28/07/2026
Halo teman-teman, apa kabar? Hari ini Ariana ingin ajak kalian kenalin Pedang Terbesar dan Terberat Sejagat Zaman Kuno Tiongkok
Di ruang pameran Museum Yanzhou, terdapat sebilah pedang besi raksasa yang sangat mencolok. Panjangnya 7,5 meter, beratnya 1.539,8 kilogram, dan untuk memamerkannya diperlukan empat tiang kayu besar yang berjajar untuk menopangnya dari ujung atas hingga ujung bawah. Berdasarkan pengukuran dan identifikasi para ahli, pedang ini tidak ada tandingannya di antara pedang-pedang kuno yang pernah ditemukan di Tiongkok, baik dari segi berat maupun panjang. Karena itulah ia dijuluki "Pedang Nomor Satu Sejagat Zaman Kuno Tiongkok". Pedang ini telah ditetapkan sebagai peninggalan budaya nasional tingkat satu dan menjadi koleksi andalan Museum Yanzhou.
Pedang ini dibuat dengan teknik cetakan dari besi tuang. Bilahnya berbentuk pipih belah ketupat, ujungnya runcing membulat, dan gagangnya berbentuk bulat. Pada bagian pangkal pedang terdapat ukiran aksara: "Dibuat pada bulan Februari tahun Kangxi Dingyou oleh Jin Yifeng, Kepala Prefektur Yanzhou". Prasasti ini memberitahu kita bahwa pedang tersebut dicetak pada bulan Februari tahun Kangxi ke-56, yaitu tahun 1717 Masehi, atas prakarsa Jin Yifeng, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Prefektur Yanzhou.
Mengapa pedang penjinak banjir ini tergeletak di dasar Sungai Si? Kisahnya bermula dari sebuah sungai kuno.
Sungai Si mengalir mengitari sisi timur dan selatan Kota Tua Yanzhou. Di bagian selatan kota, sebuah jembatan sepanjang lebih dari 300 meter membentang di atas sungai, menjadi jalur penghubung utama antara tepi utara dan selatan. Setiap musim penghujan tiba, air sungai meluap dengan deras, menghancurkan desa-desa dan merendam ladang-ladang pertanian.
Pada musim panas tahun 1712, banjir besar melanda dan merobohkan tiga lengkungan di bagian tengah Jembatan Selatan. Jin Yifeng, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Prefektur Yanzhou, menyumbangkan gajinya sendiri untuk menggalang tenaga guna memperbaiki dan memperkuat jembatan tersebut, sebuah proses yang memakan waktu lebih dari satu tahun. Setelah jembatan selesai diperbaiki, pada tahun 1717, ia kembali memprakarsai pembuatan pedang besi raksasa ini. Pedang tersebut kemudian dipasang secara vertikal di luar lengkungan tengah jembatan, sebagai sarana untuk "memotong ular naga" dan menaklukkan banjir.
Orang-orang zaman dahulu percaya bahwa Jiao adalah naga air penghasil banjir. Jiao termasuk unsur kayu, yang dalam kepercayaan tradisional Tiongkok ditaklukkan oleh unsur logam (besi). Karena itu, mereka menuang pedang besi yang berat untuk ditempatkan di dalam air, berharap kekuatannya dapat menekan naga air dan mengendalikan bencana banjir.
Sedangkan, pada bagian pelindung pedang, terukir wajah monster melotot dengan alis terangkat bernama "Yazi". Konon Yazi adalah putra kedua dari sembilan putra Naga. Karena sifatnya yang ganas, s**a bertarung dan haus kekerasan, ia sering diukir pada senjata untuk menambah kekuatan magisnya. Maka dalam harapan baik orang kuno, diharapkan Yazi bisa berhasil melawan Jiao yang mengakibatkan banjir parah setempat.
Pedang raksasa ini adalah simbol perjuangan spiritual manusia melawan keganasan alam.
Kini, pedang penjinak banjir ini dipamerkan dengan tenang di ruang pameran "Pedang Nomor Satu di Dunia" Museum Yanzhou, setiap hari menyambut pengunjung dari berbagai penjuru. Di belakangnya mengalir Sungai Si, yang dulu pernah dijaganya. Meskipun bilahnya kini telah berkarat, kemegahannya yang melintasi tiga abad tetap terasa. Pedang ini bukan hanya sebuah peninggalan budaya yang langka, tetapi juga saksi bisu perjuangan manusia melawan bencana alam dengan kebijaksanaan dan keyakinan.