25/08/2025
Christian 'Bobo' Vieri
Striker ideal yang sayang keberadaannya terlalu singkat di turin.
Pemain ini merupakan pemain nonmaden, hampi setiap musim dia berpindah klub. Meski begitu, dia merupakan jaminan gol bagi tim manapun yang dia bela. Di Bulan Maret tahun 2004, namanya masuk top 100 pemain terbaik FIFA. Bahkan oleh legenda terbesar Brazil, Pele, Vieri dianggapnya layak masuk sebagai 125 pesepakbola terbaik sepanjang masa.
Memulai karir di Torino, Vieri masih biasa-biasa saja. Hanya satu gol dia buat untuk Il Toro. Di Pisa pun sama. Baru saat membela Ravenna, keran golnya mulai bocor. 12 goal dia lesakkan dari 32x penampilan. Pindah ke Venezia da Atalanta, dia cukup konsisten mencetak gol. Dan publik mulai melabelinya sebagai monster, striker ngeri, bomber maut.
Juventus bergerak cepat memboyongnya ke Turin saat usianya 23 tahun. Penampilannya lumyan ok dan paten. Di semua kompetisi dia mencetak 14 gol dari 37 penampilan yang dibuatnya. Yang paling dikenang adalah saat dia ikut mencetak 2 gol saat Juventus membantai Milan di Giuseppe Meazza, eh maaf salah, San Siro harusnya, 1-6. Semusim di Juve, juve dibawanya meraih scudetto, dan melaju hingga final UEFA Champions League. Sayangnya Juve gagal mempertahankan gelar karena kalah 1-3 dari Borussia Dortmund.
Musim berikutnya dia melanjutkan karir di Ibu Kota Spanyol, Atletico Madrid jadi pelabuhannya. Di sana dia tampil ganas. Mencetak 24 gol dari 24 penampilan. Gelar Top Skor La Liga pun diraihnya. Namun bagi Vieri, kepindahannya ke Atletico dia ungkapkan murni harnya karena uang. Vieri menyesal hanya karena gajinya meningkat dari 2 juta Lire menjadi 3,5 Juta Lire, dia pergi dari Turin. Semestinya Vieri bisa tinggal lebih lama.
Ada suatu momen presiden klub, Jesus Gil membohonginya. Kala itu Vieri baru saja mencetak hattrick melawan Real Zaragoza. Pertandingan berikutnya melawan PAOK Salonika, daari Yunani. Vieri bertaruh dengan presiden klub. Jika Vieri mencetak hattrick lagi, presiden klub akan membelikannya Ferrari. Dan benar saja, Vieri cetak hattrick lagi. Presiden klub memang meminta Vieri memilih mobil hadiahnya, namun bukan Ferrari. Vieri kecewa, merasa dibohongi, Vieri akhirnya memilih pergi di akhir musim.
Sejatinya, Vieri ingin kembali ke Turin, ke Juventus. Namun saat itu Juve sudah memiliki Pippo Inzaghi, bahkan membentuk duet maut Del-Pippo bersama Alex Del Piero. Akhirnya pinangan Lazio dia terima untuk kembali ke Italia. Di Lazio Vieri tetap ganas, meski hanya 28 laga, dia tetap bisa mencetak 14 gol. Dengan performanya yang masih ok, Inter Milan memboyongnya hingga memecahkan rekor transfer dunia kala itu.
Di Inter ini lah Vieri tinggal lebih lama dari biasanya. 5 musim dia habiskan, dengan torehan 123 gol dari 190 pertandingan. Dia pun sempat menjadi capocannoniere di season 2002-03 dengan 24 gol hanya dari 23 penampilan.
Setelah 5 musim, dia pindah ke rival sekota, AC Milan. Penampilannya memang banyak menurun karena cedera yang terus menghantamnya. Performanya seakan tidak pernah kembali, baik saat di Milan, Monaco, Atalanta dan Fiorentina. Selesai di kota Firenze, dia memutuskan kembali ke Bergamo untuk menjalani musim terakhirnya sebagai pesepakbola.
Ada yang unik saat Vieri dimintai pendapat terkait calciopoli. 5 musim di Inter tak lantas membuatnya membela Inter dalam calciopoli. Justru Vieri menuding bahwa Moratti lah dalang dari calciopoli, dari apa yang dia ketahui melalui kontrak profesionalnya di Inter. Tak lupa Vieri meminta maaf kepada Juve dan Milan yang sangat dirugikan dalam kasus calciopoli.
Vieri mempunyai postur dan kaki kiri yang sangat maut. Badannya besar dan kokoh, namun dia tak malas berlari. Tak heran, di mana pun dia bermain, gol demi dol berhasil dia dapatkan. Jika dia tidak dalam kondisi cedera, Vieri lah striker utama tim nasional Italia. Meski saat itu bercokol nama-nama hebat lainnya. Sayang sekali cederanya tidak bisa pulih saat Piala Dunia 2006, di mana Italia akhirnya memenangkannya.
Meski hanya semusim, saya seperti merasa Vieri adalah pemain yang bermain di Juve untuk bertahun tahun lamanya. Mungkin baginya Juve adalah tempat terbaik dalam karirnya. Dia menyesali kepergiannya dari Turin. Ya begitulah, penyesalan memang selalu hadir di akhir peristiwa. Forza Juve!