04/01/2021
Hidup vs Ojek Online?
Ini tulisan keren dari kang Eka Prayoga
BELAJAR DARI GO-JEK
Hare gene rasanya belum lengkap kalau belum nginstall aplikasi Go-Jek di HP kita. Bener gak?
By the way, Saya bukan marketingnya Gojek lho ya. Moga-moga CEO nya (Mas Nadiem Makarim) baca. Invoice nyusul ya mas. Hahaha 😅
Begini...
Sadar gak, kalau Anda pernah pake aplikasi Go-Jek, Go-Ride misalnya, maka Anda akan masuk ke dalam menu dimana Anda harus menentukan tujuan destinasi dan lokasi Anda saat ini ada dimana. Lalu, akan keluar peta atau jalur perjalanannya, waktu tempuhnya, dan total berapa biaya yang harus Anda keluarkan (bayar) untuk mencapai kesana.
Sesimpel itu mekanismenya, tapi yang gitu doang itu membuat aplikasi ini memberikan solusi luar biasa khususnya bagi mereka yang mager (males gerak) dan males nyetir sendiri kalau mau kemana-mana (kaya Saya 😁).
Sekarang, coba Anda perhatikan baik-baik...
Dari kasus Go-Jek di atas, mari kita ambil pelajaran untuk diterapkan di kehidupan.
Apa saja itu?
Pertama, DESTINASI TUJUAN, "MAU KEMANA?".
Ya, mau kemana?
Ini mirip kalau kita hidup, lo mau kemana sih? Lo mau jadi apa sih? Lo mau ngapain sih? Lo targetnya apa sih? dst.
Menentukan destinasi (tujuan) menjadi sangat penting dalam hidup. Gojek paham itu.
Kalau misalkan pas pesen Gojek kita gak isi kolom destinasinya, ya gak akan bisa jalan. GJ Itu namanya. Iseng banget.
Ini 11-12 sama taksi. Kalau kita cegat taksi samping jalan, terus supirnya nanya, "Maaf pak, kita mau kemana?, terus kitanya jawab, "Terserahlah pak, gimana bapak aja.", ya mana mungkin taksi itu mau jalan. Kalaupun jalan, cuma buang-buang duit doang, nyampe tujuan sih kagak, wong gak ada tujuan.
Makanya, tentukan destinasi (tujuan) hidup Anda sekarang. Termasuk destinasi tahunan, bulanan, mingguan, harian. Goalnya apa?
Gimana, udah dibuat, kan?
Good job... 👍🏻
Kedua, POSISI SEKARANG, "ADA DIMANA?".
Terus, posisi saat ini kamu ada dimana?
Setelah menetapkan destinasi, tugas kita berikutnya adalah mencari tahu posisi saat ini ada dimana. Gojek begitu. Jelas. Hidup pun begitu. Mesti jelas. Harus jelas.
Katakanlah tadi Anda menargetkan pengen punya income 100 miliar per tahun. Pertanyaan selanjutnya, terus sekarang kamu punya income berapa per tahun? 10M? 1M? 100jt? Atau masih 10jt? Ayo tentukan.
Gak tahu kenapa, Saya sih yakin banget ya, Anda yang lagi baca status ini -iya Anda-, gak hafal persis dan gak ngitung plek secara detail berapa income tahunannya. Bener gak? Hayo ngaku aja udah.. Halah, kelihatan kok. Bener, kan? Hahaha
Kalau beneran gak tahu titik nolnya, alias posisi saat ininya, ya buruan cepet cari tahu. Hitung d**g... Januari, Februari, Maret, April, sampai Desember, per bulannya dapat berapa.
"wah gak hafal kang. Lupa euy...."
Euuuh pantes aja capai targetnya gagal mulu. PLAAAAK!!! 👊
Ketiga, PETA PERJALANAN, "MAU JALAN MANA?".
Kalau mesen Gojek, biasanya emang langsung dikasih tahu peta perjalanannya gimana dan kaya apa, tapi mari kita berada di posisi tukang mamang Gojek yang gak hafal jalan, kira-kira apa yang akan kita lakukan?
Yes! Buka Google Map...
(Cieeee, pengalaman ngojek pas jualan ceker. Cieee.. hahaha)
Gokilnya nih, kita pun bisa nentuin arahnya mau jalan mana? Mau jalan lancar atau macet? Mau jalan lama atau cepet? Mau belok kiri atau kanan? dst.
Nah hidup pun gitu. Fleksibel aja. Yang mesti ngotot itu targetnya. Destinasinya, bukan peta (cara) nya.
Ngelanjutin kasus barusan ya. Target 100 miliar per tahun. Katakanlah posisi saat ini baru 10 miliar per tahun. Pertanyannya, kumaha caranya meh capai angka sakitu? 100M.... Embo piye carene. Mikir lah!
Maka keluarlah peta perjalanannya...
"Oh klo mau income 100M setahun, berarti harus punya 10 bisnis yang masing-masing punya omset 36 miliar per tahun. Jadi kalau ditotal bisa dapet omset 360 miliar per tahun. Katakanlah margin 30%, income buat kita bisa nyampe 108M per tahun. Tembus tuh...."
Atau peta perjalannya gak mau gitu, ceritanya Anda pengen fokus jalanin satu bisnis, gak mau banyak-banyak. Yowes, sakarepmu. Berarti gini...
"Supaya tembus income 100M setahun, gw nyarinya bisnis yang marginnya tinggi aja deh. Misal main produk digital, marginnya kan bisa nyampe 80% tuh, wong costnya cuma iklan doang dan tambahan bonus-bonus. Berarti omset gw cukup tembusin angka 125M aja, gak usah 360M, kan marginnya 80%, jadi income bisa dapat 100M. Yeah!"
Ya kurang lebih begitulah hitung-hitungannya. Itu peta perjalanannya. Anda buat sendiri. Pertanyaannya, sekarang udah dibuat beluuuum? Hayo...
Keempat, WAKTU TEMPUH YANG HARUS DIHABISKAN.
Nah setelah keluar peta perjalanan dan jarak tempuhnya, entar bakal kelihatan waktu tempuhnya berapa lama.
Kadang apa yang tertera di aplikasi Gojek gak sesuai dengan kenyataan aselinya.
Di aplikasi tertera cuma 10 menit, eh nyatanya bisa 15-20 menit, tergantung kondisi dan keramaian jalan. Maka tugas kita adalah memilih jalan yang sekiranya cepat dan longgar. Atau kalau gak gitu, Anda mesti tahu jalan-jalan pintas agar bisa sampai lebih cepat. Jadi tinggal bilang ke mamang Gojeknya, "Mang, jalan sini aja mang...". 😁
Itulah pentingnya maklumat sabiqoh (pengetahuan sebelumnya) tentang jalan yang akan dilalui. Karena hal ini akan berpengaruh pada waktu tempuh yang akan dihabiskan.
Begitupun dalam hidup. Kita mesti punya ilmu, karena dengan adanya ilmu akan mempercepat waktu tempuh kita mencapai target yang kita buat.
Kaya dulu pas saya bingung jualan properti, bingungnya minta ampun, gak kebayang, soalnya kan harganya 400-500 juta an, gak kaya jual buku-buku http://billionairestore.co.id, atau jual gamis shalihahijab.com, atau jual erlcosmetic.com yang harganya cuma 400-500 ribu. Murah! Lha ini, properti kan harga produknya 100x lipat.... Stress!
Alhamdulillahnya, saya ngulik kanan-kiri, depan-belakang, ngaler-ngidul untuk bisa nemuin formula terbaik jualan properti. Hasilnya, 200+ unit bisa terjual dalam 1 hari. Alhamdulillah...
Dan sekarang formulanya itu udah dibocorin di onlinemarketingproperty.com. Moga aja hanya orang-orang tertentu yang tahu dan ikut coursenya, rahasia soalnya. Hehe
Kelima, BIAYA YANG HARUS DIBAYAR.
Terakhir pas buka aplikasi Gojek, tentu bakal muncul berapa biaya yang harus kita bayar.
Hikmahnya, kita mesti bayar. Gak bisa gratis. Gak mungkin d**g Anda bilang ke mamang gojeknya, "Mang GRATIS atuhlah mang...". Si mamangnya bilang, "Gundulmu neng!". Hahaha 🤣
Dalam kehidupan pun gitu. Itulah yang dinamakan investasi leher ke atas.
Kalau targetmu besar, ya siap-siap investasi leher ke atasmu juga besar.
Ini mirip kaya pas kita mau ke Surabaya dari Jakarta. Kalau mau cepet, ya naik pesawat, 1 jam nyampe, tapi bayar tiketnya lebih mahal.
"Ah gak mampu bayar...".
Yaudah, naik kereta aja, biayanya bisa lebih murah dari pesawat, gak akan kena macet, tapi waktu tempuh 14-15 jam.
"Ah gak ada juga kang..."
Yaudah, naik bis aja, lebih murah lagi, tapi waktu tempuh lebih lama, karena bisa jadi di jalan ada macet atau sejenisnya.
"Ah gak ada juga kang uangnya..."
Yaudah, mati aja sana! Kamu mah banyak alesan ih jadi orang teh. Mental miskin pisan. Udah jalan kaki aja kaya gembel... 😒
Pesannya, Anda mesti siap berinvestasi leher ke atas untuk mempercepat tercapainya goal-goal Anda tersebut.
Saya pribadi bulan ini memutuskan ikut mastermindnya ko Denny Santoso di Bali seharga $5000. Mahal? Sekilas terlihat demikian, tapi saya sadar bahwa ini bagian dari upaya mempercepat tercapainya goal-goal saya di tahun 2018.
Pertanyaannya, berapa budget yang Anda siapkan untuk investasi leher ke atas setiap tahunnya? Ayo sisihkan. Toh untuk kebaikan Anda.
Ibarat perjalanan Bandung-Bogor. Kalau mau cepet, ya lewat tol, tapi BAYAR! Kalau mau lama, sok aja lewat puncak, gratis, tapi lebih lama, apalagi weekend, ada sistem buka-tutup. Ngono... Mana pilihanmu?
Udah ah. Capek ngetiknya. Mau lanjut ngojek lagi nih... Hahaha
Sebelum berangkat ngojek, sambil Anda share status ini, boleh tahu, berapa sih biaya/investasi leher ke atas yang Anda budgetkan setiap bulannya? Kepo d**g...