21/02/2019
"Ke Bang Mustar aja bawa sepedanya, sebentaran juga kelar".
"Panggil aja Mas Amir, biar dicek kipas anginnya. Punya mpok Nyai aja kemaren dibenerin ama dia".
"Kemaren beli madu hutannya di Kang Suri, madunya madu murni, aseli gak bikin hura hara dalam rumah tangga".
Pasti sering kita denger kalimat semodel diatas keluar dari orang yang "terhipnotis" dengan "promosi" yang dilakukan seseorang. Walaupun untuk sampe pada tahap dikenal oleh orang akan skill/jasanya, buat pak Mustar dan Mas Amir juga bukan hal mudah.
Seperti halnya tukang jualan keliling yang istiqomah muter tiap hari, berbulan-bulan sampe kemudian ibu-ibu apal tukang sayur biasa lewat jam berapa, tukang sate teriak jam berapa dan tukang sol sepatu ngider jam berapa. Bahkan kalau mereka sehari gak lewat aja apal.
Kalau buat penjual online keren juga kali ya kalau ada customer yang nginbox,
"Udah 2 hari kemana gak bikin status jualan, saya tunggu ditimeline gak lewat-lewat"
Cie cie ada yang kangen ..
Bentar-bentar ini jadinya mau ngomongin apaan sih? Hehe.
Anggap aja ini cerita tentang alias personal branding. Men temen pengen dikenal sebagai siapa ? Penjual apa? Orang yang bagaimana ?.
Kekonsistenan kita dalam membentuk "pencitraan" yang kita mau itu mutlak diperlukan, biar persepsi itu terbentuk dan menancap dipikiran orang lain. Sehingga suatu waktu mereka butuh kita atau ada temennya yang butuh kita, pikiran mereka tertuju ke kita.
Misalnya, sekali lagi ini misalnya, Tiba-tiba ada yang perlu buku atau buku , langsung pikiran orang itu berpikir,
"Oh, kalau yang jualan buku-buku bisnis gitu, coba tanya ke wa.me/6285710714931 ini aja"
Sekali lagi ini contoh, jangan dianggap maen-maen hehe.