10/12/2020
PHOBIA KEMASAN
BALIJANI.(11/12). Percayalah kalau masih saja tipikal
Indonesia menilai orang dari penampilan bulan pun akan menjauh dari Indonesia. Nilai lah seseorang dari tingkah laku dan prestasinya bukan kemasannya.
Dari zaman penjajahan hingga sekarang Indonesia belum bisa lepas dari kemasan/penampilan merupakan senjata untuk memiliki kekuasaan.
Coba kalian lihat saat PILKADA tidak ada poto paslon yang apa adanya, semua menomer satukan penampilan untuk merebut suara rakyat padahal dalamnya cari balik modal saat kemapanye, logika saja uang dari kampanye keluar dari kantong sendiri dan saat terpilih nanti pasti ingin untuk mengembalikan modalnya terlebih dahulu bagaimana pun caranya, mungkin ada yang jujur, mungkin.
Seperti halnya kasus jerinx yang terjerat pasal UU ITE tentang pencemaran nama baik karena menyebutkan suatu instansi pemerintah kacung WHO, semestinya tidak langsung lapor polisi mediasi dulu atau debat live untuk memastikan benar tidaknya ungkapan jerinx tersebut. Tipikal musisi punk berfikiran secara independent dan aliran kiri dimana menilai suatu peristiwa atau keadaan berdasarkan fakta, apa yang dia fikirkan itu yang terucap maka dari itu setiap kritikan yang terlontar pasti sangat pedas.
Lain halnya dengan kasus korupsi dana bencana covid oleh Mentri Sosial, sudah jelas KPK menyebutkan jika ada seseorang yang korupsi dana bencana maka hukuman mati menantinya, eh malah banyak yg mendukung bahwa inilah, itulah pokoknya remisi siap menanti dan cepat bebas. Simpatisan dimana-mana buzer kanan - kiri biar beliau tidak disalahkan.
Ilmu tinggi menyesuaikan tingkat korupsinya, 17 M bos itu kalau dipakai beneran sangat bermanfaat untuk penangan pandemi covid19.