, Dean Wheatley itu juga pendiri Arsenal Soccer School
Menurut Dean, Indonesia memiliki bakat alam yg luar biasa. Tapi sayangnya yang dilatih hanya skill, sedangkan otak taktiknya tidak dilatih. Anak Indonesia banyak yang bisa menggocek tapi sedikit yang mengerti gerakan tanpa bola. Di AS, porsi latihan taktik tidak kalah penting dengan latihan teknik, dimana mereka dibiasakan bergerak sebagai 1 Tim, bukan individu.
Dari umur 11 tahun mereka dilatih kemana harus berlari jika sedang tidak memegang bola dan kemana harus ambil posisi saat lawan membawa bola. Di u-12, kalah menang dianggap tidak penting, yang utama membentuk kebiasaan, teknik & taktik. Sering pertandingan malah tidak hitung Skor.
Di level u-12 diajarkan cara bertahan bersama. Sedangkan penyerang dibiasakan cara lari tanpa bola. Semua dilakukan dengan cara fun. Karena bukan cari menang, anak dilarang asal buang bola demi jaga keunggulan, lebih baik hilang bola tapi coba keluar dari tekanan dengan benar.
Menurut Dean mementingkan kemenangan di usia dini sama saja dengan mencurangi pertumbuhan anak-anak. Mungkin karena itu banyak Tim junior Indonesia yang berprestasi tidak bisa memenuhi potensi, karena tidak memperhatikan pendidikan bolanya. Salah satu metode penting adalah yang dipopulerkan oleh Weil Coerver, tidak ada posisi kecil bagi pemain, semua harus bisa bertahan & menyerang.
Jadi kalo ada orang tua yang bilang anaknya striker jago , itu sudah salah, sampai u-15 mereka harus bisa main semua posisi. Jenjangan development pemain menurut Dean adalah u-12: habit, u-15: listening, u-18: compete.
U-12: habit. Di level ini yang penting adalah membentuk kebiasaan & kegemaran. Fun & habit lebih penting dari menang kalah
U-15: listening. Di usia ini mereka mulai diberikan instruksi spesifik dan dilihat kemampuan mereka mencerna & menerapkan. Di level ini menang kalah juga masih tidak sepenting mengikuti/menerapkan instruksi.
U-18: Compete. Di usia ini mereka baru dituntut untuk berjuang, namun bukan untuk sekedar mengejar kemenangan. Yang ditanamkan adalah semangat juang. Di level u-18: selain semua hal yang ditanamkan di usia sebelumnya, di usia ini dibentuk karakter dan disiplin bermain.
Pemain u-18 dituntut berlatih lebih berat dari mereka yg profesional, karena di level ini lah terlihat mana yang layak disimpan atau dilepas. Oleh karena itu klub Eropa cenderung mengambil bakat asing dibawah u-15, supaya bisa mereka bentuk dulu.
Salah satu penyakit sepak bola Asia adalah tuntutan menang di usia dini. “Pake kaki kanan, biar kuat!”, padahal lebih penting melatih kaki kiri.”Buang aja yg jauh” padahal lebih baik melatih reaksi anak untuk memainkan bola dalam tekanan. Menurut Dean sulit bagi sepak bola Indonesia untuk berkembang karena tidak ada kesinambungan dari sepak bola junior ke senior. Sistimnya beda semua
Menurut Dean banyak sekolah bola di Indonesia yang tidak melatih “otak bola”. Jika mau maju, Mau gak mau jika memang berbakat harus hijrah ke Eropa. Banyak anak Jepang bayar sendiri untuk ikut latihan klub Eropa.
Dulu waktu bepe pertama ke Belanda dan berlatih di Roda Kerkrade dia terkejut melihat anak-anak Jepang yg berlatih disana, dengan biaya sendiri. Mungkin bagi Indonesia Arthur Irawan adalah contoh kasus yang hampir sama. Ke Eropa dengan biaya sendiri.
Di tahun 90an kita pernah punya program primavera yang menitipkan satu squad di Sampdoria, menurut Dean kesalahan program ini hanya satu. Kesalahan ini terulang dengan program penitipan di Uruguay. Selama berangkat berlatih ramai ramai, mereka tidak akan keluar dari comfort zone, dan tidak akan berkembang secara maksimal dari sisi individu.
Buktinya setelah harus masuk ke klub lain, mereka merasa terisolasi, kehilangan kenyamanan dan gak bertahan. Akhirnya terimingi gaji klub lokal.