31/10/2020
Falsafah hidup kedua : Semeleh
Orang-orang Jawa sering terlihat kurang ngotot berusaha untuk meraih sesuatu. Itu bukan berarti mereka tidak mencoba atau tidak mau berusaha. Mereka berusaha hingga batas yang dapat mereka hadapi. Selebihnya, mereka memasrahkan itu kepada Tuhan. Inilah yang disebut sebagai semeleh.
Falsafah jawa kedua saya dengarkan dari teman saya yang berasal dari sunda. Dia memiliki mertua dari Jawa. Siang itu di sela-sela aktivitas kantor, kami mengobrol.
‘Mas, apa sih kunci kehidupan yang damai dan bisa ikhlas?’
‘Kuncinya malah kupelajari dari orang tua yang asli Jawa. Beliau bilang saat kita benar-benar merasa ‘sempit’ dalam hidup, merasa ‘berat’, satu yang bisa kita lakukan yaitu semeleh,’ Teman saya menjelaskan dengan lugas.
‘Maksudnya mas?’
’Semeleh itu ikhlas dengan seluruh permasalahan atau beban, membiarkan Tuhan yang mengatur dan memberikan solusinya.’
Mendengarnya saya tertegun, memang benar tidak semua masalah bisa benar-benar kita selesaikan saat itu juga. Ada kalanya, masalah baru bisa kita selesaikan di kemudian hari. Bantuan bisa datang dari sesuatu yang tak pernah kita duga sebelumnya. Terkadang dalam kehidupan sehari-hari saat kita ngotot menyelesaikan masalah dengan ngotot, seolah merasa kita adalah manusia super yang bisa menyelesaikan berbagai macam hal, hal itu hanya menambah pening kepala dan menjadi beban. Saat kita gagal menyelesaikan masalah, kita stres. ..