19/06/2020
🇮🇩PERTEMPURAN SITAKEPYAK 🇮🇩
ꦥꦼꦤ꧀ꦕꦏ꧀ꦮꦶꦫꦲꦲꦺꦁꦮꦫꦶꦱꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦩ꧀ꦧꦼꦂꦚꦮꦱꦏꦶꦁꦥꦸꦫꦩꦁꦏꦸꦤꦼꦒꦫꦤ꧀
Wira Aheng heritage of Sambernyawa from Mangkunegaran Palace
Pertempuran Sitakepyak terjadi di selatan Rembang pada hari Senin Pahing 17 Sura tahun Wawu 1681 J/1756 M yang merupakan peperangan kedua terbesar bagi Pangeran Sambernyawa semenjak memutuskan berpisah dengan ayah mertuanya Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I)
ꦏꦁꦗꦼꦁꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ꦄꦢꦶꦥꦠꦾꦄꦂꦪꦄꦩꦼꦁꦏꦸꦤꦒꦺꦴꦫꦺꦴ꧈ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦤꦺꦏꦢ꧀ꦏꦼꦂꦱꦤꦶꦥꦸꦤ꧈ꦥꦶꦱꦃꦭꦤ꧀ꦫꦩꦱꦁꦤꦠ꧉
Kangjeng Pangeran Adipatya Arya Amengkunagoro, sampun nekad kersanipun, pisah lan rama sang nata
(Babad Lelampahan. Asmarandana,50:248)
Perang ini adalah perang melawan dua detachement Kumpeni Belanda pimpinan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan kota Rembang tepatnya di Hutan Sitakepyak.
Pangeran Sambernyawa yang ketika itu berumur 30 tahun.
ꦱꦮꦧ꧀ꦲꦏꦸꦮꦸꦱ꧀ꦲꦤꦺꦏꦢ꧀ꦠꦸꦂꦲꦢꦼꦫꦃꦧꦠꦸꦂꦏꦧꦺꦃꦱꦸꦤ꧀ꦠꦫꦶꦪꦺꦤ꧀ꦠꦿꦺꦱ꧀ꦤꦩꦫꦶꦁꦮꦁ꧈ꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦠꦼꦝꦩꦿꦶꦁꦄꦭ꧀ꦭꦃꦧꦉꦔꦩꦠꦶꦭꦤ꧀ꦩꦩꦶ꧈ꦱꦲꦸꦫꦺꦏꦶꦏꦶꦭ꧈ꦱꦢꦪꦏꦁꦥꦿꦗꦸꦫꦶꦠ꧀
" Sawab aku wus anekad tur aderah, batur kabeh suntari yen tresna maring wang, ingsun tedha mring Allah, barenga mati lan mami, saure kikila, sadaya kang prajurit.
(Babad Lelampahan.Durma,14:27).
Artinya :
"Aku telah bertekad bulat, tidak ada pilihan lain mati atau mukti, kalian prajuritku semua, jika kalian semua cinta kepadaku, marilah kita bersama bertempur mati-matian sampai titik darah penghabisan, andai kata aku gugur bersama, gugur di haribaan ALLAH, segenap prajurit menyatakan kesanggupannya)."
Pangeran Sambernyawa berkata kepada prajuritnya :
ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦿꦶꦁꦏꦁꦲꦧ꧀ꦢꦶꦏꦮꦤ꧀ꦢꦱ꧈ꦱꦶꦫꦏꦧꦺꦃꦱꦸꦤ꧀ꦠꦫꦶ꧈ꦥꦪꦺꦴꦧꦉꦁꦥꦼꦗꦃꦱꦂꦠꦧꦺꦴꦕꦃꦏꦥꦼꦤ꧀ꦝꦏ꧈ꦲꦱꦿꦃꦄꦭ꧀ꦭꦃꦢꦼꦫꦃꦥꦠꦶ꧈ꦔꦩꦸꦏ꧀ꦮꦭꦤ꧀ꦢ꧈ꦥꦢꦱꦸꦤꦗꦏ꧀ꦩꦠꦶ꧉
Angandika mring kang abdi Kawandasa, sira kabeh suntari, payo bareng pejah, sarta bocah kapendhak, asrah ALLAH derah pati, ngamuk Walanda, pada sunajak mati".
(Babad Lelampahan,Durma,66:321).
Artinya :
"Berkata Pangeran Adipati Mangkunagara kepada para prajuritnya, kalian semua kuajak mati bersama dalam peperangan ini, kita akan bertempur sampai darah penghabisan, berperang melawan Belanda."
Walaupun musuh utamanya pas**an Belanda, bukan berarti bahwa pas**an tersebut tidak dibantu kekuatan lain. Sebagaimana dinyatakan dalam ”Babad Lelampahan”, Durma 43, hal 319, bahwa yang mengejar pas**an Kumpeni, beserta Patih Mataram Danureja, Raden Ronggo, tentara mancanegara, tentara Kasultanan, prajurit Jawa ,Bugis dan Bali. Gabungan pas**an inilah yang terus menerus mengejar pas**an RM. Said sampai di Hutan Sitakepyak Rembang.
Di hutan inilah RM. Said harus bertahan sekuat tenaga dari kejaran musuh- musuhnya, dan akhirnya perangpun tak terelakkan. Besarnya tentara yang mengepung RM. Said mendekati 1000 pas**an gabungan dari 200 orang tentara Kumpeni, 400 orang pas**an Bugis, sedangkan pas**an Jawa (Kasultanan) tak terhitung jumlahnya.
ꦏꦭꦶꦲꦠꦸꦱ꧀ꦮꦭꦤ꧀ꦢꦶꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦼꦮꦭ꧈ꦢꦺꦤꦺꦮꦺꦴꦁꦧꦸꦒꦶꦱ꧈ꦏꦮꦤꦠꦸꦱ꧀ꦱꦼꦢꦪ꧈ꦮꦺꦴꦁꦗꦮꦢꦠꦤ꧀ꦮꦶꦤꦶꦭꦶꦱ꧈ꦮꦢꦾꦩꦠꦫꦩ꧀ꦠꦶꦤꦶꦤ꧀ꦝꦶꦲꦤ꧀ꦔꦗꦸꦫꦶꦠ꧀꧈
Kalihatus walandinipun kewala, dene wong bugis, kawanatus sedaya, wong Jawa datan winilis, wadya Mataram tinindhihan ngajurit. (Babad Lelempahan, Durma 49;319).
Perang ini merupakan perang paling berat bagi RM Said. Pada hari pertama peperangan yang terjadi sampai tujuh kali, pas**an RM. Said dibuat kocar kacir,diibaratkan seperti disapu air bah yang maha dahsyat, semangat pas**an perangnya telah hilang, hanya RM. Said sendiri yang masih tegar menghadapi kenyataan tersebut.
Namun berkat pengalaman dan keberaniannya yang luar biasa, pada hari berikutnya RM.Said mampu membangkitkan semangat pas**annya.
Dengan kecerdikan dan keahliannya RM.Said mampu membunuh komandan pas**an perang Belanda yaitu Kapten Van der Pol. Terbunuhnya Kapten tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap konsentrasi perang pas**an Belanda, sehingga situasi tersebut dimanfaatkan oleh RM.Said, tentara Belanda dibuat tak berkutik dan akhirnya melarikan diri tunggang langgang.
ꦥꦼꦔꦒꦼꦔꦺꦏꦥꦶꦠꦤ꧀ꦢꦼꦂꦥꦺꦴꦭ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦼꦗꦃꦱꦶꦱꦤꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦠꦶ꧈ꦏꦸꦩ꧀ꦥꦼꦤꦶꦭꦸꦩꦗꦂ꧈ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁꦥꦁꦫꦤ꧀ꦢꦶꦥꦠꦾ꧈ꦲꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦥꦶꦠꦸꦭꦸꦔꦤ꧀ꦮꦶꦝꦶ꧈ꦱꦧꦭꦤꦶꦫ꧈ꦢꦠꦤ꧀ꦧꦸꦗꦸꦁꦲꦶꦁꦗꦸꦫꦶꦠ꧀
”Pengagenge Kapitan Derpol wus pejah, sisane ingkang mati, kumpeni lumajar, Kanjeng Pangran Dipatya, antuk pitulungan Widhi, sabalanira, datan bujung ing jurit”
(Babad Lelempahan, Durma 73;21),
Pimpinan detasemen Kapten Van der Pol tewas, sisa tentaranya lari tunggang langgang, hanya karena pertolongan Allah sajalah Pangeran Adipati, dapat memenangkan pertempuran, sebaliknya musuh yang lari menyelamatkan diri tidak dikejarnya.
Dalam peperangan tersebut, korban dipihak Belanda yang tewas 85 orang , sedang
prajurit R.M. Said 15 orang. Kepala Kapten Van der Pol dipenggal dan dijinjing dengan
tangan kiri kemudian diserahkan kepada mbok ajeng Wiyah, garwa ampil RM. Said,
sebagai pelunasan janji RM. Said kepadanya.
Jumlah prajurit RM Said yang tewas barangkali kecil dibanding jumlah tentara Kumpeni. Namun jumlah tersebut dalam ukuran tentara RM.Said yang relatif kecil, adalah jumlah yang besar. Karenanya, peperangan tersebut merupakan peperangan yang paling berat baginya. Dibandingkan dengan perang di desa Kasatriyan, Ponorogo, yang ketika itu pas**an RM.Said mampu menewaskan 600 orang musuh dan korban di pihak sendiri hanya 3 orang termasuk punggawa baku yang bernama Jayaprameya.
Namun demikian, hasil rampasan dari perang Sitakepyak cukup besar, diantaranya sejumlah besar peluru dan mesiu, 120 ekor kuda, 140 pedang, 80 karabin kecil, 130 pistol, 80 karabin panjang, dan perlengkapan perang lainnya. Semuanya dihibahkan kepada parajuritnya (BL, Durma, 77-80:322).