28/07/2013
Hari ini kita coba bahas mengenai kuas ya... Kan udah mau dekat lebaran, pastinya banyak yang pakai kuas baik untuk buat kue maupun untuk nge cat rumah dalam rangka menyambut lebaran.
Setidaknya ada 3 kemungkinan asal bahan kuas. Kemungkinan pertama adalah dari bulu binatang, kedua dari plastik polyester, ketiga dari bahan nabati. Untuk bahan terakhir, ini jarang ditemukan di pasaran.
Bahan yang ternyata paling sering dipakai adalah bulu babi. Beberapa kalangan meragukan informasi ini dengan pertanyaan: “Masak bulu babi koq panjang…?” Nah, perlu kita ingatkan bahwa bulu babi di negara-negara tropis (termasuk Indonesia) itu pendek, namun bulu hewan (termasuk babi) di daerah 4 musim (iklim temperate/sub tropis) panjang-panjang. Itu dipakai sebagai jaket hewan di musim dingin (salju).
Data yang kita peroleh di pasaran menunjukkan bahwa umumnya asal kuas adalah dari Negara Cina dan Australia (Southern Australia). Kita tahu persis bah-wa daratan Cina dan Southern Australia memiliki 4 musim, termasuk musim salju. Data yang lebih jelas kita peroleh dari Majalah Jurnal Halal LPPOM-MUI, N0. 41/VII/2002. Disebutkan bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Juni 2001, Indonesia mengimpor boar bristle dan pig/boar hair sejumlah 282.983 kg atau senilai 1.713.309 dolar AS. Mari kita bayangkan, seberapa banyak bulu babi 282.983 kg itu?
Maka, marilah kita lebih berhati-hati. Jika bulu kuas itu berasal dari bulu babi, maka makanan yang kita santap menjadi terkena najis, dan najis babi tergolong najis berat (najis mugholadzoh). Jangankan makanan, bagian tubuh kita saja jika tersentuh najis berat harus dicuci 7 kali dengan air, salah satunya dengan tanah.
Ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk membedakan kuas berbulu babi dengan kuas plastik :
1. Perhatikan tulisan Bristle (Pure Bristle, China Bristle, 100% Pure China Bristle, dll) pada gagang kuas. kalau ada bristle, hindari karena itu dari babi..
2. Perhatikan bau asapnya saat dibakar. Kuas berbulu plastik pasti berbau plastik saat terbakar. Namun kuas bulu binatang pasti berbau mirip dengan rambut (atau kuku) yang terbakar.
3. Perhatikan warna asapnya saat dibakar. Jika dibakar, kuas berbulu binatang pasti mengeluarkan asap berwarna putih, karena ia berasal dari bahan organik.
4. Perhatikan warna bulunya. Karena satu adonan (satu cetakan warna saat dibuat), maka warna kuas bulu plastik pasti seragam. Akan tetapi, karena berasal dari tubuh makhluk hidup, maka kuas berbulu binatang pasti tidak seragam warnanya.
5. Perhatikan panjang bulunya. Pan-jang kuas bulu binatang pasti tidak se-ragam. Sebaliknya, kuas buatan pabrik pasti ujungnya sama panjang (karena dipotong rata).
Sumber :
http://www.kibar-uk.org/2013/02/28/pencemaran-daging-haram-di-yogyakarta-bagian-2/
1. Daging hewan halal yang tidak disem-belih secara syar’i (tidak menurut Syari’at Islam). Syari’at Islam menuntunkan bahwa untuk memperoleh daging yang halal, hewan harus disembelih menurut syari’at, yaitu : Disembelih dengan menyebut Asma Allah (jagal membaca Basmallah). Hal ini mengacu kepa...