22/08/2013
Ketika seorang pelari harus berhadapan dengan "kerasnya" lalu lintas ibu
kota
Ketika suatu pagi di ibu kota jakarta seorang pelari melakukan rutinitas
kesehariannya yang memang menjadi hobinya , dia berlari melintasi track yang
hampir setiap hari dia lewati, teman kami ini bernama Matthew Airlangga,
seperti biasa panggil saja Matt, sebelum melakukan pekerjaannya dia berlari
sekitar pk.05.00 pagi, Pagi itu Matt lari dari arah Menteng menuju Jl.
Rasuna Said (kuningan) ,Jakarta. Melintasi jembatan perbatasan antara
menteng dan kuningan dimana akhir dari jembatan itu adalah titik balik arah
kembali ke tempat start di rumahnya di daerah menteng. Matt memang
menyebrang di jalan raya ke arah four season hotel untuk berbalik arah ke
arah menteng, pada saat menyebrang sekitar pk.5.30 , merasa sepi Matt pun
nyebrang karena merasa sudah aman lalulintasnya, tapi ternyata dari arah
kiri atau dari arah kuningan menuju menteng ada sebuah motor (tidak tahu
apakah kecepatan motor tersebut itu cukup kencang) Matt pun ditabrak motor
tersebut dari arah kiri badannya, benturan itu mengakibatkan Matt terpental
jatuh, pengendara motor pun mengalami luka2 , setelah itu Matt sudah tidak
tau lagi apa yang terjadi. Matt dibawa ke RS MMC oleh pengendara mobil
Avanza, kondisi Matt saat itu sadar dengan luka di kepala kiri belakang, dan
memar di bahu bawah ketiak, pagi itu juga Matt mendapat tindakat, CT Scan,
Rontgen dll, hasil pun keluar sekitar pk.10.00 , Dokter melihat hasil CT
scan, langsung mengatakan ini ada pendarahan pada kepala belakang kiri, dan
patah tulang di bawa ketiak. Saat itu juga dokter memutuskan untuk melakukan
operasi besar pembersihan pendarahan dalam kepala, dan pemasangan 3 buah PIN
di tulang bawah ketiak. Operasi berlangsung sekitar 3 jam, pasca operasi
Matt masuk di ICU untuk 1 malam untuk di monitor pendarahan dan tingkat
kesadarannya, dan syukur hasil dari operasi membuat matt menjadi lebih baik,
Matt dalam kondisi stabil dan pindah ke kamar perawatan di RS MMC.
Dibalik sebuah kejadian ini, banyak sekali pelajaran yang mungkin bagi
sebagian orang berfikir olahraga paling mudah dan aman ya lari, kalo bicara
resiko semua aktifitas yang kita lakukan pasti ada resikonya, ini contoh
dari salah satu resiko yang orang berfikir itu aman tapi pada kenyataannya
ini fatal. Fatal dalam arti banyak faktor pendukung dari terjadinya sebuah
kecelakaan yang menurut saya kejadian seperti ini bisa diminimalisir. Tanpa
melihat siapa yang salah dalam kejadian diatas.
Bagi seorang pengendara , tahukah mereka akan hak dan kewajiban mereka saat
berlalu lintas di jalan raya?
Perlukah ada rambu2 lalu lintas untuk meminimalisir kecelakaan pada pelari?
Katakankah rambu itu bertuliskan "JALUR KIRI UNTUK PELARI" "BERLARI HARUS
BERLAWANAN ARAH DENGAN PENGENDARA"
"GUNAKAN JEMBATAN PENYEBRANGAN PADA SAAT ANDA INGIN MENYEBRANG" "PELARI
WAJIB MENGGUNAKAN LAMPU DI BAGIAN DEPAN DAN BELAKANG" "UTAMAKAN PARA PEJALAN
KAKI DAN PELARI" dll , namun dibalik semua itu perlu sekali didukung dengan
melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat, yang paling mudah
sosialisasi itu dilakukan oleh Induk olahraga kepada club club atau
komunitas komunitas lari yang dimana saat ini bisa dibilang lari adalah
olahraga yang sedang pop**ar di masyarakat indonesia khususnya kota2 besar.
Hampir di semua kalangan melakukan aktifitas lari pagi bahkan lari di malam
hari. Katakanlah 1000 pelari setiap hari berlari di pagi hari di kota
jakarta ini, berbanding dengan jutaan pengguna kendaraan motor di jalan
raya. Semakin banyak faktor semakin besar juga resiko yang akan kita hadapi
bersama. Sudah saatnya pemerintah melihat bahwa komunitas lari di kota besar
mendapatkan perhatian lebih, kadang pemerintah juga hanya melihat "oh tenang
aja mereka lari di car free day" " oh tenang aja kita sudah punya ring road
senayan tempat merka berlari" tapi pemerintah mungkin lupa, tidak semua
orang bisa berlari di weekend misalnya, tidak semua orang bisa pergi ke car
free day, dan tidak semua orang berani ke senayan" dan dengan pengetahuan
yang minim orang banyak sekali berlari di lalu lintas kota kota besar yang
dimana lalu lintas di indonesia khususnya di jakarta sangatlah belum aman
untuk tempat berlari. Pertama mental pengendara di indonesia cenderung ingin
terburu, seperti layaknya orang tidak bisa mngatur waktu didukung juga
kurang tegasnya rambu2 bagi pengendara bermotor.