12/06/2020
Daun Melayang_sebuah utas demo beladiri PD oleh Mas Joko Widodo.
selalu menarik dan menyenangkan buat saya jika ada kesempatan merekam gerak silat baik demo maupun latihan dari para pesilat PD, contoh yang sering saya rekam adalah – Mas Joko Widodo.
sering sesudah menyimak demo gerak lantas sambung dengan diskusi praktek teknik, saya tahu, beliau Mas Joko Widodo selalu ringan dalam memberikan contoh praktek dari sebuah diskusi soal teknik dr lontaran pertanyaan adik-adik PDnya.
satu dari sekian arahan beliau soal teknik PD dan selalu mengingatkan kita garis besar karakter sebagai pesilat PD – Sikap.
“betulkan sikapmu, mau mliwis, naga, harimau, satria atau pendeta terserah, pilih sesuai dirimu tapi bener”. Sikap2 di PD bukan soal gaya samata, cara kamu bersikap adalah awalan dari semuanya, hindaran, serangan ataupun tolakan yang tidak terpaku dalam 1 kegunaan saja, sambungnya.
seringkali saya sendiri belum bisa mencerna begitu saja diskusi tersebut, perlu waktu dan praktek beberapa kali. Seringkali kehadiran Mas Joko Widodo dalam latihan reguler di PD UPN untuk mendorong adik2 yg berlatih agar tidak terobsesi sikap sebagai sebuah gaya2an, tapi membuka pikiran kami semua yg berlatih – bahwasanya didalam sikap-sikap PD tidak mengenal pintu masuk atau kerahasiaan gerak dan tidak mengenal sikap atau kuda-kuda terbaik. Yang terpenting dalam bersikap adalah mengamati keutamaanya dengan pikiran, itulah esensi dari sikap dalam beladiri di PD – perisai diri.
Soal mengamati ini diulas dalam buku Musashi “The Lone Samurai” karangan William Scott Wilson – penulis biografi Musashi). Musashi adalah seorang samurai yang hidup antara tahun 1584 – 1645 di Jepang, dia telah mengalami dan memenangkan 60 kali duel dan terlibat dalam 6 kali pertempuran dalam perang besar antara umur tiga belas sampai dua puluh sembilan tahun. Selain maestro pedang Musashi juga seorang seniman serba bisa (paling menonjol sebagai pelukis terkemuka). Bagi banyak orang Jepang Jalan Musashi adalah teladan kisah manusia sejati atau pencarian manusia akan jalan yang benar dan ganjaran yang akhirnya diperoleh dari jalan tersebut.
dalam masa penyepian, Musashi menulis sebuah karya “buku Lima Cincin/Lima Unsur” sebuah buku yang berisikan strategi perang dan metode duel serta falsafah jalan pedang. Soal pengamatan/observasi Musashi menuliskan demikian :
“Dalam menggunakan mata, lakukanlah dengan cara luas dan menyeluruh. Ada pengamatan dan ada penglihatan. Mata pengamatan itu kuat. Mata penglihatan itu lemah. Melihat yang jauh sebagai dekat, dan yang dekat sebagai jauh, adalah sangat mendasar dari seni bela diri. Mengenali pedang lawanmu, tetapi tanpa melihatnya sama sekali, adalah sangat penting dalam seni bela diri.
Dari pengalaman bertanding Mas Joko Widodo – dengan gaya bertarung yang khas PD dilakukan bukan semata-mata sebagai gaya2an, meski para penonton pertandingan s**a dan sepakat gaya PD Mas Joko ini sangat menghibur diatas matras duel, Bagi beliau momen bersikap adalah waktu untuk mengatur nafas, strategi sekaligus pengamatan/observasi kepada lawan – menyerang dengan tepat, efektif dan berupaya tidak mencederai lawan - sebisanya.
Pak Dirdjo sudah meninggalkan pola dan metode latihan beladiri silat yang luar biasa, tinggal kita mengikuti pola dan metode tersebut – nyonto saja, hapalkan, bersikaplah dengan benar dan sungguh-sungguh, latihlah selalu serang hindar dan solospel hingga nantinya akan otomatis gerak menjadi perisai dirimu, begitulah Mas Joko Widodo menyampaikan uraian sambil menutup satu diskusi waktu lalu.
Selamat berlatih kembali dimasa adaptasi kebiasaan baru ini, semoga bermanfaat, tetap semangat dan
Salam Bunga Sepasang.
*narasi dikutip dari berbagai sumber. video koleksi pribadi.
Rekaman lama kisaran Juni 2009 lampau, demo teknik PD dihadapan peserta Kejuaraan Nasional Pencak Silat Antar Mahasiswa di Auditorium Kampus UPN Jogja. selai...