Intuisi Juve

Intuisi Juve L'arte del calcio italiano

SUMMARYJuventus 5-0 Dynamo KyivMatchday 2 Group Stage E UEFA Champions League 2002/03Date : Tuesday, 24-09-2002Venue : D...
31/08/2025

SUMMARY
Juventus 5-0 Dynamo Kyiv
Matchday 2 Group Stage E UEFA Champions League 2002/03
Date : Tuesday, 24-09-2002
Venue : Delle Alpi (Turin)
Referee : Wolfgang Stark
------------------------------------------------------------------------
GOAL SCORER
Juventus : Di Vaio 14', 52' | Del Piero 22' | Davids 67' | Nedved 79'
------------------------------------------------------------------------
SUBTITUTIONS
Tachhinardi Tudor 68'
Khatskevich Melaschenko 71'
Di Vaio Trezeguet 72'
Montero Baiocco 76'
------------------------------------------------------------------------
ALLENATORE
Juventus : Marcello Lippi
Dynamo Kyiv : Olexiy Mykhailychenko
------------------------------------------------------------------------
AMMONITO
Juventus : Ferrara, Tacchinardi,
Dynamo Kyiv : Leko

Pierluigi CasiraghiPemain yang saat saya masih kecil (kebetulan saat sudah bisa baca), dia ada di Juventus. Ya meski saa...
30/08/2025

Pierluigi Casiraghi

Pemain yang saat saya masih kecil (kebetulan saat sudah bisa baca), dia ada di Juventus. Ya meski saat itu saya belum menonton sepakbola secara mendalam. Namun saya ingat namanya ada di surat kabar waktu itu dan dia sedang membela Juventus. Baru di musim 1997-1998 saya mulai belajar dan menonton sepakbola secara mendalam.

Dan saya sadar ketika Casiraghi sedang membela Lazio, berduet dengan Roberto Mancini karena Beppe Signori pindah ke Sampdoria, sebelum akhirnya ke Bologna dan menjadi legenda di sana.

Sepanjang perjalanan karirnya, Gigi Casiraghi hanya membela 4 klub, yakni Monza, Juventus, Lazio, dan Chelsea di ujung karirnya. Di Monza, dia memulai perjalanannya, dan bertahan 4 tahun di sana dengan raihan 28 gol dari 94 penampilan. Tidak terlalu tajam namun perannya di lini depan cukup menonjol. Dia bisa bermain sebagai peran apapun di lini depan. Casiraghi terkenal karena kemampuan bola atasnya yang sangat baik. Jika di era sekarang ada beberapa nama yang terkenal karena kegemarannya mencetak gol akrobatik nan indah, seperti : Fabio Quagliarella, Federico Bonazzoli, maka di masa lalu Casiraghi juga terkenal akan kemampuan yang serupa.

Pindah ke Juve di musim 1989-90, Casiraghi berhasil membawa Juve menjuarai UEFA Cup (setara Europa League di era sekarang) di akhir musim tersebut. Bahkan Casiraghi mencetak gol di partai final. Tidak sekali Juve dibawanya menjuarai UEFA Cup, di musim 1992-1993, Juve kembali keluar sebagai pemenang di kejuaraan yang sama. Selain itu, Coppa Italia juga berhasil diraihnya bersama Juve.

Sebetulnya, selama di Turin, catatan golnya tidak terlalu baik. Bahkan yang tertinggi dalam satu musim hanya 8 gol di musim 1990-1991. Total di Juve dia hanya bisa membuat 33 gol dari 141x bertanding. Namun berkat performa positif di Juve lah yang akhirnya mengantarkannya ke Tim Nasional Italia.

Pindah ke Lazio, rasio golnya cenderung stabil namun tidak istimewa. 56 gol dicetak dari 188x penampilan. Namun statusnya sama, dia merupakan pemain yang punya peran penting. Termasuk saat Lazio menjuarai Coppa Italia di musim 1997-1998. Di musim terakhirnya bersama Lazio, Casiraghi tidak banyak bermain. Karena Sven Goran Eriksson lebih menyukai duo Alen Boksic dan Roberto Mancini. Situasi yang membuatnya memilih bergabung dengan Chelsea di English Premier League.

2 tahun di Chelsea, hanya 10x penampilan dia dapatkan dengan mencetak sebiji gol. Casiraghi mengalami cedera yang cukup fatal saat bertabrakan dengan Shaka Hislop, kiper Westham United. Namun Chelsea tidak membantunya dalam pemulihan cedera tersebut. Bahkan gajinya tidak dibayarkan, meski kontraknya diputus lebih awal. Sebuah kondisi pilu yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri karirnya.

Inilah Pierluigi Casiraghi, sebuah nama yang membuat saya mengenal Juventus dan mencintainya hingga sekarang. Forza Juve!

SUMMARYJuventus 1-0 ArsenalMatchday 6 2nd Group Stage D UEFA Champions League 2001/02Date : Wednesday, 20-03-2002Venue :...
28/08/2025

SUMMARY
Juventus 1-0 Arsenal
Matchday 6 2nd Group Stage D UEFA Champions League 2001/02
Date : Wednesday, 20-03-2002
Venue : Delle Alpi (Turin)
Referee : Karl Erik Nillson
------------------------------------------------------------------------
GOAL SCORER
Juventus : Zalayeta 76'
------------------------------------------------------------------------
KEY MOMENT
Missed Penalty Henry 51' | Saved by Carini
------------------------------------------------------------------------
SUBTITUTIONS
Paramatti Pessotto 24'
Guzman Pericard 61'
Zambrotta Amoruso 70'
Edu Wiltord 79'
Lauren Ash. Cole 82'
------------------------------------------------------------------------
ALLENATORE
Juventus : Marcello Lippi
Arsenal : Arsene Wenger
------------------------------------------------------------------------
AMMONITO
Juventus : Davids, Pessotto
Arsenal : Vieira

Rubens Fernando MoedimJika menyebut nama lengkapnya, kemungkinan sedikit sekali yang tau siapa dia. Dia dikenal sebagai ...
27/08/2025

Rubens Fernando Moedim

Jika menyebut nama lengkapnya, kemungkinan sedikit sekali yang tau siapa dia. Dia dikenal sebagai Rubinho. Seorang penjaga gawang asal Brazil.

Jarang sekali kita melihat seorang ikon yang berasal dari bench. Namun di era sekarang, Juventini pasti akrab dengan pemain ikonik seperti Carlo Pinsoglio. Sosok seperti Pinsoglio bukan hanya muncul di era sekarang. Di era-era sebelumnya Juve juga punya sosok seperti Pinsoglio. Kiper ke 3 namun punya peran penting di ruang ganti.

Ada banyak nama. Namun Rubinho lah yang ingin saya uraikan terlebih dahulu. Karena sebetulnya jarang Juve memiliki kiper asal Brazil yang bertahan lama.

Tumbuh dan besar dari akademi dan klub-klub lokal Brazil, Rubinho menarik minat Genoa untuk menjaga gawang mereka. 95 penampilan dalam 3 musim, cukup untuk melambungkan namanya. Namun setelahnya, dia memulai peran sebagai kiper pelapis.

Palermo mendatangkannya sebagai deputi Marco Amelia. Kemudian berlanjut di Livorno, Torino, barulah dia datang ke Juve. Di Juve sebetulnya Rubinho seperti coba-coba. Awalnya hanya mendapat kontrak 1 musim sebagai pelapis Gigi Buffon dan Marco Storari. Namun ternyata Rubinho punya banyak peran penting di ruang ganti. Dia bisa bertahan di Turin hingga 4 musim.

Beruntung Rubinho ada di era Scudetto beruntun Juve. Di era itu Juve seringkali memenangkan scudetto tidak sampai giornata terakhir. Sehingga, laga-laga di akhir musim kerap kali dimanfaatkan untuk rotasi pemain. Tidak sekalipun Rubinho melewatkan musim tanpa bermain. Selalu dia mendapatkan 1 jatah pertandingan. Apresiasi yang bagus untuk kiper ke tiga.

Sebagai orang Indonesia, saya berterima kasih atas momen yang tepat di mana Rubinho meninggalkan Juve. Karena momen itulah, Emil Audero, yang sebelumnya tampil dominan dan brilian di Juventus Primavera & Tim Nasional Italia di berbagai level umur, bisa dipromosikan sebagai kiper ketiga menggantikan Rubinho. Dan Emil juga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melakukan debut bersama tim utama Juventus.

Como, Genoa, dan Avai menjadi pelabuhan berikutnya dalam karir Rubinho. Dan Avai adalah klub yang menjadi tempatnya untuk menutup karir sepak bolanya.

Sebagai tambahan informasi, Rubinho mempunyai seorang kakak kandung yang juga seorang pesepakbola. Masih ingat dengan Ze Elias? Ya benar dialah kakak Rubinho, mantan gelandang Inter Milan, musuh bebuyutan Juventus.

Dari Rubinho kita bisa belajar jika bukan menjadi pilihan utama bukan berarti kita tidak bisa memberikan peran dan manfaat. Tergantung bagaimana kita memanfaatkan momentumnya. Forza Juve!

SUMMARYHamburg SV 4-4 JuventusMatchday 1 Group Stage E UEFA Champions League 2000/01Date : Wednesday, 13-09-2000Venue : ...
26/08/2025

SUMMARY
Hamburg SV 4-4 Juventus
Matchday 1 Group Stage E UEFA Champions League 2000/01
Date : Wednesday, 13-09-2000
Venue : Volksparkstadion (Hamburg)
Referee : Vitor Melo Pereira
------------------------------------------------------------------------
GOAL SCORER
Hamburg SV : Yeaboah 17' | Mahdavikia 65' | Butt 72' (Pen.) | Kovac 82'
Juventus : Tudor 6' | Inzaghi 36', 52', 88' (Pen.)
------------------------------------------------------------------------
SUBTITUTIONS
Groth Tofting 27'
Hollerbach Ketealer 46'
Del Piero Kovacevic 59'
Iuliano Birindelli 59'
Cardoso Prager 67'
O'Neill Bachini 73'
------------------------------------------------------------------------
ALLENATORE
Hamburg SV : Frank Pagelsdorf
Juventus : Carlo Ancelotti
------------------------------------------------------------------------
AMMONITO
Hamburg SV : Barbarez
Juventus : O'Neill, Davids, Iuliano

Christian 'Bobo' VieriStriker ideal yang sayang keberadaannya terlalu singkat di turin.Pemain ini merupakan pemain nonma...
25/08/2025

Christian 'Bobo' Vieri

Striker ideal yang sayang keberadaannya terlalu singkat di turin.

Pemain ini merupakan pemain nonmaden, hampi setiap musim dia berpindah klub. Meski begitu, dia merupakan jaminan gol bagi tim manapun yang dia bela. Di Bulan Maret tahun 2004, namanya masuk top 100 pemain terbaik FIFA. Bahkan oleh legenda terbesar Brazil, Pele, Vieri dianggapnya layak masuk sebagai 125 pesepakbola terbaik sepanjang masa.

Memulai karir di Torino, Vieri masih biasa-biasa saja. Hanya satu gol dia buat untuk Il Toro. Di Pisa pun sama. Baru saat membela Ravenna, keran golnya mulai bocor. 12 goal dia lesakkan dari 32x penampilan. Pindah ke Venezia da Atalanta, dia cukup konsisten mencetak gol. Dan publik mulai melabelinya sebagai monster, striker ngeri, bomber maut.

Juventus bergerak cepat memboyongnya ke Turin saat usianya 23 tahun. Penampilannya lumyan ok dan paten. Di semua kompetisi dia mencetak 14 gol dari 37 penampilan yang dibuatnya. Yang paling dikenang adalah saat dia ikut mencetak 2 gol saat Juventus membantai Milan di Giuseppe Meazza, eh maaf salah, San Siro harusnya, 1-6. Semusim di Juve, juve dibawanya meraih scudetto, dan melaju hingga final UEFA Champions League. Sayangnya Juve gagal mempertahankan gelar karena kalah 1-3 dari Borussia Dortmund.

Musim berikutnya dia melanjutkan karir di Ibu Kota Spanyol, Atletico Madrid jadi pelabuhannya. Di sana dia tampil ganas. Mencetak 24 gol dari 24 penampilan. Gelar Top Skor La Liga pun diraihnya. Namun bagi Vieri, kepindahannya ke Atletico dia ungkapkan murni harnya karena uang. Vieri menyesal hanya karena gajinya meningkat dari 2 juta Lire menjadi 3,5 Juta Lire, dia pergi dari Turin. Semestinya Vieri bisa tinggal lebih lama.

Ada suatu momen presiden klub, Jesus Gil membohonginya. Kala itu Vieri baru saja mencetak hattrick melawan Real Zaragoza. Pertandingan berikutnya melawan PAOK Salonika, daari Yunani. Vieri bertaruh dengan presiden klub. Jika Vieri mencetak hattrick lagi, presiden klub akan membelikannya Ferrari. Dan benar saja, Vieri cetak hattrick lagi. Presiden klub memang meminta Vieri memilih mobil hadiahnya, namun bukan Ferrari. Vieri kecewa, merasa dibohongi, Vieri akhirnya memilih pergi di akhir musim.

Sejatinya, Vieri ingin kembali ke Turin, ke Juventus. Namun saat itu Juve sudah memiliki Pippo Inzaghi, bahkan membentuk duet maut Del-Pippo bersama Alex Del Piero. Akhirnya pinangan Lazio dia terima untuk kembali ke Italia. Di Lazio Vieri tetap ganas, meski hanya 28 laga, dia tetap bisa mencetak 14 gol. Dengan performanya yang masih ok, Inter Milan memboyongnya hingga memecahkan rekor transfer dunia kala itu.

Di Inter ini lah Vieri tinggal lebih lama dari biasanya. 5 musim dia habiskan, dengan torehan 123 gol dari 190 pertandingan. Dia pun sempat menjadi capocannoniere di season 2002-03 dengan 24 gol hanya dari 23 penampilan.

Setelah 5 musim, dia pindah ke rival sekota, AC Milan. Penampilannya memang banyak menurun karena cedera yang terus menghantamnya. Performanya seakan tidak pernah kembali, baik saat di Milan, Monaco, Atalanta dan Fiorentina. Selesai di kota Firenze, dia memutuskan kembali ke Bergamo untuk menjalani musim terakhirnya sebagai pesepakbola.

Ada yang unik saat Vieri dimintai pendapat terkait calciopoli. 5 musim di Inter tak lantas membuatnya membela Inter dalam calciopoli. Justru Vieri menuding bahwa Moratti lah dalang dari calciopoli, dari apa yang dia ketahui melalui kontrak profesionalnya di Inter. Tak lupa Vieri meminta maaf kepada Juve dan Milan yang sangat dirugikan dalam kasus calciopoli.

Vieri mempunyai postur dan kaki kiri yang sangat maut. Badannya besar dan kokoh, namun dia tak malas berlari. Tak heran, di mana pun dia bermain, gol demi dol berhasil dia dapatkan. Jika dia tidak dalam kondisi cedera, Vieri lah striker utama tim nasional Italia. Meski saat itu bercokol nama-nama hebat lainnya. Sayang sekali cederanya tidak bisa pulih saat Piala Dunia 2006, di mana Italia akhirnya memenangkannya.

Meski hanya semusim, saya seperti merasa Vieri adalah pemain yang bermain di Juve untuk bertahun tahun lamanya. Mungkin baginya Juve adalah tempat terbaik dalam karirnya. Dia menyesali kepergiannya dari Turin. Ya begitulah, penyesalan memang selalu hadir di akhir peristiwa. Forza Juve!

SUMMARYInter 1-2 JuventusGiornata 30 Serie A Italia 1999/00Date : Sunday, 16-04-2000Venue : Giuseppe Meazza (Milan)Refer...
24/08/2025

SUMMARY
Inter 1-2 Juventus
Giornata 30 Serie A Italia 1999/00
Date : Sunday, 16-04-2000
Venue : Giuseppe Meazza (Milan)
Referee : Fiorenzo Treossi
------------------------------------------------------------------------
GOAL SCORER
Inter : Seedorf 83'
Juventus : Kovacevic 55', 79'
------------------------------------------------------------------------
SUBTITUTIONS
Inzaghi Tacchinardi 66'
Serena Mutu 48'
Del Piero Esnaider 85'
Simic Moriero 85'
Ferrara Tudor 85'
------------------------------------------------------------------------
ALLENATORE
Inter : Marcello Lippi
Juventus : Carlo Ancelotti
------------------------------------------------------------------------
AMMONITO
Inter : Mutu, Di Biago
Juventus : Zambrotta, Davids, Kovacevic

Emerson Ferreira da RosaGelandang-gelandang asal Brazil dikenal kurang begitu cocok dengan Juventus. Dari masa ke masa b...
23/08/2025

Emerson Ferreira da Rosa

Gelandang-gelandang asal Brazil dikenal kurang begitu cocok dengan Juventus. Dari masa ke masa banyak sekali yang mentok, tidak bisa mengeluarkan performa terbaik saat berada di Turin. Namun jika ada sedikit pengecualian, maka nama Emerson layak menjadi anomali.

Sebetulnya, secara skill memang Emerson tidak seperti pemain Brazil lainnya yang skillful. Emerson merupakan pemain yang taktis dan efeisien, berbekal kondisi fisiknya yang bagus. Namun justru dengan permainan fisik itulah, Emerson bisa melakukan tugasnya dengan baik. Dia bak batu karang di lini tengah Juve, sangat sulit sekali untuk menembusnya.

Emerson memulai karirnya di Gremio. Selama 3 tahun, menit bermain dimanfaatkannya dengan baik untuk tumbuh menjadi pemain yang potensial dan bermasa depan cerah.

Petualangan eropa Emerson di eropa di mulai di tanah Bavaria, Jerman. Bayer Leverkusen menempanya menjadi pemain hebat. 83 penampilan didapatkannya dengan mengemas 11 gol, di usianya yang saat itu menginjak 24 tahun.

Performanya yang sedemikian ok itu, membuat AS Roma tidak ragu menebusnya dengan harga yang lumayan mahal untuk seorang gelandang bertahan di kala itu, 35 Juta Lire.

Fabio Capello, pelatih Roma saat itu, yakin bahwa Emerson bisa menjadi salah satu kepingan penting di dalam timnya, selain kedatangan Gabriel Batistuta. Dan benar, setelah sekian purnama, Roma berhasil keluar menjadi Scudetto di tahun 2001. Duetnya bersama Damiano Tommasi sangat solid.

Saat Capello memutuskan pindah ke Turin, tidak ragu dia membawa serta Emerson di dalamnya. Dan benar Juventus dibawanya mendominasi liga, untuk akhirnya keluar menjadi juara di lapangan. Di musim berikutnya, Juve punya ambisi untuk menduetkan Emerson dengan salah satu gelandang legendaris di dunia, Patrick Vieira. Juve berhasil, Patrick Vieira pun datang. Sebuah kombinasi yang mematikan antara Vieira dan Emerson. Lagi dan lagi di lapangan, mereka membawa Juve keluar sebagai juara. Dengan kualitas seperti itu agak mengherankan jika Juve dituduh melakukan skenarion pertandingan untuk memenangkan liga hingga akhirnya dipaksa turun ke Serie B. Hanya Juve.

Dengan beberapa klub lain yang 'katanya' juga divonis sebagai terdakwa calciopoli. Mereka tidak dipaksa turun ke Serie B, hanya terkena pengurangan poin. Sementara Juve, turun dan terkena pengurangan poin. Sementara itu, Scudetto yang mereka menangkan di atas lapangan, diberikan begitu saja ke tim yang katanya 'suci', meski ada bukti percakapan mendiang presidennya (sebelum beberapa hari berikutnya wafat setelah rekaman percakapan dipublikasikan) dengan kepala wasit. Ya sudahlah, mungkin kelak waktu akan menjawab apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan keputusan Juve dipaksa turun ke Serie B. Lagi dan lagi Emerson mengikuti jejak Capello, kali ini ke Real Madrid. Meski tidak begitu banyak bermain di Madrid, Emerson tetap bisa membawa Madrid keluar sebagai pemenang La Liga.

Sempat ada wacana bahwa Emerson akan kembali ke Turin, namun justru AC Milan lah yang membawanya kembali ke Italia. 2 Musim di Milan, tidak ada yang istimewa, namun tetap bisa memberikan trofi untuk klub yaitu FIFA Club World Cup di tahun 2007.

Memasuki usia 30an, Emerson mulai menurunkan tensi level bermainnya. Selepas dari Milan dia sempat kembali ke Brazil, yaitu Santos. Setelahnya dia 5 musim berlaga di American Premier Soccer League bersama Miami Dade FC kemudian mengakhiri karir di klub yang sama.

Bersama Timnas Brazil 73 caps dia dapatnya dengan torehan 6 gol. sebanyak itu caps sudah bisa menggambarkan bahwa di Timnasnya pun Emerson merupakan andalan. Masuk di skuad 1998 menggantikan Romario yang cedera. Kemudian membawa Brazil Juara Copa America dan Piala Konfederasi, namun justru saat Brazil juara dunia 2002, dia tidak masuk skuad. Dia mengalami cedera di detik-detik akhir registrasi, sehingga posisinya digantikan oleh Ricardinho. Namun dia menebusnya dengan kembali ke skuad pasca cedera. Dan Brazil dibawanya menjadi juara Piala Konfederasi di tahun 2005, dengan mengalahkan Argentina 4-1 di partai puncak.

Jika tidak ada calciopoli, saya yakin Emerson akan menghabiskan waktunya lebih lama di Turin. Salah satu gelandang Brazil yang menjadi anomali sebagai Brazillian di tim legendaris ini. Forza Juve!

SUMMARYPerugia 3-4 JuventusGiornata 1 Serie A Italia 1998/99Date : Sunday, 13-09-1998Venue : Renato Curi (Perugia)Refere...
22/08/2025

SUMMARY
Perugia 3-4 Juventus
Giornata 1 Serie A Italia 1998/99
Date : Sunday, 13-09-1998
Venue : Renato Curi (Perugia)
Referee : Daniele Tombolini
------------------------------------------------------------------------
GOAL SCORER
Perugia : Nakata 52', 59' | Bernardini 87' (Pen.)
Juventus : Davids 22' | Tudor 32' | Pessotto 45' | Fonseca 65'
------------------------------------------------------------------------
SUBTITUTIONS
Manicone Bernardini 46'
Iuliano Mirkovic 48'
Del Piero Di Livio 67'
Zidane Fonseca 69'
Tovalieri Erceg 74'
Petrachi Melli 90'+2'
------------------------------------------------------------------------
ALLENATORE
Perugia : Ilario Castagner
Juventus : Marcello Lippi
------------------------------------------------------------------------
AMMONITO
Perugia : Sogliano, Sussi, Campolo, Tovalieri,
Juventus : Birindelli, Pessotto, Davids, Mirkovic

Pietro VierchowoodBek ini memang hany satu musim di Juve. Namun 1 musim itu dimanfaatkannya untuk meraih titel si kuping...
21/08/2025

Pietro Vierchowood

Bek ini memang hany satu musim di Juve. Namun 1 musim itu dimanfaatkannya untuk meraih titel si kuping besar bersama Sang Nyonya Tua. Gelar terakhir Juve di ajang ini hingga sekarang.

Saya sejatinya pernah menontonnya bermain. Namun itu saat Pietro sudah berada di Piacenza, di penghujung karirnya. Meski sudah sangat renta bagi pesepakbola di kala itu, Pietro masih terlihat menjadi benteng yang menjengkelkan bagi lawan-lawannya.

Bagaimana saat di Juve? Entahlah. Berdasarkan data yang saya dapatkan, dia lumayan banyak bermain. Ada 21x penampilannya dengan jersey hitam putih legendaris dan mencetak 2 gol. Bahkan dia tampil sebagai starter di final UCL melawan Ajax Amsterdam, berduet dengan Ciro Ferrara di jantung pertahanan. Padahal usianya saat itu sudah 37 tahun!

Namun mengapa Juve masih mau merekrutnya meski dia sudah renta? Meski sudah renta, pada dasarnya Vierchowood ini bukanlah pemain sembarangan. Bahkan saat Italia juara World Cup 1982, nama Vierchowood sudah ada di dalamnya. Maka sudah jelas, dia adalah seorang juara dunia.

Mengawali karir di Como selama 5 tahun, Pietro melanjutkan kegemilangan bermainnya di Fiorentina di tahun berikutnya. Performa yang membawanya masuk ke skuad Italia World Cup 1982 dan memenangkannya. Hanya semusim di Fiorentina, Pietro memutuskan pergi ke Ibu Kota Italia, AS Roma beruntung mendapatkannya. Scudetto pun berhasil diraihnya bersama Roma di tahun 1983.

Setelahnya, Sampdoria berhasil membawanya pergi dari klub ibu kota. Di kota Genoa, prestasinya tidaklah surut, justru makin gemilang. Tsunami trophi bagi Sampdoria pun terjadi. 4x Juara Coppa Italia, Juara Piala Winners, dan tidak lupa, Scudetto bagi Sampdoria di tahun 1991. 12 tahun dia habiskan waktunya di Sampdoria. Baru setelah itu Juve punya kesempatan untuk merekrutnya.

Pasca dari Turin, Milan sempat mendapatkan jasanya, meski hanya semusim. Di sana dia berkumpul bersama pemain-pemain legendaris seperti Billy Costacurta, Franco Baresi, Paolo Maldini, Mauro Tassotti, bahkan Roberto Baggio juga ada di sana.

Baru setelahnya Pietro mulai meredakan karirnya. Dia menjalani sisa karirnya di Piacenza, hingga akhirnya pensiun di usia 41 tahun di tahun 2000. Di Piacenza, dia juga menjadi rekan satu tim dari Simone Inzaghi, adik kandung dari Pippo Inzaghi, yang akhirnya lebih sukses menjadi salah satu pelatih hebat Italia.

Dari sini kita bisa tarik kesimpulan, bahwa Pietro memang pemain juara. Di setiap klub yang dibelanya, seakan menjadi magnet untuk menjadi juara. Bahkan Juve yang terakhir kali jari juara Piala Champions di tahun 1985 pun bisa dibawanya juara kembali, meski usianya sudah cukup lanjut.

Jika menilik gaya bermainnya, tidak heran tim yang dibelanya selalu dekat dengan gelar juara. Dia dikenal sebagai pemain yang memiliki fisik yang sangat baik, dan kecepatan yang istimewa. Bahkan kala itu Pietro merupakan salah satu centerback tercepat di dunia. Kemampuan yang memudahkannya mencuri bola dari penguasaan lawan, dan juga memarking pemain terbahaya dari sisi lawan. Vertical jump-nya pun sangat baik. Tidak jarang dia mencetak gol via sundulan. Bahkan dia adalah salah satu bek tengah yang paling produktif di tim nasional Italia.

Mendiang Diego Maradona pernah menyebutkan di 2008, siapa lawan terberatnya. Tak ragu Maradona menyebutkan nama Pietro Vierchowood. Bagi Maradonda, Pietro seperti binatang, Pietro buas dan memiliki otot yang besar. Jika berhasil melewatinya, maka dengan mudah dia merebutnya kembali. Maradona kerap kali memilih untuk langsung mengoper bola jika yang menghadangnya adalah Pietro. Karena Maradona tau, akan sia-sia jika berusaha untuk melewati Pietro. Bahkan Maradona sampai memberikan julukan spesial untuk Pietro, yakni HULK.

Melalui Pietro Vierchowood ini, saya ingin berbagi informasi bahwa Italia memang gudangnya bek-bek hebat. Bukan hanya nama-nama mainstream seperti Maldini, Nesta, Cannavaro, ataupun Chiellini. masih banyak bek-bek legendaris lainnya yang semestinya di generasi ini mulai didengungkan namanya.

Ini lah dia, Pietro Vierchowood, salah satu bek buas Italia dan Juventus. Forza Juve!

SUMMARYParma 2-2 JuventusGiornata 26 Serie A Italia 1997/98Date : Sunday, 22-03-1998Venue : Ennio Tardini (Parma)Referee...
20/08/2025

SUMMARY
Parma 2-2 Juventus
Giornata 26 Serie A Italia 1997/98
Date : Sunday, 22-03-1998
Venue : Ennio Tardini (Parma)
Referee : Robert Anthony Boggi

------------------------------------------------------------------------

GOAL SCORER
Parma : Stanic 36' | Crippa 40'
Juventus : Tacchinardi 55' | Inzaghi 60'

------------------------------------------------------------------------

SUBTITUTIONS
Deschamps Tacchinardi 46'
Birindelli Di Livio 46'
Zidane Zalayeta 57'
Chiesa Adailton 80'

------------------------------------------------------------------------

ALLENATORE
Parma : Carlo Ancelotti
Juventus : Marcello Lippi

------------------------------------------------------------------------

AMMONITO
Parma : Mussi, Crippa, Stanic
Juventus : Di Livio, Conte

Address

Cluster Bali Mansion No. 5 Cireundeu
Ciputat
15419

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Intuisi Juve posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category