30/10/2024
Bayu kecil duduk di pangkuan kakeknya di beranda rumah, mendengarkan kisah-kisah indah dari zaman dahulu. Kali ini, kakek menceritakan tentang hutan tempat ia dulu tinggal, sebuah tempat yang penuh dengan suara gemuruh satwa, dari derapan kaki rusa hingga kicauan burung yang beraneka warna.
“Ada seekor harimau,” kata kakek dengan tatapan menerawang. “Dia besar, kuat, dan indah. Kami menyebutnya ‘Raja Hutan.’ Suaranya bergema, tapi kami semua tahu, ia tidak pernah menyerang, hanya menjaga tempatnya.”
Bayu membayangkan harimau itu—seekor makhluk gagah yang berkeliling hutan layaknya penjaga. “Apa harimaunya masih ada, Kek?” tanya Bayu, matanya penuh harap.
Kakek menghela napas panjang. “Tidak, Nak. Raja Hutan kita sudah lama pergi, hilang karena banyak orang datang, menebang pohon, berburu satwa. Hutan tak lagi sama tanpa dia.”
Bayu terdiam, merasakan kehilangan yang dalam, meskipun ia tak pernah bertemu harimau itu. Ia memandangi hutan kecil di seberang rumah, yang kini sunyi dan sepi.
“Kita harus menjaga yang tersisa, Bayu,” kata kakek lagi, dengan suara lembut namun penuh harapan. “Satwa-satwa itu bagian dari alam kita. Mereka menjaga agar hutan tetap hidup, air tetap mengalir, dan udara tetap bersih. Kalau mereka hilang, kita juga akan merasakan akibatnya, lambat laun.”
Malam itu, Bayu tidur dengan mimpi-mimpi yang berbeda. Ia melihat harimau besar di tengah hutan yang rimbun, burung-burung berwarna-warni terbang rendah, dan sungai yang mengalir deras. Ia tahu, di hatinya yang kecil, bahwa ia ingin menjadi bagian dari mereka yang menjaga kehidupan hutan. Dan mungkin, suatu hari nanti, dia bisa mengembalikan Raja Hutan ke tempatnya.
Sejak saat itu, Bayu berjanji, dia akan melindungi setiap satwa, setiap pohon, demi alam yang diwariskan kakeknya, demi kehidupan yang lebih baik. Karena melindungi mereka berarti melindungi kita semua.