13/12/2019
DARI WALET HINGGA KE SINAR INTAN DIAMONDS
Oleh: Bp. Agus Wahyudin
Ini adalah tentang cerita time tunnel, menembus lorong waktu menuju masa lalu.
Awal januari 1979, umurku baru menginjak 13 tahun dan duduk di kelas 6 SD, masih anak kecil sudah barang tentu. Aku sekolah di SDN A.YANI, Jl. Ciwalen No. 51, sekitar 200 meter dari rumahku di belakang lapang BAPERKI (RS Bethesda sekarang). Bermain adalah pekerjaanku sehari-hari, mulai main layangan, main kelereng, dan aprak aprakan bersama temen sebayaku ke seputar Pasar Baru, Sasak Gantung, Dalekdok kembali ke rumah lewat Lio, Jl. Gunung Payung.
Suatu hari, terdapat kemeriahan di sekolah di depan Radio Rex, tepatnya STM ( sekarang SMP 4) dimana orang orang dewasa dengan penampilan sporty berbondong bondong masuk ke sekolah tsb. Dan ternyata ada event kejuaraan bola basket "Garuda Cup".
Dan oleh karena terjadi perubahan awal kurikulum tahun ajaran, dari Bulan Januari ke Bulan Juli, maka kelulusanku dari kelas 6 SD sedikit tertunda. Kekosongan itu digunakan untuk menonton hampir tiap pertandingan bola basket Garuda Cup tsb.
Yang masih kuingat hingga sekarang adalah para pemain bola basket dengan badan atletis, mengenakan seragam/jersey yang eye catching, karena warnanya yang mencolok tetapi sangat keren ketika dikenakan.
Garuda, Diana, Papilon, Bubat, Sangkuriang, Eices Belleke, Orca, Fire Fly, Gelatik Mas dll.
adalah nama-nama yang tertera dalam jersey mereka. Perhatianku tertarik dengan kostum warna merah dengan tulisan putih bernama WALET, yang dikenakan oleh seorang pemain yang bernama Tjoan, dan kelak kukenal sebagai bapaknya sahabatku, Martin Seahan. Satu klub lagi dengan kostum yg menarik adalah DIKLAT, berwarna coklat dg garis memanjang diagonal seperti kostum kesebelasan Peru yang dikenakan pada kejuaraan dunia sepakbola di Argentina tahun sebelumnya 1978.
Kejuaraan berlangsung sangat meriah hingga babak final, tetapi aku lupa siapa juara untuk klub putra, tetapi untuk klub putri, juara diraih oleh Diklat, tetapi yg kuingat adalah wajah wajah favorit dari masing masing klub karena ketampanannya atau karena kepiawaiannya memasukkan bola ke dalam keranjang.
Masuk SMP merupakan moment meniru apa yang disaksikan oleh para pemain bola basket dengan ikut DIKLAT yang ternyata merupakan ekskul bolabasket dari SMP 2 Garut
Seiring berjalannya waktu, event kejuaraan bola basket berpindah dari gunung payung ke lapang Kodim 0611, dimana wajah-wajah yang kukenal kembali muncul bertanding, tetapi tidak ditemukan lagi kostum berwarna merah dengan tulisan WALET berwarna putih. Seingatku saat itu masuk tahun 1980-1984, wajah-wajah yang kukenal ternyata menggunakan kostum berwarna kuning bertuliskan SINAR INTAN berwarna merah.
Pada periode ini, SINAR INTAN merupakan klub bola basket tempat berkumpulnya talenta-talenta hebat pemain bola basket yang mewakili kabupaten Garut di berbagai event regional di Jawa Barat, jika sekarang disebut POPDA dan POPWIL.
Pada tahun 1985, pada kejuaraan bola basket di lapangan Kodim nama sinar intan sudah tidak lagi sebagai sebuah klub yang selalu menjadi juara. Beberapa Pemain yang merupakan ikon Sinar Intan bergabung dengan klub-klub baru yang bermunculan. Pada saat itu yang kuingat adalah moment dapat berlatih dan kadang diajak try out bersama koko-koko Sinar Intan, seperti Heng F*k, Aciong, Cin Ho, Tata, Acan, Cu Liong dkk ke lapangan bola basket Dadaha di Tasikmalaya. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMA.
Lama tak terlibat dalam kegiatan bolabasket di kabupaten Garut, karena harus bertugas di Singkawang. Tetapi kegemaranku bermain bola basket tetap terpelihara.
Saat itu tahun 1990-2005, kembali ke Garut aku mengajar di SMA 3 Tarogong, Juli 2005 kembali bertemu dg komunitas bola basket, saat itulah bertemu dg talenta muda bernama, Martin Seahan, yg melatih team SMP Daya Susila, SMP Yos Sudarso dan SMA 1 TAROGONG, sekarang namanya SMAN 1 GARUT, dan dikemudian hari sempat melatih juga di sekolahku, TITAR ( TIga TARogong ).
Sebagai mantan pemain bola basket "Natural" karena tidak pernah merasakan polesan tangan seorang pelatih, pertemuanku dengan martin merupakan sesuatu yg sangat surprise, karena harus menyesuaikan dengan skill juga peraturan yang baru. Ternyata betapa rules of the games dari bola basket sangat pesat berkembang, bagaimana p**a teknik dasar bermain bola basket menjadi kunci kepiawaian seorang atlet. Martin sepintas dapat dikategorikan sebagai coach yg menggunakan pendekatan humanis dalam melatih, tidak menggunakan pendekatan power untuk memaksimalkan kapasitas seorang atlet menuju tahapan yg lebih tinggi lagi. Dalam setiap kesempatan anak anak TITAR berlatih bersama Ko Martin begitu sapaan akrab anak-anak,
Pada waktu itu ternyata oleh nama team nya masih Sinar Intan, tetapi mengikuti jaman, ditambah kata DIAMONDS, yg berasal dari julukan Garut, Kota Intan. Juga bisa berarti bahwa anak-anak yang berlatih, suatu waktu bisa menjadi pemain basket yang handal, seperti kilauan berlian, yang telah melewati proses tempaan yang lama.
Sewaktu-waktu, aku senantiasa berupaya hadir bahkan sesekali turun dan ikut bermain. Dari lapangan bola basket di sekolahku hingga berlatih di lapangan bola basket kompleks persekolahan SD Yos Sudarso bersama Pastor Didi, yang sangat menggemari olah raga bola bakset, juga sebagian pemain Sinar Intan yang dulu menjadi idolaku. Kadang teringat memori sewaktu dahulu SD, aku pernah ngaprak bermain bola basket di sini lewat melalui samping kompleks yang kebetulan dindingnya jebol.
Sayang waktu itu, kesempatan bertemu dengan Martin terbilang singkat, karena kesibukannya, maka di suatu waktu aku mendapatkan sms bahwa dia tdk dapat melatih kembali SMA Titar, "Terima kasih atas kerja kerasnya dalam meningkatkan taraf kapasitas skill dan permainan atlet bola basket SMA Titar, mudah mudahan dapat bekerja sama kembali di lain waktu dan kesempatan" begitu kira kira jawabanku atas sms dari Martin.
Dan pada tahun 2014, ternyata kami mendapat kesempatan untuk bekerja sama lagi, didalam badan olahraga bola basket di kabupaten Garut (PERBASI GARUT), dan kami mempunyai visi dan misi yang sama, yaitu untuk memajukan olahraga bola basket khususnya di kota Garut, dan mempunyai cita-cita untuk mencetak pemain yang bisa memperkuat negara Indonesia di masa depan.
Demikian sedikit kisah saya mengenai Sinar Intan Basketball Team, juga tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya. Semoga diberikan kelanggengan dan kesuksesan, juga bisa bertahan mengarungi masa depan.