Itulah keistimewaan diriku, maka jangan anggap aku remeh.

Itulah keistimewaan diriku, maka jangan anggap aku remeh. Patience is there are two kinds: patience for something that you hate and patience towards something that you like

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=108741741688390&id=100076576939961
04/01/2022

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=108741741688390&id=100076576939961

Teman Pelampiasan
Series 1 Episode 1
_._._._._._
-'-'-'-'-'-'-'-'-'-

Masa remaja adalah masa dimana seorang mencari jatidiri, serta masa akan adanya hal baru yang akan dilewati, tak terkecuali masa bisa merasakan getaran asmara.

Sebelum dilanjut, perkenalkan aku adalah Revanaldiansyah Putra Mahaka, atau bisa dipanggil Revan, bisa juga memakai sapaan akrabku yaitu Vandi Geng, Usiaku sekarang 25 tahun, bekerja sebagai salah satu staf di Perusahaan Manufaktur, yang merupakan perusahaan milik Ayahku sendiri, yaitu Bapak Eka Mahaka Sulton.

Aku bisa punya sapaan Vandi Geng, bermula ketika 8 tahun silam, saat awal masuk sekolah SMA. Awal masuk sekolah aku sudah berlagak bagai orang yang sombong, dikarenakan masih terbawa jiwa muda, ditopang Orang tua yang mempunyai sebuah perusahaan, sehingga banyak melakukan kesalahan dalam tata krama.

"Awas, awas minggir" teriakku sembari berlari untuk pertama kali masuk kelas baru di SMA, tanpa memperdulikan yang aku lewati itu kakak kelas maupun seorang Guru. "Hey, kamu hati-hati kalau jalan" tegur salah satu guru yang kulewati tanpa sopan, "sorry bu, lagi terburu-buru nih" sahutku tanpa hirau tetap lanjut lari menuju kelas.

"Aduuh-aduh" suara perempuan yang tak sengaja aku tabrak saat berlari tanpa hirau, "Kamu apa tidak lihat? tuh kan jadinya berantakan semua" tanya teman perempuan tersebut sambil merapikan buku perempuan yang aku tabrak tadi. "Sorry, aku lagi buru-buru mau masuk kelas dan belum tau letak kelasnya" ungkapan maafku, “memangnya kelasmu mana?” tanya si teman perempuan itu kembali, "tadi kata pak sopir sih X (10) G" jawabku, " makanya kalau jalan dicermati, ini depan kelasmu, ngapain pakai lari sih?" dia menunjukan sembari mengulurkan tangan ke arah kelas yang jadi tujuanku.

"Kamu gapapa kan?" tanyaku pada perempuan yang aku tabrak, " iya gapapa kok, ayo sis kita ke kelas" jawabnya sambil mengajak temannya yang ngomel melulu, " yuk, tuh ingat kelasmu, jangan ngandelin sopir, gunakan akal pikir dan ingatan.!" sindiran keras teman perempuan yang aku tabrak tadi kepadaku.

Mereka melanjutkan ke kelas mereka, yangmana ternyata mereka juga kelas X (10) F, kuamati mereka sampai ke kelas sebelum aku masuk kelasku. Setelah mereka masuk, aku baru masuk kelas.

didalam kelas aku deduk, mengikuti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) seperti biasa, ya walau kadang tetap bikin kegaduhan karena rasa bosan dalam ruangan, tetapi dalam pikiranku menjadi penasaran siapa ya yang tadi aku tabrak?, siapa p**a temannya tadi yang ngoceh ngomel mulu?, bahkan aku punya pikiran "andaikan aku ada waktu berkenalan dulu?" dalam lamunku.

"Ssstt, ssstt" tanda panggilan kepadaku membuyarkan lamunku, ternyata adalah teman sebelahku, sekaligus teman kecilku yang seharusnya berangkat sekolah bersama yaitu Erfan. "lihat Van, Revan. Kita kerjain guru itu yuk.!" ajakan sesat Erfan, " eh asem, kamu" sahut kagetku, " eh ngalamun ya kau?" tanya Erfan, "eng eng enggak, ni ini lagi fokus aja sama pelajaran." kataku penuh terbata-bata kaget, "alah, fokus pelajaran apa perempuan tadi yang sengaja kau tabrak?" kata Erfan.

"Hey, kalian berdua, iya kalian yang ada dibangku paling belakang" bentak Pak Jonathan yang sat itu mengajar dalam kelasku, "kami,Pak?" tanya ku dan Erfan, "iya kalian, Erfan Adi Laksana, dan kamu Rev Rev...." susah ucap Pak Jonathan saat menyebut namaku, "Revanaldi, Pak" sahut Erfan bantu pak Jonathan eja namaku, " iya itu, Revaldi, Revevendi,Renaldi, ah serahlah kamu Vandi aja biar mudah" kata Pak Jonathan, " Revan aja, Pak" bantuku tuk mempermudah panggilanku, " tak usah, Vandi, kamu saya panggil Vandi, biar mudah bedakan kamu sama Erfan, sama-sama tukang gaduh di kelas.!" teguh Pak Jonathan beri sapaan padaku.

Semenjak itu, aku dipanggil oleh teman-temanku " Vandi", ya not bad lah, apalagi agar mudah beda antara aku dan Erfan.

setelah ditegur oleh Pak Jonathan karena buat gaduh Kelas, aku dan Erfan di setrap luar depan pintu masuk kelas. " gara2 kau sih lamun mulu" kata Erfan, " lah kok aku? yang mancing kegaduhan kan kamu?" heranku sambil belaku tak terima ikut terhukum, "eh, tadi emang kamu lihat aku saat mau masuk kelas? tanyaku pada Erfan, "taulah, jelas kok didepan kelas, kan aku dah masuk duluan." , "ngapain tadi kamu tinggalin aku? jadinya aku gugup serta bingung tau." kataku, "hmmm, tapi kan kamu dapat nabrak cewek baru yang cantik tadi kan? rayu Erfan sambil senyum penuh godaan, aku hanya senyum sinis karena kepergok.

"asal kamu tau Van, tadi yang kamu tabrak adalah Jenny, dan yang ngomelin kamu tu Sheila" kata Erfan padaku, kemudian Erfan melanjutkan " sebenarnya banyak loh kakak kelas yang incar dia, si Jenny itu, tapi ada pengawalnya, si perempuan tukang omel, Sheila itu yang aku maksud, tapi menurutku Sheila Cantik juga, ya kan Van?" , "jadi kamu tertarik sama siapa? Jenny apa Sheila? terus, apa hubungannya sama aku?" heranku pada Erfan yang tiba-tiba malah curhat, " hehehe" hanya di sahut senyum ketawa tipis oleh Erfan.

Tanda pengumuman istirahat telah bunyi, tanda istirahat susah tiba, namun belum ada perintah dari Pak Jonathan untuk segera selesai setrap dan masuk kelas. sambil mengintip, eh, ternyata Pak Jonathan lagi tertidur dalam Kursinya yang nyaman. Langsung saja aku sama Erfan kabur ke kantin tanpa memikirkan lagi setrap tadi, karena bagi kami waktu istirahat ya waktu untuk istirahat, bukan malah dipajang bagai pameran murid yang nakal.

Tak sengaja, aku lupa bawa dompet dan tidak bawa sepeserpun uang, aku kembali ke kelas, ku tengok Pak Jonathon masih lelap tertidur dan teman-teman dalam kelas masih hening karena takut kena marah jika membangunkan. Aku masuk mengendap-endap hingga bisa ke bangku paling belakang, tempatku.

Setelah dapat dompet, aku langsung keluar, tak sengaja lagi tertabrak Jenny, yang
untungnya tak begitu separah tadi pagi tabrakan dengannya, dan dia juga lagi sendirian, ingin menuju kantin tapi masih menunggu Sheila, sahabatnya yang tadi ngomelin aku. Tak lama kemudian ternyata Sheila tiba dan parahnya dia ngomel lagi.

=^Next Eps 2^=

sebuah tragedi yang memilukan, mulai bacahttps://m.facebook.com/story.php?story_fbid=108741741688390&id=100076576939961
04/01/2022

sebuah tragedi yang memilukan, mulai baca

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=108741741688390&id=100076576939961

Teman Pelampiasan
Series 1 Episode 1
_._._._._._
-'-'-'-'-'-'-'-'-'-

Masa remaja adalah masa dimana seorang mencari jatidiri, serta masa akan adanya hal baru yang akan dilewati, tak terkecuali masa bisa merasakan getaran asmara.

Sebelum dilanjut, perkenalkan aku adalah Revanaldiansyah Putra Mahaka, atau bisa dipanggil Revan, bisa juga memakai sapaan akrabku yaitu Vandi Geng, Usiaku sekarang 25 tahun, bekerja sebagai salah satu staf di Perusahaan Manufaktur, yang merupakan perusahaan milik Ayahku sendiri, yaitu Bapak Eka Mahaka Sulton.

Aku bisa punya sapaan Vandi Geng, bermula ketika 8 tahun silam, saat awal masuk sekolah SMA. Awal masuk sekolah aku sudah berlagak bagai orang yang sombong, dikarenakan masih terbawa jiwa muda, ditopang Orang tua yang mempunyai sebuah perusahaan, sehingga banyak melakukan kesalahan dalam tata krama.

"Awas, awas minggir" teriakku sembari berlari untuk pertama kali masuk kelas baru di SMA, tanpa memperdulikan yang aku lewati itu kakak kelas maupun seorang Guru. "Hey, kamu hati-hati kalau jalan" tegur salah satu guru yang kulewati tanpa sopan, "sorry bu, lagi terburu-buru nih" sahutku tanpa hirau tetap lanjut lari menuju kelas.

"Aduuh-aduh" suara perempuan yang tak sengaja aku tabrak saat berlari tanpa hirau, "Kamu apa tidak lihat? tuh kan jadinya berantakan semua" tanya teman perempuan tersebut sambil merapikan buku perempuan yang aku tabrak tadi. "Sorry, aku lagi buru-buru mau masuk kelas dan belum tau letak kelasnya" ungkapan maafku, “memangnya kelasmu mana?” tanya si teman perempuan itu kembali, "tadi kata pak sopir sih X (10) G" jawabku, " makanya kalau jalan dicermati, ini depan kelasmu, ngapain pakai lari sih?" dia menunjukan sembari mengulurkan tangan ke arah kelas yang jadi tujuanku.

"Kamu gapapa kan?" tanyaku pada perempuan yang aku tabrak, " iya gapapa kok, ayo sis kita ke kelas" jawabnya sambil mengajak temannya yang ngomel melulu, " yuk, tuh ingat kelasmu, jangan ngandelin sopir, gunakan akal pikir dan ingatan.!" sindiran keras teman perempuan yang aku tabrak tadi kepadaku.

Mereka melanjutkan ke kelas mereka, yangmana ternyata mereka juga kelas X (10) F, kuamati mereka sampai ke kelas sebelum aku masuk kelasku. Setelah mereka masuk, aku baru masuk kelas.

didalam kelas aku deduk, mengikuti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) seperti biasa, ya walau kadang tetap bikin kegaduhan karena rasa bosan dalam ruangan, tetapi dalam pikiranku menjadi penasaran siapa ya yang tadi aku tabrak?, siapa p**a temannya tadi yang ngoceh ngomel mulu?, bahkan aku punya pikiran "andaikan aku ada waktu berkenalan dulu?" dalam lamunku.

"Ssstt, ssstt" tanda panggilan kepadaku membuyarkan lamunku, ternyata adalah teman sebelahku, sekaligus teman kecilku yang seharusnya berangkat sekolah bersama yaitu Erfan. "lihat Van, Revan. Kita kerjain guru itu yuk.!" ajakan sesat Erfan, " eh asem, kamu" sahut kagetku, " eh ngalamun ya kau?" tanya Erfan, "eng eng enggak, ni ini lagi fokus aja sama pelajaran." kataku penuh terbata-bata kaget, "alah, fokus pelajaran apa perempuan tadi yang sengaja kau tabrak?" kata Erfan.

"Hey, kalian berdua, iya kalian yang ada dibangku paling belakang" bentak Pak Jonathan yang sat itu mengajar dalam kelasku, "kami,Pak?" tanya ku dan Erfan, "iya kalian, Erfan Adi Laksana, dan kamu Rev Rev...." susah ucap Pak Jonathan saat menyebut namaku, "Revanaldi, Pak" sahut Erfan bantu pak Jonathan eja namaku, " iya itu, Revaldi, Revevendi,Renaldi, ah serahlah kamu Vandi aja biar mudah" kata Pak Jonathan, " Revan aja, Pak" bantuku tuk mempermudah panggilanku, " tak usah, Vandi, kamu saya panggil Vandi, biar mudah bedakan kamu sama Erfan, sama-sama tukang gaduh di kelas.!" teguh Pak Jonathan beri sapaan padaku.

Semenjak itu, aku dipanggil oleh teman-temanku " Vandi", ya not bad lah, apalagi agar mudah beda antara aku dan Erfan.

setelah ditegur oleh Pak Jonathan karena buat gaduh Kelas, aku dan Erfan di setrap luar depan pintu masuk kelas. " gara2 kau sih lamun mulu" kata Erfan, " lah kok aku? yang mancing kegaduhan kan kamu?" heranku sambil belaku tak terima ikut terhukum, "eh, tadi emang kamu lihat aku saat mau masuk kelas? tanyaku pada Erfan, "taulah, jelas kok didepan kelas, kan aku dah masuk duluan." , "ngapain tadi kamu tinggalin aku? jadinya aku gugup serta bingung tau." kataku, "hmmm, tapi kan kamu dapat nabrak cewek baru yang cantik tadi kan? rayu Erfan sambil senyum penuh godaan, aku hanya senyum sinis karena kepergok.

"asal kamu tau Van, tadi yang kamu tabrak adalah Jenny, dan yang ngomelin kamu tu Sheila" kata Erfan padaku, kemudian Erfan melanjutkan " sebenarnya banyak loh kakak kelas yang incar dia, si Jenny itu, tapi ada pengawalnya, si perempuan tukang omel, Sheila itu yang aku maksud, tapi menurutku Sheila Cantik juga, ya kan Van?" , "jadi kamu tertarik sama siapa? Jenny apa Sheila? terus, apa hubungannya sama aku?" heranku pada Erfan yang tiba-tiba malah curhat, " hehehe" hanya di sahut senyum ketawa tipis oleh Erfan.

Tanda pengumuman istirahat telah bunyi, tanda istirahat susah tiba, namun belum ada perintah dari Pak Jonathan untuk segera selesai setrap dan masuk kelas. sambil mengintip, eh, ternyata Pak Jonathan lagi tertidur dalam Kursinya yang nyaman. Langsung saja aku sama Erfan kabur ke kantin tanpa memikirkan lagi setrap tadi, karena bagi kami waktu istirahat ya waktu untuk istirahat, bukan malah dipajang bagai pameran murid yang nakal.

Tak sengaja, aku lupa bawa dompet dan tidak bawa sepeserpun uang, aku kembali ke kelas, ku tengok Pak Jonathon masih lelap tertidur dan teman-teman dalam kelas masih hening karena takut kena marah jika membangunkan. Aku masuk mengendap-endap hingga bisa ke bangku paling belakang, tempatku.

Setelah dapat dompet, aku langsung keluar, tak sengaja lagi tertabrak Jenny, yang
untungnya tak begitu separah tadi pagi tabrakan dengannya, dan dia juga lagi sendirian, ingin menuju kantin tapi masih menunggu Sheila, sahabatnya yang tadi ngomelin aku. Tak lama kemudian ternyata Sheila tiba dan parahnya dia ngomel lagi.

=^Next Eps 2^=

07/10/2013

sobat, aku ada pertanyaan,
"antara gerak dan diam" apakah
itu? Bz jwb lewat twitter
Farrid dengan hastag yuk

18/06/2013

Ciri2 Guru/Ustadz maling,
yaitu mengucapkan "KEMBALILAH KEPADA AL-QUR'AN DAN SUNAH"

18/06/2013

Jika kita sebelum nikah berpaacaran,
pasti PANCARAN air mani biasa saja.,!
jadi, janganlah berpacaran.,!

18/06/2013

Janganlah Berpacaran, supaya ada rasa kangen,
untuk malam pertama yang sangat menggelegar istimewa.

04/06/2013

Patience is there are two kinds: patience for something that you hate and patience towards something that you like

04/06/2013
28/05/2013

ALHAMDULILLAH,
puji tuhan.
telah banyak jua yang menyukai halaman ini. :)
thank for ALL.

Address

Kediri
64161

Telephone

085736228110

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Itulah keistimewaan diriku, maka jangan anggap aku remeh. posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share