28/12/2013
Pilih Tulisan “Allah” atau “Alloh”…
menurut Anda mana yang benar, tulisan “Allah” atau
“Alloh”…?
Sebagian Muslim tidak mau menulis “Allah”, sebab
katanya seperti tulisan yang dipakai oleh orang
Nahrani. Maka mereka menulis “Alloh” (dengan memakai
huruf “o”) untuk membedakan dari Nashrani.
Tapi disini ada sedikit catatan kritis:
- Orang Nashrani membaca kata “Allah” dengan ucapan: A – l – a – h. (Disini tidak terdengar bunyi “o”
dan huruf “l” tidak dibaca double).
- Dalam ejaan Arab, tidak dikenal huruf vokal “o”. Yang ada ialah bunyi “a” atau fat-hah. Asma Allah
disana ditulis “Allah”, meskipun membacanya:
Alloh.
- Dalam Injil berbahasa Arab pun, Allah ditulis dengan huruf yang sama persis dengan kita, yaitu:
“Allah”. Kaum Nashrani Arab membacanya juga:
Alloh (seperti kita).
- Menurut EYD di Indonesia, tulisan yang disepakati memang “Allah”.
- Bahkan, dalam literasi internasional, seperti bahasa Inggris, juga tertulis “Allah”, bukan “Alloh”.
Singkat kata, penulisan “Allah” itu sudah tepat, tidak
perlu diubah. Tetapi pengucapannya tetap “Alloh”,
bukan “Al-lah”, apalagi “A-lah”. Kalau kita ganti menjadi tertulis “Alloh”, seakan kita
mengalah terhadap cara penulisan orang Nashrani.
Padahal kenyataannya, mereka meniru kita, bukan kita
meniru mereka. Kalau kita mengalah, lalu menulis
“Alloh”, nanti orang Nashrani akan merasa menang dan
mampu mendesak kita ke pinggir.
Padahal, Ummat Islam adalah pemegang “hak legal” atas segala sesuatu yang
berhubungan dengan Allah Ta’ala. Islam adalah agama yang diridhai Allah Ta’ala.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah
adalah Al Islam.” (Ali Imran: 19).
Konsekuensinya,
segala sesuatu yang berhubungan dengan syiar Asma
Allah, Ummat Islam yang berhak memangkunya. Bukan
ummat lain. Di Indonesia sendiri, ada kenyataan negatif yang kita
dapati sejak jaman dahulu. Kaum Nashrani sejak lama
memakai istilah-istilah yang berbau Islam, misalnya:
Jemaat, kalam kudus, roh kudus, al kitab, kotbah, Isa al
masih, dsb. Padahal, dalam kitab Bible (baca: terjemahan
Injil ke dalam bahasa Inggris dengan berbagai perubahan di dalamnya) tidak ada istilah-istilah itu. Mengapa orang Nashrani di Indonesia memakai istilah-
istilah Al Qur’an?
Alasannya sebagai berikut:
(1) Mereka ingin lebih mudah diterima oleh Ummat Islam Indonesia. Dengan memakai istilah-istilah yang
tidak jauh berbeda, mereka berharap bisa lebih
mudah masuk dalam kultur Ummat Islam di
Indonesia.
(2) Mereka ingin meyakinkan kepada orang-orang Muslim yang kemudian masuk ke Nashrani,
bahwa antara Islam dan Nashrani tidak terlalu
banyak perbedaan. Buktinya –kata mereka-istilah yang dipakai mirip.
(3) Ketika kaum Nashrani gencar memakai istilah-istilah itu di berbagai kesempatan, mereka berharap
istilah tersebut menjadi ciri khas mereka. Jika
Ummat Islam kemudian memakainya, kaum
Nashrani berharap Ummat Islam merasa asing
dengan istilah itu. Contoh paling nyata adalah tulisan “Allah”. Karena
begitu gencarnya Nashrani memakai tulisan tersebut,
meskipun mereka membacanya “A-lah”, Ummat Islam
merasa tidak nyaman memakainya. Padahal sejatinya,
kita yang awalnya memiliki istilah itu dan berhak
sepenuhnya menggunakannya. Jika diumpamakan sebuah produk, kita yang memegang copy rights-nya.
Orang
lain kalau ingin memakai, dia harus permisi dulu, atau
membayar royalty-nya. Dalam Bible sendiri, istilah-istilah yang dipakai sangat
berbeda, misalnya God, Father, Son, Angel, Marie, Jesus,
dan sebagainya. Kalau kita meniru istilah-istilah itu,
jelas keliru. Tetapi nyatanya, kita memakai istilah yang
berasal dari Al Qur’an, sehingga tidak bisa disebut
“meniru Nashrani”. Masalah ini kelihatan sederhana, tetapi disini ada
semantic war.
Pemakaian istilah-istilah Qur’ani dalam
agama Nashrani itu bukan perkara sepele. Biasanya hal
ini dirumuskan oleh kaum orientalis yang tingkat
keseriusan berpikirnya tinggi. Untuk rata-rata orang
Nashrani Indonesia, mereka tidak memiliki kejelian setinggi itu. Saya mencurigai Snouck Hurgronje sebagai
pelopor pemakaian kata-kata Qur’ani dalam peristilahan
agama Nashrani di Indonesia. Satu saran praktis yang bisa saya sampaikan. Kalau
Anda menulis kata “Allah” sebaiknya ditambah dengan
kata-kata lain yang diambil dari Asma’ul Husna. Hal
itu akan menjadi pembeda tegas antara tulisan “Allah”
menurut versi Islam, dan tulisan serupa menurut versi
Nashrani.
Istilah-istilah yang bisa dipakai, antara lain: Subhanahu Wa Ta’ala, Tabaraka Wa Ta’ala, Jalla Jalla
Luhu, Jalla Sya’nuhu, ‘Azza Wa Jalla, Jalla Wa ‘Ala,
dan sebagainya. Atau berupa Asma’ul Husna tunggal
seperti: Al ‘Azhim, Al ‘Aziz, Al Ghafur, Ar Rahmaan,
Al Karim, dan sebagainya.
Orang Nashrani tidak akan
memakai kata-kata Asma’ul Husna di atas, sebab ia sangat berlawanan dengan akidah mereka.
Semoga menjadi wawasan yang bermanfaat! Amin.
sumber: "Khazanah"