15/03/2016
MAMA NGGAK BOLEH KERJA!
”Mama masih libur, kan?” tanya Asha saat membuka mata dan melihat mamanya sudah rapi memakai baju kerja. ”Hari ini Mama sudah mulai masuk kerja, Sayang, ” jawab Mutia. ”Mama nggak boleh pergi! Mama di rumah saja!” teriak Asha. ”Waduh, bisa panjang urusan ini. Padahal hari ini aku sudah mulai mausk kerja setelah libur panjang Lebaran,” kata Mutia dalam hati. Mutia berpikir keras dan akhirnya menemukan jawaban yang menurutnya sangat tepat, ”Mama bekerja supaya bisa membeli susu dan mainan Asha.” Namun tanggapan Asha ternyata sangat mengagetkan. ”Aku nggak mau susu! Aku nggak mau mainan! Aku maunya ditemani, Mama!” kata Asha menangis. Mutia kehilangan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada putrinya bahwa masalahnya tidak sesederhana itu.
JANGAN KERJA
Hati siapa yang tak merasa bersalah, bila anak menangis minta ditemani, sementara tuntutan pekerjaan mengharuskan Ibu berangkat pagi? Hal itu menunjukkan bahwa anak merasa tidak nyaman saat ditinggal ibu. Menurut psikolog Lara Fridani M. Psych, ketidaknyamanan ataupun kecemasan yang timbul pada anak usia 3 tahun saat ditinggal ibunya adalah hal yang wajar. Ini merupakan salah satu indikator bahwa telah terjadi bonding atau ikatan anak pada ibunya. Kesulitan anak untuk berpisah dengan ibu, merupakan proses yang biasa dialami anak dalam perkembangannya. Umumnya, anak yang biasanya diasuh orangtua sendiri, atau cenderung dimanjakan, akan mengalami kesulitan berpisah dengan orang tuanya. Perilaku tersebut akan berubah atau tidak, tergantung dari pola asuh yang dilakukan orang tua pada anak.
KUATKAN HATI
Mendengar suara tangis anak saat kita hendak pergi, pasti menyayat hati. Tapi, apakah kita harus lemah dan selalu menunda kepergian karena tangisannya? Lebih baik kuatkan hati, kemudian atur strategi untuk mencari cara supaya anak ”ikhlas” melepas kepergian kita. Beberapa tip supaya anak rela melepas kepergian:
1. Terimalah perasaannya. Akuilah dan dukung perasaannya, tapi jangan dukung perilakunya. Dia membutuhkan pengertian dan kesabaran untuk menghadapi ”perpisahan” dengan orangtua.
2. Pergi untuk kembali. Jelaskan kepada anak alasan kepergian anda, dan yakinkan dia bahwa Anda akan kembali lagi padanya. Karena pemahaman anak usia dini pada konsep waktu sangat terbatas, maka bantulah dengan mengaitkan dengan aktivitas yang biasa dia lakukan. Misalnya, ”Mama akan kembali, setelah kamu menyelesaikan makan soremu.”
3. Segera pergi, setelah Anda mengucapkan selamat tinggal kepada anak. Jangan berjalan hilir mudik di sekitarnya atau menengok-nengok terus ke belakang dengan penuh rasa kekhawatiran. Kuatkan hati, maju terus ke depan dan jangan berbalik ke belakang.
4. Sibukkan anak dengan aktivitas kesukaannya setelah Anda pergi,. Meskipun dia akan menangis histeris saat anda berangkat, namun tangisnya tidak akan bertahan lama dan dia segera larut dalam keasyikan bermain.
5. Cobalah untuk meninggalkan barang kepunyaan anda yang nyata, seperti foto diri, kartu, kain, atau selimut, untuk membantunya menghadapi ketidakhadiran anda.
5. Hilangkan kecemasan anda dengan menelepon ke rumah, sehingga mengetahui keadaan anak. Anak juga merasa tenang karena mendengar suara Anda, meskipun hanya di telepon.
Meski berat ketika hendak pergi meninggalkan si kecil, Anda harus menguatkan hati saat melakukannya. Sebab itu adalah sebuah pelajaran hidup berharga bagi anak untuk melatih kemandirian dan kesabarannya. Jadi, jangan bimbang, percayalah bahwa Anda melakukan hal yang benar.
sumber: www.parentsguide.co.id