01/08/2012
Curugmuncar Kab. Pekalongan Masuk Nominasi Lomba Desa Mandiri Energi
KAJEN – Sekitar 8-10 tahun yang lalu saya ke Curugmuncar, disana seluruh Dukuh masih gelap belum teraliri listrik. Dalam rangka menerangi desa Curugmuncar, saat itu keluar inspirasi dari desa setempat yaitu dengan menggunakan kincir air. Sehingga saat itu saya dukung program tersebut dengan biaya kecil-kecilan. Sampai akhirnya pada tahun 2006 Pemkab Pekalongan turun tangan guna membantu masyarakat desa Curugmuncar terang-benderang yakni dengan membuat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) I. Setelah itu, pada tahun 2008, Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo juga meresmikan PLTMH II di desa yang sama p**a.
Demikian disampaikan Bupati Pekalongan Drs. H. A. Antono, M.Si saat menerima Tim Penilai Lomba Desa Mandiri Energi tingkat Provinsi Jawa Tengah di rumah dinasnya, Selasa (31/7). Tim penilai akan melakukan peninjauan langsung ke Desa Curugmuncar yang mewakili Kabupaten Pekalongan untuk mengikuti Lomba Desa Mandiri Energi Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2012.
Tim penilai sebanyak 6 orang yang terdiri dari Ir. Bambang MP, MT dan Ir. Iriyanto keduanya dari Dinas ESDM Provinsi Jateng, DR Hermawan (UNDIP), DR. Kusmiyati (Universitas Muhammadiyah Solo), Sigit Yudi Haryanto (PLN) dan Ngargono (LP2K).
Bupati dalam kesempatan pertemuan dengan tim dari Provinsi menyampaikan komitmennya dalam membangun bersama masyarakat untuk menuju Kabupaten Pekalongan yang lebih baik. “Saya bukan tipe pembrontak, tetapi saya orang yang ingin mandiri dalam membangun bersama rakyat. Sehingga saya punya perhatian untuk pemeliharaan bidang energi di desa tersebut,” ungkapnya.
“Karena untuk membangun kita harus mempunyai komitmen dan disiplin agar kita bisa maju,” imbuh Bupati.
Kepada tim penilai khususnya yang mewakili PT PLN (Persero), Ir. Sigit Yudi Haryanto, Bupati mengutarakan bahwa di Kabupaten Pekalongan untuk seluruh Desa/Kelurahan sudah teraliri oleh listrik. Hanya ada beberapa Dukuh yang belum teraliri yang tersebar di beberapa wilayah. Termasuk di Kecamatan Talun yang beliau peroleh informasinya langsung dari masyarakat saat melakukan tarawih keliling beberapa waktu lalu.
Menanggapi pernyataan Bupati, Ir. Sigit menawarkan pembangunan central gardu di Kabupaten Pekalongan yang selama ini menginduk ke Kota Pekalongan. “Mungkin bapak Bupati mempunyai komitmen untuk memperluas area gardu, sehingga gardu tersebut bisa dibangun di sini supaya tegangannya lebih bagus,” tanya Ir. Sigit.
Mendengar tawaran dari PLN tersebut, dalam kesempatan itu juga Bupati langsung memerintahkan Kepala PSDA dan ESDM untuk membuat surat kepada PLN guna pengadaan tanahnya. Menurut Bupati, untuk lokasi tanahnya akan diambilkan dari tanah Desa yang telah berubah statusnya menjadi Kelurahan.
“Program saya sudah jelas untuk rakyat yakni PANJALI (pasar, jalan, air dan listrik). Karena hal yang mendasar yang dibutuhkan oleh rakyat adalah PANJALI itu. Dan itu yang akan menjadi landasan orang untuk bergah/semangat,” ujar Bupati.
Desa Curugmuncar Masuk Nominasi Lomba Desa Mandiri Energi
Usai melakukan pertemuan dengan Bupati, tim penilai langsung menuju desa sasaran yakni Desa Curugmuncar Kecamatan Petungkriyono, didampingi Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Pekalongan.
Desa Curugmuncar kini berbeda keadaannya dari beberapa tahun lalu, dimana saat ini infrastruktur jalan dari pusat Kecamatan Petungkriyono ke arah desa telah teraspal dengan halus. Sehingga masyarakat desa Curugmuncar dengan mudah dan cepat untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari ke wilayah lain terutama menuju kantor Kecamatan maupun Kabupaten Pekalongan di Kajen. Termasuk perjalanan tim penilai pada hari itu terasa nyaman dan cepat sampai ke desa Curugmuncar.
Sesampainya di balai Desa setempat, tim penilai langsung disambut Camat beserta jajaran dan Kades Curugmuncur beserta perangkat serta ratusan masyarakat desa setempat guna melakukan dialog dan meninjau lokasi PLTMH beserta pemanfatannya selain untuk penerangan rumah juga untuk mendukung usaha menjahit, pertukangan, dan lain-lain.
Ketua Pengelola PLTMH Sangga Tirta Desa Curugmuncar, Cahyadi, kepada tim penilai menyampaikan bahwa PLTMH II yang dibangun pada tahun 2008 merupakan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah. Dimana PLTMH II memanfaatkan air terjun di Desa Curugmuncar, dengan kapasitasnya 50 KWH yang mengaliri listrik hingga 2 Dukuh yaitu Dukuh Watukumpul dan Dukuh Muncar, dengan iuran warga untuk PLTMH hanya Rp 22 ribu perbulan. “Malam hari dimanfaatkan sebagai penerangan dan siang hari dimanfaatkan sebagai usaha produksi,” ujar Cahyadi menjelaskan kepada tim penilai.
Secara singkat Cahyadi menyampaikan fisik bangunan PLTMH II. Dimana PLTMH II tersebut menggunakan sumber air dari Curug Banteng, Curugmuncar, Tlaga Lumbu. Jarak bendungan ke pembangkit 1900 meter dengan panjang p**a 192 meter dan tinggi jatuhan 42 meter. Untuk tipe turbin PLTMH yakni cros flow, dengan sistim kontrol panel dan generator marelly Italy.
Menurut Cahyadi, dengan PLTMH pengetahuan masyarakat meningkat, desa semakin maju. PLTMH juga dijadikan Pusat setudi lapangan oleh para mahasiswa dari politeknik diantaranya Mahasiswa UI, UGM Poltek dari Surabaya, dan lain-lain.
Disamping itu, masih menurut Cahyadi, dampak positif adanya PLTMH adalah pendidikan semakin maju, perekonomian meningkat dan pemberdayaan perempuan semakin maju.
Sementara itu Kepala Desa Curugmuncar Marsono menyampaikan bahwa selama ini warganya telah menggunakan aliran listrik PLTMH dan tidak ada masalah dengan penerangan dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan listrik.
Marsono bercerita bahwa beberapa waktu lalu desanya pernah diajak kerjasama oleh Biro Teknik Listrik (BTL) Kabupaten Purwokerto agar Desa Curugmuncar menggunakan aliran listrik milik PLN. Namun pihaknya tidak bisa menjawab, karena harus melalui rembug desa terlebih dahulu dengan warga. Mengingat Desanya selama ini sudah menggunakan PLTMH.
“Dari 144 KK yang ada di Desa kami dengan 97 rumah, semuanya telah dialiri listrik dengan kapasitas 300 watt per rumah,” kata Marsono.
Karena itulah, Marsono berharap, Pemprov Jawa Tengah bisa membantu pengadaan biogas saja, karena jumlah hewan sapi piaraan lebih banyak dari jumlah kepala keluarga di Desa Curugmuncar. “Jumlah sapi di Desa Curugmuncar ada 221 ekor. Selama ini kotorannya hanya dimanfaatkan untuk pupuk, padahal bisa untuk biogas,” ucap Marsono.