26/09/2022
TRACKIN SEGITIGA AMAZON
Di Explore Moeria kami menyebutnya sebagai Jalur Segitiga Amazon.
Sabtu kemarin bersama pak Rimba dan pak Arman kami melakukan tracking di jalur yg lama sudah kami bicarakan, jalur yg menghubungkan puncak Argo Piloso dan puncak Ringgit dan yang jalur turunnya terinspirasi dari jalurnya pak Nashoruddin Hadi Taufiq dan pak Matahari Senja.
Amazon adalah sebutan orang lokal di lereng timur Muria bagi sebuah lembah yg berada di bawah lereng timur puncak Argo Piloso dan puncak Ringgit. Sebagaimana karakter gigiran Muria yg berlereng curam, lembah inipun diapit oleh jurang jurang tinggi & lereng curam. Lembah berbentuk segitiga ini memiliki 2 bagian, satu bagian yg bisa diakses orang banyak dan ditanami kopi dan satu bagian yg berada di atas sebaris jurang yg tidak bisa diakses dan karenanya terisolir sempurna; di sisi timur atau sisi bawah adalah jurang yg membujur utara selatan dengan 2 air terjun di musim hujan, dan di sisi atasnya lereng curam punggungan puncak Argo Piloso & puncak Ringgit. Kali ini kami menikmatinya dengan mencapainya dari atas, sekalian mengeksplor gigiran yg menghubungkan Argo Piloso-Ringgit.
Tidak ada niatan untuk membuka jalur. Kami tidak membawa sabit, pisau ataupun parang. Setelah melewati sebuah jalur kamipun menyempatkan menutupnya kembali jika dirasa perlu. Kami tidak ingin meninggalkan jejak, bekas potongan parang atau apalagi meninggalkan penanda pita atau yg semacam itu. Juga nyata di angan kami bahwa sangat mungkin kami tidak akan melaluinya lagi. Hanya memang kesukaan kami adalah melakukan eksplorasi terutama di area area eksotis dari Muria yg memiliki karakter gigiran gigiran curam yg karenanya melindungi hutan hutan tuanya di area puncak dari eksploitasi. Untuk kepentingan jaga diri dari situasi darurat yg membutuhkan evakuasi, kami mengandalkan temen temen di grup di rumah yg memantau perjalanan kami. Dari waktu ke waktu kami melaporkan posisi kami dengan share Google location melalui WA grup. Dengan demikian teman teman di bawah bisa memperkirakan posisi kami. Arsip atau khasanah pengetahuan dan pengalaman perjalanan tersimpan dalam bentuk rekaman GPS track & foto serta video. Digital, tidak meninggalkan apapun di alam.
Seluruh jalur terbagi menjadi 3 etape, etape 1 dari start point di lembah Amazon ke puncak Argo Piloso, etape 2 dari puncak Argo Piloso ke puncak Ringgit dan etape 3 dari puncak Ringgit turun ke utara turun melalui jalur air ke jurang yg menjadi pangkal lembah Amazon bagian atas, area hutan perawan yg tidak dirambah orang sama sekali. Jurang ini adalah jurang berpundak pundak yg dalamnya lebih dari 100m. Turun ke lembah apalagi melalui jalur air ini sangat tidak disarankan. Karena jalur air seperti ini akan bertemu dengan jurang jurang air terjun yg tidak bisa dilalui. Dan benar adanya, demikianlah yg kemudian kami alami. Pada titik batas di barisan jurang, kami terjebak di puncak sebuah air terjun kering yg diperkirakan berketinggian lebih dari 30m. Kami memutuskan tidak menuruninya dengan rappelling menggunakan tali karena jarak yg terlalu jauh juga karena situasi yg sudah jam 4 sore, terjebak oleh suatu hal sehingga harus bermalam dalam situasi terjebak tergantung di jurang tentunya bukan hal yg indah untuk dikenang. Untuk amannya kami lebih bersikap konservatif dengan memutar naik ke gigiran/punggungan di sebelah selatan lembah.
Total jalur menurut catatan Garmin GPSMap 62s yg kita bawa sepanjang 8.3km. Dengan masing masing etape 3,1 km untuk etape 1, 2km untuk etape 2 dan 3,2 km untuk etape 3. Jarak sejauh itu kemarin kami tempuh selama lebih kurang 9.5 jam.
Seluruh etape adalah jalur yg sangat jarang dilewati orang dan beberapa segmen di etape 2 dan 3 belum pernah dijamah orang. Pada segmen terakhir etape 2 kami terhalang hutan pandan setinggi 2 meteran. Sangat menyulitkan karena batangnya yg saling belibet menjerat kaki sementara pandangan ke sekitar sepenuhnya terhalang. Lebih menyulitkan lagi karena hutan pandan ini berada di lereng dengan kemiringan 45 derajat yg harus didaki. Sangat lambat untuk bergerak maju. Keberhasilan lepas dari jeratan hutan pandan ini didapat setelah pak Arman berhasil memanjat sebatang pohon yg dijumpai sehingga orientasi ke sekitar dan terutama ke depan bisa diperoleh.
Secara umum sangat tidak disarankan melalui jalur ini. Saat ini kami sepakat bahwa keputusan kami kemarin tracking jalur tersebut secara tektok adalah sebentuk kesembronoan yg seharusnya tidak terjadi lagi. Ini jelas bukan pendakian biasa. Dibutuhkan kemampuan dan jam terbang tinggi. Sekedar kemampuan fisik tidaklah cukup. Kemarin secara keseluruhan kami membekali diri dengan alat berupa tali, snaplink, figure 8 dan webbing, perlengkapan untuk bermalam flysheet, jaket, jas hujan dan senter, untuk navigasi kami menggunakan Garmin GPSMap 62s, juga logistik disiapkan untuk cadangan jika harus bermalam. Walau kami niatkan tektok. Nyatanya kami nyaris bermalam karena baru sampai di titik start yg juga titik finish tempat kami memarkir motor sudah jam 18.30. Harus berjalan di gelap tanah di dalam hutan selama 1 jam.
Hikmah yg kami dapat adalah, bahwa setiap gunung adalah indah adanya dan hanya penikmat yg mampu menyentuh keindahannya.
Alhamdulillah Muria.
Maturnuwun pantauannya temen temen di Explore Moeria: pak Amin Fatah, pak Wiro Sableng, pak Matahari Senja, pak Nashoruddin Hadi Taufiq, pak Turmaji, mas Jalur Nekat, mas A'im A'im, mas Zaenal Arifin, mas Mazt Hanif dll. πββοΈ
Amazon adalah sebutan orang lokal di lereng timur Muria bagi sebuah lembah yg berada di bawah puncak Argo Piloso dan puncak Ringgit. Sebagaimana karakter gig...