03/05/2020
2020 "Jatah" Siapa?
Tahun 2018 telah kita lalui. Suka-duka, pahit-manis perjalanan bulutangkis Indonesia setahun lalu, telah jadi kenangan. Menatap musim baru 2019, berbagai target capaian sudah harus dipersiapkan PBSI, sebagai induk olaharaga bulutangkis Indonesia. Kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020 mendatang menjadi yang utama. Tentu tanpa mengesampingkan target-target lainnya.
Pengumpulan poin sebagai syarat lolosnya pemain ke Olimpiade 2020 sendiri baru dimulai bulan Mei mendatang. Namun segala persiapan, baik teknis maupun non-teknis yang menyangkut pemain wajib dilakukan jauh-jauh hari. Rencana dan rancangan wajib dipikirkan secara masak, agar tercapai target federasi : Dua Wakil per Sektor.
Target yang terkesan ambisius memang. Karena seperti kita ketahui bersama, -saat ini- kekuatan bulutangkis tanah air hanya bergantung dari sektor ganda putera. Divisi pimpinan Herry IP inilah yang paling sering berdiri di podium utama. Maka 'tak heran, jika target dua pasang dari sektor ini terlihat realistis.
Bagaimana dengan empat divisi lainnya?
Tunggal puteri menjadi nomor yang paling "mengkhawatirkan". Pasalnya, belajar dari penyelenggaraan Olimpiade edisi-edisi sebelumnya, wakil merah-putih yang lolos ke ajang empat tahunan itu selalu lewat "jalur belakang".
Di dua edisi Olimpiade sebelumnya (London '12 dan Rio '16), 'tak satupun dari pemain tunggal putri Indonesia yanh menempati batas aman kualifikasi Olimpiade. Itu artinya, Indonesia "tidak" berhak mengririm wakil di nomor ini. Beruntung, BWF sebagai otoritas tertinggi olahraga ini memberikan tiket "wildcard". Artinya, meski tidak ada satupun pemain yang masuk top 16 kualifikasi Olimpiade, Indonesia tetap bisa mengutus perwakilannya di tunggal putri.
Meski tedengar miris, negara "power house" di cabang ini, namun untuk mengirim wakil ke Olimpiade harus memanfaatkan jatah. Tapi beginilah faktanya. Jadilah, persaingan yang ditampilkan pebulutangkis putri Indonesia bukan dengan pemain luar, melainkan dengan sesama pemain Indonesia.. Persaingan memperebutkan jatah kuota.
Pada akhirnya memang, keputusan final siapa yang akan dikirim ke Olimpiade merpakan hak prerogatif PBSI, selaku federasi yang mengelola bulutangkis dalam negeri. Meskipun harus menerebos "garis keadilan", keputusan mereka ialah paten. Tanpa ada tawar-menawar.
Maria Febe Kusumastuti menjadi sempat menjadi "korban" dari "ketidakadilan" ini.
Menjadi mimpi setiap atlet tentu bisa menjadi delegasi negaranya di ajang sekelas Olimpiade. Pun dengan Maria Febe. Mimpinya tampil di event empat tahunan ini sudah hampir pasti tercapai. Bukan karena ia masuk ke zona aman kualifikasi, namun peringkatnya lah yang memang paling baik diantara puluhan tunggal putri Indonesia.
Bertengger di posisi 34, nyatanya tidak lantas membuat dirinya bisa menginjakkan kakinya di London, Inggris, tempat berlangsungnya Olimpiadr musim panas 2012. Pebulutangkis asal klub Djarum Kudus ini harus rela menyerahkan tiket wildcard kepada Adriyanti Firdasari, yang kala itu duduk di posisi 40. PBSI kala itu lebih memilih Firda ketimbang Febe yang secara peringkat lebih "laik" tampil di depan publik London. Entah apa yang menjadi pertimbangan federasi, namun inilah yang saya katakan "menerebos garis keadilan". Firda sendiri mengakhiri kiprahnya di Olimpiade dengan kalah di babak 16 besar. Lebih buruk ketimbang apa yang dicapai MKY empat tahun sebelumnya.
Mencoba "move on" dari sakitnya "dikhianati", Febe mulai mempersiapkan dirinya untuk musim-musim selanjutnya. Hasilnya memang tidak cukup baik.
Empat tahun berselang, giliran Rio de Janiero yang berkesempatan menghelat ajang akbar Olimpiade musim panas. Kualifikasi dimulai sejak April 2015. Beragam target pencapaian dicanangkan oleh seluruh pebulutangkis dari berbagai penjuru dunia.
Begitupun dengan PBSI juga tunggal putrinya. Tentu catatan kelam selama kualifikasi Olimliade London tidak ingin terulang. Lolos dengan cara masuk zona aman menjadi HARGA MATI!!!. Minimal satu pemain di 16 besar, jadi keharusan. Namun realita 'tak semanis harapan.
Lagi lagi, dengan berbekal "wildcard" lah tunggal putri Indonesia sanggup menembus Olimpiade. Persaingan kala itu terfokus pada dua tunggal putri, Maria Febe dan "musuh" barunya, Lindaweni Fanetri.
Proses pemilihan kali ini lebih fair ketimbang empat sebelumnya. Tidak ada lagi garis-garis keadilan yang ditabrak. Lindaweni, berbekal perunggu Kejuaraan Dunia 2015 berhasil mengungguli Febe dari sisi peringkat. Lindaweni ke Rio, sementara Febe ikhlas 'takkan sanggup bermain di Olimpiade.
Tapi justru, inilah titik nadir kegagalan tunggal putri di Olimpiade. Gagal lolos dari babak grup. Ya, Lindaweni, sang peraih perunggu Kejuaraan Dunia tahun sebelumnya harus takluk di dua laganya di babak penyisihan grup. Gagal mengatasi Nozomi Okuhara di laga pembuka (0-2), Linda juga takluk dari wakil Vietnam, Vu Thi Trang (B) (0-2) di laga terakhirnya. Luar Biasa..
Tahun ini, pengumpulan poin untuk kualifikasi Olimpiade Tokyo dimulai. Publik Indonesia, khusunya pecinta bulutangkis tentu berharap, melihat tunggal putrinya tampil di Olimpiade lewat "jalur depan" bukan "jalur belakang".
Harapan itu terlihat realistis saat ini. Lewat Gregoria Mariska, mimpi itu mungkin bisa terwujud. Saat ini, pebulutangkis 19 tahun itu berada di jalur yang tepat. Menembus 15 besar dunia jadi pencapaiannya tahun ini. Yang jadi pertanyaan kemudian ialah, sanggupkah Jorji mempertahankan penampilannya hingga batas akhir pengumpulan poin? Atau justru untuk kesekian kalinya tunggal putri tampil di Olimpiade melalui jalur belakang? Biarlah waktu yang menjawab setahun ke depan.
Admin 1