23/07/2023
Indonesia nggak bisa tembus Piala Dunia dengan pemain keturunan? Kata siapa?
Mari kita analisa kekuatan sumberdaya kita dari pemain keturunan. Mayoritas pemain keturunan Indonesia bermain di Liga Belanda. Dan kita sudah tau, Liga Belanda adalah salah satu liga terbaik di Eropa.
Sekarang ada nggak liga di Asia yg setara liga Belanda? Nggak ada. Bahkan liga Jepang dan Korea sekalipun berada dibawah liga Belanda.
Di kasta teratas Belanda saat ini ada banyak sekali pemain keturunan Indonesia yang menjadi pemain penting klub.
Mereka adalah Thom Haye dan Djenahro Nunumete di SC Heerenveen, Mees Hilgers di FC Twente, Jay Idzes di Go Ahead Eagles (sekarang ke Venezia), Neraysho Kasanwirjo (Feyenoord), Ragnar Oratmangoen dan Joey Pelupessy di Groningen, Tommy St. Jago dan Mark van der Maarel di Utrecht, Eliano Reijnders di PEC Zwolle, Calvin Verdonk di NEC Nijmegen, Nathan Tjoe-A-On di Excelsior Rotterdam dan Million Manhoef di Vittesse.
Mereka pemain penting di klub masing-masing. Hanya Djenahro Nunumete yang masih minim menit bermain di SC Heerenveen, wajar, karena usianya baru 20 tahun, masih seumuran Rafael Struick di ADO Denhaag.
Dan anda harus tau, mampu menembus tim Eredivisie pada usia 20 tahun adalah satu pencapaian yang tidak bisa diremehkan di kultur sepakbola Belanda.
Berdasarkan itu semua seharusnya kita sudah bisa membaca level kualitas pemain keturunan Indonesia ada di titik mana.
Dan kita masih punya Kevin Diks di kasta teratas Denmark, Jayden Oosterwolde di Fenerbahce kasta teratas Turki, Tijjani Reijnders dari Al Azkmaar ke AC Milan (Serie A),
Kita juga masih ada Jairo Riedewald di Premier League, Pascal Struijk dan Dani van den Heuvel di Leeds United.
Lalu ada juga Matthew Steenvoorden di HNK Gorica kasta teratas Kroasia.
Masih ada Ilias Alhaft dan Jordy Wehrmann.
Masih ada Riku Matsuda di kasta teratas Jepang bersama Cerezo Osaka.
Bayangin gimana dahsyatnya jika mereka dirangkai menjadi 1 tim membela merah putih Indonesia!
Dan sebagai pelengkap, ada nama Emil Audero sebagai penjaga mistar merah putih.
Jika Audero menjadi kiper timnas Indonesia, Indonesia akan memiliki kiper terbaik se Asia.
Nggak ada satupun kiper di Asia yang sebaik Emil Audero.
Dan itu belum termasuk bakat-bakat potensial muda seperti Jenson Seelt (Sunderland), Tristan Gooijer (Jong Ajax), Délano van der Heijden (Jong Feyenoord), Gilles Joannes (NAC), Kaya Symons (Jong Vittese), Elaydjah Nijon (Udinese Primavera), Liem Oetoehganal dan masih buanyaakkk lagi, capek kalau di tulis semuanya.
Dengan materi ini rasanya kalau cuma untuk mengatasi tim-tim Asia kita sangat-sangat mampu. Okelah, Australia memang selalu langganan ke Piala Dunia, sehingga Australia dipandang hebat sekali oleh orang Asia, tapi sebenarnya pemain keturunan Australia di Eropa cuma level jangkrik. Jika dibandingkan sama kualitas pemain keturunan Indonesia ras-rasanya nggak kalah, bahkan kita lebih unggul.
Apalagi sama Vietnam dan Thailand,, jiahhhh
Dengan memanfaatkan sumberdaya pemain keturunan Indonesia, tidak mustahil Indonesia bisa menjadi kekuatan baru di Asia dan lolos ke Piala Dunia.
Tapi ketika saya berkata seperti itu banyak yg bilang, alahhhh mimpi ketinggian, nggak mungkin, dan apalah.. bla bla bla....
Yah dapat kita maklumi, mungkin mereka tidak memahami tingkat level liga, nggak ngerti level kualitas pemain, dikira semua pemain sama. Kalaupun beda mungkin mereka kira cuma beda dikit.
Sampai ada yang nyeletuk, apaan pemain keturunan, belum tentu juga lebih hebat dari pemain lokal.
Kualitas pemain Liga 1 dibandingkan sama pemain Liga Belanda, gimana cara mikirnya? Liga kita sama liga Jepang dan Liga Korea aja masih jauh dibawah. Apalagi sama Liga Belanda. Sedangkan Liga Korea dan Jepang saja masih jauh dibawah Liga Belanda.
Liga Belanda adalah salah satu liga terbaik di Eropa. Di Eropa lho, bukan salah satu liga terbaik di Asia.
Lihat saja celetukan andalan mereka, buktinya "pemain naturalisasi" yg sudah2 nggak bisa ini itu bla bla bla.......kata mereka.
Eh, itu mereka-mereka yg dipanggil pada era Stefano Lilipaly, Tonnie Cussel, Diego Michiel memiliki level yang berbeda jauh dibawah nama-nama diatas!
Stefano Lilipaly memang pernah mencapai Eredivisie saat di Utrech, tapi cuma pernah sekali main 90 menit, kala itu Utrecht menjamu PSV di pekan 18 eredivisie, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2012, skor akhir 1-1, Utrecht bermain dengan formasi 4-3-3-, Fano mengisi posisi gelandang bersama Johan Martensson (Sekarang main di Degerfors liga Swedia) dan Nana Asare (Pemain Ghana yang sekarang sudah pensiun). Coba tanya Lilipaly, bener nggak?
Fano juga sempat diturunkan Utrecht di 3 partai lainnya pada musim yang sama, tapi hanya sebagai pengganti. Terakhir pada pekan 25 kala melawan Feyenoord tanggal 11 Maret 2012, Stefano menggantikan Mark van der Maarel di menit ke 86. Setelah itu tidak pernah lagi diturunkan di Eredivisie.
Sedangkan Tonnie Cusell, Raphael Maitimo dan Diego Michiels sama sekali tidak pernah mencapai kasta teratas Belanda atau Eredivisie.
Mark Klok juga nggak pernah mencapai Eredivisie, cuma pernah di Beloften Eredivisie, liga tim cadangan Belanda, itu pun cuma diturunkan 5 kali. Klok sempat bermain di kasta teratas Skotlandia, tetapi karena penampilannya tidak begitu memikat pelatih dia dijual ke Cherno More Varna, klub kasta teratas Liga Bulgaria, cukup lumayan pengampilannya disana. Setelah 2 tahun di Bulgaria Klok pindah ke Inggris bermain di kasta ke 4 bersama Oldham Athletic. Setelah 10 pertandingan di Oldham dia pindah ke Dundee, Skotlandia, dia hanya bermain 2 kali di Dundee, selanjutnya pindah ke PSM.
Adapun Sandy Walsh dari kasta teratas Belgia, Shayne Pattynama dari kasta teratas Norwegia, dan Jordi Amat yang dipanggil ketika bermain di kasta teratas Belgia, mereka baru sepersekian persen dari kekuatan sumberdaya Indonesia yg sebenarnya.
Itupun Sandy Walsh belum pernah bermain, Shayne belum tahap penyesuaian. Satu2nya yang sudah banyak bermain untuk timnas hanya Jordi Amat.
Sedangkan Elkan Baggott sudah WNI sejak lahir, sama seperti Irfan Bachdim dan Welber Jardim. Mereka bukan keturunan dan bukan naturalisasi.
Dan Asia Punya Jatah 8 Slot Otomatis untuk Piala Dunia 2026, dengan mengoptimalkan kekuatan sumberdaya kita, nggak mustahil jika Indonesia sangat mampu merebutnya.
FANS Timnas Indonesia