28/02/2023
Berbagi Kenangan dengan Sang Juara Pertama All England [Bagian Kedua]
"Sempat Menjadi Ball Boy Tennis"
Tan Joe Hok kecil pun lalu merasakan perbedaan besar atara memukul shuttlecock dengan sandal bakiak dan memukul shuttlecock dengan raket bulu tangkis. Dengan raket asli, meskipun pinjaman, ia jelas lebih bisa mengontrol ritme shuttlecock sesuai keinginan.
Raket pinjaman yang pernah tergenggam di tangannya meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Tan Joe Hok pun berusaha keras untuk bisa memiliki raket sendiri, bukan lagi pinjaman.
"Saat itu tahun 1954, di tempat yang kini dikenal sebagai Hotel Hilton dulu ada lapangan tenis. Di situ saya pernah bekerja sebagai ball boy," ujar Tan Joe Hok mengenang.
"Memang saat itu saya sudah mulai memenangkan pertandingan-pertandingan di daerah. Tapi kan menang saja tidak ada uangnya sehingga saya harus bekerja," ucap Tan Joe Hok tertawa.
Tan Joe Hok pun tak pernah lupa bahwa ia dibayar sebesar 50 sen untuk pekerjaan sebagai ball boy selama tiga jam.
"Dari 50 sen yang saya terima, selalu saya pakai 15 sen untuk beli kupat tahu. Selalu seperti itu," ucap juara All England 1959 ini.
"Sisa 35 sen saya tabung. Begitulah yang terus saya lakukan."
Berbekal uang dari menjadi ball boy ditambah penghematan yang dilakukan Tan Joe Hok pada banyak hal, akhirnya harapan Tan Joe Hok untuk memiliki raket sendiri akhirnya terwujud.
"Harga raket saat itu 120 perak, dan akhirnya saya mampu membelinya," ucap Tan Joe Hok bangga.
Source: cnnindonesia[dot]com
NBL04 Fae
BL © 2015 Badminton Lovers. World Largest Badminton Community