06/05/2024
Minggu Penuh Duka
Hari minggu biasanya ceria. Minggu kemarin justru sebaliknya, penuh dengan duka. Duka pertama wafatnya salah satu tokoh Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie, mantan Sekda, Ketua NU, dan pendiri UNU Kalbar. Jejak kebaikannya sangat jelas. Peninggalannya akan dikenang sepanjang masa.
Duka kedua, gagalnya Timnas Nasional (Timnas) bulutangkis merebut Piala Thomas dan Uber. Semua gelar direbut oleh China. Gregoria Mariska Tunjung cs seperti diajari main tepuk bulu oleh Chen Yu Fe cs. Tak ada satu pun poin disumbangkan. Kalah telak 0-3. Piala Uber yang sudah lama diimpikan, hanya bisa dilihat tanpa bisa disentuh, apalagi dibawa pulang ke tanah air. Mungkin takut dirazia Bea Cukai kali ya, hehehe.
Duka juga menyelimuti Timnas putra. Antony Ginting cs digadang-gadang bisa membawa Piala Thomas. Sebab, semua materi pemain bisa dibilang seimbang. Namun, main di hadapan pendukung China, kemampuan Timnas jauh dari performa. Hanya Jonathan Christy bisa mendulang poin. Selebihnya, kalah. Dengan skor 1-3, Timnas pun gagal membawa pulang Piala Thomas. Asli, saya sedih.
Kaum agamawan mengatakan, semua telah ditakdirkan Tuhan. Manusia hanya berusaha, Tuhan penentunya. Jorji dan Jojo cs telah berusaha maksimal untuk bisa memberikan kado indah buat kita, hasilnya gagal. Perjuangan mereka sungguh luar biasa. Ibarat kate, berdarah-darah. Sungguh pun demikian, pemain China jauh lebih matang. Kalah itu memang menyakitkan. Dengan catatan kalah dengan terhormat. Angkat topi buat negeri tirai bambu. Tapi, kalah sungguh menyayat hati, bila dalam games penuh kecurangan. Bahasa budak alay, "Buat apa menang, kalau dengan cara curang." Ungkapan ini sempat populer kemarin di negeri ini. Untuk Piala Thomas dan Uber, tak ada kecurangan. Wasit yang memimpin bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Tak macam wasit Nasullo Kadirof ya, itu masih disumpahi orang se-nusantara. Wasit asal Tajikistan ini sempat membawa rakyat +62 berduka.
Duka itu wajar bila ada kehilangan. Cuma, tak perlu selamanya berduka. Badai pasti berlalu. Larut dalam duka tak baik juga. Tetap semangat. Contoh warga Pontianak, walau rumahnya banyak didatangi tamu tak diundang (air) akibat hujan lebat, tetap enjoy. Malah tetap ngopi dengan asyiknya. Duka itu wajar, tapi semangat tetap menyala abangku.
Satu lagi pelipur lara di tengah rasa duka, pada 9 Mei esok, Timnas U-23 akan melawan Guinea. Inilah perebutan tiket terakhir Olimpiade Paris. Pertandingan ini akan dilaksanakan pada Kamis (9/5/2024) di Clairenfontaine, Paris. Lapangan ini biasa digunakan tempat pemusatan latihan timnas Perancis. Kick-off pertandingan digelar pukul 14.00 waktu setempat atau pukul 19.00 WIB. Infonya, duel tim beda benua ini secara tertutup, alias tanpa penonton. Saya tu kalau udah tertutup, mulai curiga. Maklumlah, kalau di negeri konoha, yang namanya tertutup pasti ada yang disembunyikan. Ups, itu soal lain, Bang. Ini soal sepakbola, tertutup agar netral. Soalnya, penonton bisa jadi pemain ke-12. Rugi juga Timnas disoraki penonton Guinea. Di Paris itu banyak warga Guinea. Boleh juga sih kalau alasan itu. Sebab, kalau terbuka, bakal ramai juga ultras Garuda terbang ke Perancis. Semoga duel sangat bersejarah ini tak membawa duka. Berakhir dengan kegembiraan seluruh rakyat negeri ini.
Sorotan Publik