06/07/2015
SALAH KAPRAH DALAM OUTBOUND
Pernahkah anda menjadi peserta outbound? Atau mungkin andalah yang mengadakan outbound atau anda yang menjadi instruktur atau fasilitatornya? Bagi anda yg tidak familiar dengan kata-kata outbound mungkin lebih paham jika istilahnya gathering atau flying fox yg bisa anda jumpai di hampir semua resort atau tempat wisata.
Tapi tahukah anda ada beberapa hal tentang outbound yang selama ini ternyata salah kaprah. Apa sajakah itu??
1. Dari namanya yaitu "Outbound" atau outbond atau otbon adalah sebuah plesetan dari sebuah merk dagang franchise sekolah pembelajaran dari pengalaman yg berasal dari amerika yang bernama "Outward Bound School". Karena lebih mudah menyebut outbound ketimbang outward bound maka jadilah semua kegiatan di alam terbuka disebut outbound.
2. Sebenarnya jenis kegiatan yang disebut outbound itu adalah metode pembelajaran yg disebut Experiential Education atau Experiential Learning. Dan di luar negeri bidang Experiential Learning atau Experiential Education adalah jurusan kuliah tersendiri dari tingkat sarjana sampai doktor.
3. Semua kegiatan di alam terbuka sering disebut outbound padahal masing-masing memiliki nama dan kekhasan tersendiri misal climbing, caving, diving, camping, rafting, orienteering dll.
4. Banyak orang menganggap kegiatan outbound adalah kegiatan yg mudah yang penting pernah lihat atau pernah main pasti bisa mengadakan sendiri. Inilah yang akhirnya membuat kualitas dan standar keselamatan peserta dalam kegiatan outbound semakin lama semakin menurun.
5. Dalam kegiatan outbound yg penting peserta bisa have fun ..haha ..hihi.. berarti acara sukses. Jika anda punya pemikiran seperti itu maka segeralah bertaubat karena berarti anda harus banyak-banyak belajar lagi. Parameter kesuksesan acara outbound tergantung jenis program dan tujuan program. Jika memang program rekreasi salah satu parameter kesuksesannya adalah peserta bahagia,senang dan merasa refresh. Tapi jika itu program training dan development berarti yang harus dikembangkan adalah pola pikir dan perilaku peserta, nah beda lagi jika itu program terapi berarti anda harus bisa meluruskan kembali yang bengkok.
6. Kegiatan outbound untuk tujuan training atau development bisa dilaksanakan dengan durasi 1 atau setengah hari. Ini adalah hil yang mustahal karena untuk mengembangkan atau mengubah think ataupun behaviour butuh proses dan waktu yang lebih panjang serta ada step step yang harus dilalui untuk mencapai tujuan program. Dalam program dengan durasi setengah atau sehari sangat sulit untuk mencapai tujuan tersebut, kalaupun diadakan hasilnya tidak akan maksimal. Sebagai pembanding, program outbound untuk training atau development di luar amerika dan eropa durasinya lebih dari 10 hari.
7. "Ah cuma outbound sehari kok" atau "ah cuma sesama anggota organisasi kok" jadi "gak butuh tim medis". Ini yang sering jadi pemahaman teman-teman jika mengadakan kegiatan outbound atau aktifitas lain di alam terbuka misal camping dll. Pertanyaannya jika tiba-tiba ada salah satu peserta yang penyakitnya kambuh saat acara atau tiba-tiba ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri sementara lokasi acara jauh dari rumah sakit, apa yang akan kita lakukan?sementar mereka (korban) butuh pertolongan pertama yg jika terlambat sedikit saja mungkin nyawanya tidak akan tertolong. Nah jika sampai ada yang meninggal siapa yg tanggung jawab?
8. Karena keterbatasan tempat akhirnya milih lokasi kegiatan sekenanya saja tapi tidak memperhatikan keselamatan peserta. Jarang sekali penyelenggara outbound yang memperhatikan apakah kontur tanahnya datar atau tidak apakah aman buat peserta atau tidak,apakah ada lubang atau benda-benda berbahaya di tanah atau tidak,apakah ada ranting atau batang pohon yang bakal jatuh dan bisa menimpa peserta atau tidak dll.
Bersambung...
Kesimpulan sementaranya adalah jika anda hendak menyelenggarakan kegiatan outbound atau yg lebih tepat Experiential Learning pilihlah lembaga yang benar-benar memahami hal-hal tersebut di atas demi kenyamanan dan keselamatan anda.
Salam EL.