02/06/2026
| ​Membangun Industri Sepak Bola yang Sehat dan Kompetitif
​Pandangan tersebut berakar pada prinsip keseimbangan kompetisi (competitive balance) serta stabilitas ekonomi klub yang kerap disuarakan oleh Ferry Paulus selaku Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB). Di dalam industri olahraga modern, sebuah kompetisi sepak bola dinilai ideal secara finansial dan komersial apabila memenuhi tiga pilar utama berikut:
​1. Pembatasan Anggaran Skuat (Salary Cap)
​Demi menghindari monopoli pemain bintang oleh segelintir klub kaya yang bisa merusak peta persaingan, PT LIB memberlakukan regulasi kontrol finansial. Sebagai ilustrasi, plafon belanja pemain dipatok maksimal Rp50 miliar per klub. Kebijakan ini memaksa seluruh kontestan liga untuk lebih bijak berbelanja sesuai kapasitas kantong sekaligus menciptakan level persaingan yang lebih seimbang di lapangan.
​2. Pemerataan Hak Komersial
​Ekosistem yang sehat tidak akan membiarkan perputaran uang hanya dinikmati oleh tim-tim raksasa. Oleh karena itu, operator liga menerapkan sistem pembagian pendapatan komersial yang adil. Pendanaan ini dibagi menjadi dua skema: fixed contribution (dana subsidi bernilai sama) dan variable contribution (bonus yang disesuaikan dengan posisi klasemen serta rating tayangan televisi). Melalui metode ini, klub dengan pasar lebih kecil tetap mendapat sokongan modal untuk menjaga daya saing mereka.
​3. Standar Lisensi dan Kepatuhan Hak Pemain
​Kompetisi yang profesional mengharuskan setiap klub bersih dari masalah tunggakan gaji pemain maupun tim pelatih. Ferry Paulus menerapkan pengawasan ketat pada aspek ini; klub yang melanggar regulasi finansial akan dijatuhi sanksi tegas, mulai dari pemotongan subsidi komersial hingga penalti pengurangan poin di klasemen.
​Kesimpulan: Saat kekuatan finansial antarklub berada di level yang setara, daya tarik kompetisi otomatis melonjak. Hasil pertandingan menjadi sulit ditebak, nilai jual liga di mata sponsor meningkat, dan industri sepak bola nasional dapat tumbuh lebih mandiri.​