20/11/2020
The Minions Terus Dibayangi Rasa Penasaran Terhadap Yudta Watanabe/Hiroyuki Endo.
Kekalahan terakhir di final All England bulan maret lalu pastinya semakin membuat penasaran Kevin Sanjaya/Markus Gideon. Sebenarnya di partai puncak tersebut set penentuan Minions sudah berhasil mengendalikan permainan. Namun celaka pada saat poin krusial justru jawara edisi 2017-2018 ini tidak mampu menjaga momentum permainan.
Di saat kedua pasangan sama-sama dalam tekanan fisik dan mental justru Yudta/Endo mempercepat permainannya. Sangat berbeda dengan pola sebelumnya dimana mereka lebih banyak mengatur tempo dalam membuka pertahanan kemudia balik melakukan serangan.
Kalau melihat beberapa pertandingan mereka sebelumnya justru Minions sudah menampakkan banyak perubahan saat menghadapi ganda Jepang ini. Misalnya saat bertemu di ajang World Tour Final Guangzhou 2019.
Di sini Gideon begitu mudah masuk perangkap lawan dimana ia terlihat mengawali serangan dengan smes-smes beruntunnya. Namun jutsru semakin membuat nyaman lawan karena mereka sudah sangat siap dengan membuka pertahanannya.
Pasangan Jepang juga begitu leluasa memperhitungkan rotasi lawan dengan semakin banyak melambungkan shuttllecock ke pojok-pojok agar Kevin sendiri ikut melakukan rotasi.
Endo berusaha menjauhkan bola dari area depan karena bagimana pun mereka sangat tahu bagaimana seorang Kevin apabila berada di net itu justru menguntungkan lawan.
Tehnik dan startegi menguras stamina lawan sudah sering kita temui pada era Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong atau Mathias Boe/Carsten Mogensen. Bahkan ganda Denmark sendiri pernah membeberkan salah satu cara mengalahkan Minions adalah bertahan sekuatnya dan melambungkan bola selambat mungkin. Dan itu lumayan berhasil karena kita juga tahu kekuatan serangan baseline Gideon pun pasti ada batasannya jika terlalu mengumbar power dan stamina.
Dan di pertandingan WTF ini sentuhan area depan dari Kevin tidak maksimal mampu memberikan kejut nyata terhadap lawan. Sedangkan pada set kedua Kevin mulai menambah kecepatannya sekaligus mencegat laju bola pendek lawan agar dapat peluang melakukan serangan lebih tajam.
Namun di set ketiga kembali pasangan Jepang mengambil strategi tepat dengan mengatur tempo permainan. Membuka pertahanan memang ciri khas pasangan Yudta/Endo karena mereka merupakan salah satu ganda yang memiliki pertahanan rapat.
Selain memang stamina Gideon terkuras ia juga mendapatkan perawatan karena jari tangannya berdarah akibat gesekan dengan karpet lapangan saat menjangkau pukulan-pukulan lawan. Feel dari Kevin pun juga tidak begitu maksimal ibarat kata pasangan Indonesia sudah masuk perangkap lebih dalam untuk melakukan serangan terus menerus.
Sedangkan pasangan Jepang pertahanannya semakin solid dan berada dalam posisi nyaman sehingga Minions sering melakukan kesalahan sendiri. Jika melihat dari power dan kualitas serangan justru pasangan jepang ini masih berada di bawah Kevin/Gideon. Ini yang dinamakan strategi membuka pertahanan, menguras stamina lawan, bermain sabar dengan kombinasi pukulan taktis.
Alhasil lawan akan terus penasaran dan berusaha ingin mematikan dengan cepat.
Meskipun pasangan Jepang terkenal dengan solid dan alot justru di sini Endo bisa jadi titik lemah. Dulu dia merupakan tukang gedor saat bersama Kenichi Hayakawa namun kini bersama pemain muda yang penuh talenta justru ia lebih banyak berada di depan.
Selain itu rotasi mereka juga sangat rapi bahkan jika Yudta ada di depan tehnik pukulan pendek yang ia miliki sangat membantu untuk membuka peluang serangan bagi Endo. Sebenarnya tidak ada yang harus ditakuti dari pasangan ini misalnya dari segi power serangan. Justru mereka cerdas dengan lebih meningkatkan pola permainan, kesabaran saat akan melakukan serangan balik dan pastinya pertahanannya yang solid dan rapat.
Pemain yang pertahanannya kuat memang sebagian besar memiliki penempatan bola yang sangat baik. Namun dari sekian banyak kelebihannya justru saat menerima flick servis mereka sering tidak nyaman.
Patut kita tunggu kelanjutan pertandingan mereka di turnamen-turnamen selanjutnya. Gemesss ihhh penasaran mulu seperti DIA yang s**a jaim.