12/01/2021
Aku bangga menjadi Ibu yang perfeksionis
Penulis: Osvita Marina Hutapea
Bila aku menggunakan "kacamata"ku sebagai manusia yang terbatas, maka dengan cepat kutemukan berbagai kekuranganku sebagai seorang ibu dan istri.
Lalu kulihat ibu-ibu lainnya, yang begitu rajin dan tekun mendampingi anak-anak mereka hingga menjadi seorang dewasa yang berhasil. Aku ingin seperti itu! Tetapi kemudian aku menyadari, ada banyak keterbatasanku yang membuatku ragu untuk melangkah.
Aku terus memandang kekuranganku sebagai kendala yang membuatku merasa tidak percaya diri dalam menjalani peranku sebagai seorang ibu.
Lalu berjalannya waktu, tanpa kusadari, ternyata aku telah memupuk cara pandangku menjadi seorang yang perfeksionis, baik kepada diri sendiri, anak-anakku, suami dan orang lain. Aku semakin lihai menemukan banyak kekurangan dalam diri mereka, seperti kelihaianku menemukan segala kekurangan dalam diriku.
Kejelianku menemukan kekurangan dalam diri siapapun, seakan menjadi keunggulanku. Setiap kekurangan yang kutemukan, dapat menjadi penyemangatku untuk mengoreksi diri ataupun orang lain. Dengan dalih, agar aku maupun orang lain dapat menjadi pribadi yang lebih baik.
Urusan kekuatan tidak usah terlalu dipikirkan. Orang tidak perlu dikasih tahu kekuatan dalam dirinya, sebab itu sudah ada dengan sendirinya. Yang perlu diperbaiki adalah segala kelemahannya, karena orang s**a malas memperbaiki diri. Bagiku, kebiasaan buruk lebih sulit dilatih untuk menjadi baik. Dan kebiasaan baik lebih lemah untuk bertahan, sehingga mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk.
Berbagai alasan itu adalah pembenaranku atas cara pandang perfeksionis yang aku miliki. Aku menuntut kesempurnaan dalam diri sendiri yang sesungguhnya tidak akan pernah sempurna. Sebab aku manusia ciptaan Tuhan, yang seakan sudah digariskan dalam batasan ketidaksempurnaan.
Begitu lelahnya cara pandang seperti aku ini. Kegelisahan muncul ketika melihat orang lain dapat hidup lebih tenang dan tertawa lepas dalam kesehariannya. Sepertinya ada yang salah dalam diriku, sebab aku justru mulai merasa sulit menjadi bahagia. Aku kembali mengoreksi diri begitu dalam. Aku menjadi begitu serius akan apa yang aku lihat, dengar dan rasakan.
Akupun menjadi begitu mudah cemas dan meragukan banyak hal akan kemampuanku. Aku semakin diliputi ketidakpercayaan diri untuk menjadi kuat. Terlebih sudah terlalu lama aku tidak mencari kekuatan apa yang sesungguhnya aku miliki dari sejak dulu. Terlalu lama aku berfokus pada apa yang lemah, negatif dan kurang dalam diri manusia. Aku lupa menghargai setiap kekuatan dan kelebihan yang dimiliki setiap orang. Aku lupa memberi apresiasi yang tulus, seperti halnya aku menganggap apresiasi yang wajar juga kuperlukan untuk menyehatkan jiwaku.
Sepertinya aku perlu untuk lebih rileks. Melatih tidak menjadi reaktif untuk cepat memberi koreksi pada orang lain. Perlu menerima diriku dan diri orang lain dengan lebih apa adanya. Perlu membuka pikiran dan hati untuk menerima bahwa dari sejak lahir hingga mati, sesungguhnya manusia hidup dalam proses belajar. Maka wajar bila terkadang kita tidak dalam kondisi yang selalu baik (it's okay, not to be okay). Kita hanya perlu menjadi manusia biasa, agar juga dapat memanusiakan manusia lain dengan benar, seperti bagaimana Tuhan memandang manusia.
Bandung, 13 Januari 2021
(Dari kumpulan pengalaman beberapa Ibu dipojok ngobrol, pada kelompok Pendukung Orangtua Semarai Daya Psikologi)