03/06/2026
Di twitter, gw nemu akun fans sendal yang ngomong kalo taktik defensive timnya layak disebut masterclass. Emang iya? Ya kagak sih wkwkwkw. Ga heran fansnya dimusuhi satu dunia, orang tipikal kek gitu semua.
Oke gw mau bahas. Sebenernya hak sebuah tim mau dia main pragmatis atau defensive, kita ambil contoh zaman dulu ada Italia yang sukses dengan catenaccio, parkis busnya Mou, dan kita ambil sampel haramball tim tim degradasi atau papan bawah PL yang kadang nyusahin Mpok.
Nih yang fans sendal, catet. Catenaccio dan parkir bus nya Mou itu punya "identitas". Catenaccio basically dikenal dengan man marking ketat, defensive compact, sama counter attack cepat. Ini tuh dah filosofi dan sistem tim di Italia, meski sekarang dah karatan. Kalo Mou itu versi upgradenya simpelnya. Low block, transisi bertahan dan menyerang cepat, quick counter, dan s**a provoke. Intinya orang respect sama tamtik itu karna jelas identitasnya.
Nah kembali ke taktik haram ball tim lu. Itu taktik seharam haramnya taktik dan mengotori sepakbola. Punya identitas kagak, dibantu PGMOL, main tarkam, andelin set piece rusuh, dan yang paling penting "TIM LU GA BERANI AMBIL RESIKO". Contohnya kemaren di Final, trisula PSG dah keluar malah maksa sampe adu penalti, eh ujung ujungnya kalah dan ngebadut. Padahal udah latihan penalti, tapi masih kalah π€£. Apakah masterclass unggul 1-0 melalui proses gol yang aturan handball terus parkir bus dan ga niat kill the game? Itumah masterharamball bukan masterclass.