14/01/2013
Gagasan Kajen Lebih Seksi
Jika jalan di kota besar Jakarta atau Semarang macet, itu hal biasa tapi bila jalan di kota kecil Kajen macet, itu baru luar biasa. Pada malam Tahun Baru 2013, seluruh ruas jalan protokol dan jalan koletor menuju alun-alun Kajen
Kabupaten Pekalongan padat, dijejali kendaraan bermotor.
Mulai pukul 22.30 laju semua kendaraan terhenti, tidak bisa bergerak. Kemacetan memuncak seusai pesta kembang api. Pengguna jalan tak bisa keluar dari Kajen karena arah dari alun-alun menuju Karanganyar dan Bojong macet total. Petugas Satlantas Polri dan Dishub, dibantu petugas instansi lain, bekerja ekstrakeras mengurai kemacetan. Lautan kendaraan bergerak kembali setelah sekitar pukul 02.30.
Kurangnya jalur alternatif menyebabkan lautan kendaraan terkonsentrasi pada ruas jalan utama. Kapasitas jalan juga tak lagi mampu menampung ledakan volume kendaraan pada malam pergantian tahun tersebut. Di luar persoalan itu, Kajen kini lebih menarik dan menjadi destinasi alternatif.
Ada daya tarik yang membedakannya dari wilayah utara Kabupaten Pekalongan, semisal Siwalan, Wonokerto, Tirto, bahkan dari Kota Pekalongan. Sebagai ibu kota kabupaten, Kajen lebih ”sunyi” tapi lebih nyaman, lebih hijau, dan lebih segar. Masyarakat tertarik berkunjung, bahkan sebagian memilih tinggal karena keunggulan dan perbedaan itu.
Daya tarik Kajen tidak semata-mata berkait dengan kebutuhan menikmati suasana lebih sunyi, nyaman, hijau, dan segar. Ke depan, kota itu secara alamiah menjadi tumpuan penyelesaian masalah kependudukan, lingkungan, dan perkotaan. Rob dan abrasi di wilayah utara, dan keterbatasan ruang terbuka di wilayah Kota Pekalongan akan menjadi pemicu masyarakat memalingkan muka ke Kajen.
Pelan dan pasti terjadi ”eksodus” ke Kajen. Properti di wilayah kabupaten menjadi pilihan karena properti di kota makin mahal dan juga dirasa tidak nyaman karena banjir, limbah, dan rob. Keunggulan komparatif berupa ketersediaan lahan, potensi geografis, dan topografi menjadi daya tarik bagi masyarakat dan investor.
Konsolidasi Tanah
Tanpa perlakuan khusus pun Kajen akan menjadi magnet karena keunggulan komparatif tersebut. Ketersediaan infrastruktur kota yang memadai dan terintegrasi, termasuk sejumlah objek dan kegiatan yang layak pandang dan layak kunjung, regulasi yang lebih memberi kepastian, dan manajemen urusan pemerintahan yang lebih baik, lebih memberi nilai tambah.
Bercermin dari kemacetan pada malam pergantian tahun maka membangun jalan sebagaimana dalam peta konsolidasi tanah di sekitar Kajen, mendesak diwujudkan. Ini akan membawa dua keuntungan, selain makin banyak alternatif jalan dari dan ke Kajen, juga makin mendorong inevestasi karena kepastian lokasi kepemilikan tanah hasil konsolidasi.
Alun-alun Kajen menjadi arena pergelaran aneka kegiatan, dari olahraga, hiburan, sosial, hingga kegiatan yang bernuansa ekonomi. Karenanya, pemkab perlu terus melakukan penataan dengan mengakomodasi beragam kepentingan tersebut.
Di samping itu, harus mengembangkan kompleks alun-alun sehingga bisa menjadi kebanggaan. Kegiatan yang digelar di Kajen selalu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Kegiatan yang dinantikan semisal malam Tahun Baru Masehi, peringatan Tahun Baru Hijriah, Kajen Ekspo, dan peringatan hari jadi kabupaten. Jika perlu, pemkab membentuk struktur organisasi yang khusus menangani kegiatan itu.
Yang tidak ka-lah penting adalah kesiapan masyarakat menghadapi perubahan sekaligus dampaknya. Masyarakat harus bisa menjadi tuan rumah yang siap menghadapi perubahan. Jika tidak mereka akan menjadi penonton dan terpinggirkan oleh perubahan Kota Kajen yang tidak terhindarkan. (10)