06/06/2024
Bu Ceceh 70 Tahun, warga kaki gunung Manglayang kampung Cikored, diusianya yang sudah sangat senja beliau masih harus menggerakkan tubuh rentanya bekerja di kebun yang jarak dari rumah nya kiloan meter dengan medan jalan yang berbukit-bukit untuk sekedar bisa membeli makan di hari itu.
Walaupun selelah apapun bekerja tapi semangat belajar mengajinya luar biasa, hanya usia senja membuat pandangan matanya semakin hari semakin kabur sehingga cukup kesulitan ketika membaca Al-Qur'an, bacaannya jadi terbata-bata.
Ketika tim Gradasi memberinya Kacamata baca, al-Qur'an dan mukena, Bu Ceceh langsung tak kuasa menahan haru, dengan suara yang tersekat di tenggorokan Beliau berkata :
"Mhh hatur nuhun cep ayeuna emak tiasa jelas deui ngaos Al-Qur'an, emak tos lami hoyong gaduh Al-Qur'an meh tiasa ngaos di bumi, tapi da kumaha teu acan kapeser. "
(Makasih nak sekarang emak bisa ngaji Al-Qur'an lagi dengan jelas, emak udah lama pengen punya Al-Qur'an biar bisa ngaji di rumah, tapi bagaimana belum kebeli.)
Mungkin bagi kita Kitab Al-Qur'an bukan barang mewah dan di rumah bahkan punya lebih dari 1 kitab al-Qur'an, tapi bagi mereka warga di pelosok desa, yang pekerjaannya hanya sebagai buruh Tani al-Qur'an adalah barang mewah, sebab selain akses mereka jauh ke mana-mana penghasilan mereka pun kadang tak cukup untuk makan.
Terimakasih orang-orang baik dan para relawan yang sudah ikut membantu para petani jompo dan du'afa di pelosok desa mewujudkan mimpi sederhana mereka ingin bisa membaca Al-Qur'an setiap hari. Sebab bagi mereka mengaji adalah hiburan yang bisa mereka nikmati.