15/12/2023
HAMKA, PELACUR DAN CAPRES
Jadi gini ada cerita tentang Buya Hamka : Suatu hari seorang lelaki menemui Buya, kepadanya ia bercerita dengan gemas menggebu “Subhanallah Buya,” ujarnya. “Sungguh saya tidak menyangka. Ternyata di Makkah itu ada pelacur, Buya. Kok bisa ya Buya? Ih. Ngeri.”
“O ya?” sahut Buya Hamka. “Saya baru saja dari Los Angeles dan New York itu. Dan masyaallah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”
“Ah, mana mungkin Buya! Di Makkah saja ada kok. Pasti di Amerika jauh lebih banyak lagi!”
“Kita memang hanya akan dipertemukan,” tukas Buya dengan senyum teduhnya, “Dengan apa-apa yang kita cari.”Meski pergi ke Makkah, tapi jika yang diburu oleh hati kita memang adalah hal-hal buruk, syaithan dari golongan jin maupun manusia takkan kekurangan cara untuk membantu kita mendapatkannya. Dan meski safarnya ke Los Angeles dan New York, jika yang dicarinya adalah kebajikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi."
Seperti halnya Kisah Buya Hamka di atas begitupun halnya dengan Capres dan para pendukung atau rival politiknya. Para pendukung hanya ingin mencari kelebihan dan kebaikannya hingga menutup mata serta telinga dari kekurangan dan keburukannya, sebaliknya dari kubu pendukung lawan hanya ingin mencari kelemahan dan kekurangannya hingga menutup mata serta telinga dari kelebihan dan kebaikannya.
Ingat apa kata Kanjeng Nabi : Cintailah Kekasihmu sekedarnya saja karena siapa tahu orang yang paling kamu cintai akan menjadi yang paling kamu benci suatu saat nanti, begitupun bencilah musuhmu sekedarnya karena siapa tau orang yang paling kamu benci akan menjadi orang yang paling kamu cintai suatu saat nanti. Lihatlah para pendukung capres, yang periode kemarin menjadi bucin capresnya hingga terlihat seperti malaikat tanpa cela sekarang seolah menganggapnya musuh bebuyutan hingga terlihat seperti iblis yang penuh cela, pun sebaliknya.
Cerita Kang Sadar menanggapi debat kusir penghuni warung kopi usai nonton debat capres.